THE INSIDER TRADING

Vitri Dwi Mantik
Chapter #3

Tim HR

Hari memasuki lantai tujuh belas pada pukul tiga sore.

Kedatangannya membuat percakapan berhenti satu demi satu.

Ia berjalan melewati meja-meja kerja tanpa rombongan. Tidak ada asisten. Tidak ada petugas protokol. Hanya sebuah tablet di tangan kiri dan map hitam di tangan kanan.

Beberapa pegawai berdiri.

Hari mengangkat tangan kecil.

“Lanjutkan pekerjaan.”

Mereka duduk kembali.

Namun tidak ada yang benar-benar melanjutkan pekerjaan sampai ia melewati meja mereka.

Abiyasha menunggu di depan ruang rapat kecil. Adel, Nizar, dan Ignatius sudah berada di dalam.

Hari masuk.

Pintu ditutup.

Ia tidak duduk di kepala meja. Ia memilih kursi di samping layar, sejajar dengan yang lain.

“Saya tidak akan memberi pidato panjang,” katanya. “Kita sedang dalam kondisi buruk. Belum fatal, tetapi cukup buruk untuk memaksa kita mengambil keputusan yang tidak populer.”

Adel menyimak sambil menggenggam pena.

Ignatius duduk tegak.

Nizar bersandar sedikit, matanya tidak lepas dari Hari.

“Yang kita lakukan bukan mencari siapa yang paling mudah dibuang,” lanjut Hari. “Kita mencari struktur yang masih bisa membuat perusahaan hidup.”

“Bedanya apa bagi orang yang diberhentikan?” tanya Nizar.

Abiyasha menoleh cepat.

Hari tidak.

“Tidak banyak,” jawabnya. “Tapi bedanya besar bagi cara kita membuat keputusan.”

Nizar tampak terkejut karena mendapat jawaban langsung.

Hari melanjutkan, “Tidak ada pemecatan berdasarkan kedekatan, kebencian, rumor, atau kemudahan. Semua harus bisa dijelaskan. Semua harus punya dasar.”

Ignatius membuka map.

“Bagaimana dengan pelanggaran berat?”

“Masuk prioritas evaluasi.”

“Bahkan kalau pelakunya punya koneksi ke direksi?”

Abiyasha memandang Ignatius.

Hari justru mencondongkan tubuh sedikit.

“Terutama kalau punya koneksi ke direksi.”

Ruangan diam.

Hari mengetuk layar tabletnya.

“Abiyasha sudah membagi tugas. Saya ingin laporan awal besok pagi. Bukan daftar nama final. Peta risiko.”

Adel mengangkat tangan sedikit.

“Risiko dalam arti biaya atau fungsi?”

“Keduanya. Tambahkan dampak hukum, moral, dan operasional.”

Nizar menghela napas.

“Jadi kita diminta menghitung segala sesuatu yang tidak bisa dihitung.”

“Kau staf rekrutmen,” kata Hari. “Seharusnya kau sudah terbiasa.”

Ada senyum kecil di wajah Adel.

Ignatius tetap serius.

Hari memandang mereka satu per satu.

“Kalian bertiga dipilih karena berada cukup dekat dengan data, tetapi tidak cukup tinggi untuk terikat kepentingan politik.”

“Belum,” gumam Nizar.

Hari mendengarnya.

“Pastikan tetap begitu.”

Setelah rapat selesai, Hari menahan Abiyasha.

Adel, Nizar, dan Ignatius keluar membawa map masing-masing.

Pintu menutup.

“Menurutmu?” tanya Hari.

Abiyasha melihat ke arah pintu.

“Adel teliti. Ignas disiplin. Nizar berbahaya.”

Hari mengangkat alis.

“Berbahaya?”

“Dia melihat pola yang tidak dilihat orang lain.”

“Itu terdengar berguna.”

“Berguna dan berbahaya sering kali hanya berbeda hasil.”

Hari menyimpan tablet.

“Awasi mereka.”

“Semuanya?”

“Terutama Nizar.”

Menjelang sore, kantor mulai lebih sunyi, tetapi tidak lebih tenang.

Beberapa pegawai pulang tepat waktu, seolah berharap berada di luar gedung akan menjauhkan mereka dari daftar restrukturisasi. Sebagian lain bertahan lebih lama, takut pulang cepat terlihat tidak berdedikasi.

Di ruang kerja tim rekrutmen, Adel menyelesaikan verifikasi seratus dua puluh tiga nama.

Ignatius memeriksa tujuh belas kasus disiplin.

Nizar belum bergerak dari kursinya selama hampir dua jam.

Lihat selengkapnya