Langit Jakarta masih menyisakan warna kelabu ketika Nizar Irham memarkir mobilnya di basement PT Alam Daya Agung.
Jam di dashboard menunjukkan pukul 06.11.
Gedung belum benar-benar hidup. Petugas kebersihan baru selesai mengepel lobi. Aroma cairan pembersih bercampur dengan kopi yang baru diseduh dari kafe kecil di sudut gedung.
Nizar menekan tombol lift.
Pikirannya tidak berada di sana.
Semalaman ia hampir tidak tidur.
Bukan karena laporan restrukturisasi.
Bukan pula karena teguran halus dari Hari sehari sebelumnya.
Yang terus berputar di kepalanya hanyalah satu kata.
Pancurendang.
Kode proyek itu muncul dari metadata yang seharusnya sudah dihapus seseorang. Begitu ia mencoba menggali lebih jauh, sistem langsung menguncinya.
Kebetulan?
Nizar tidak percaya pada kebetulan yang datang tepat ketika seseorang mulai bertanya.
Lantai tujuh belas masih sepi.
Lampu-lampu ruang kerja baru menyala sebagian.
Ia meletakkan tasnya tanpa membuka komputer.
Sebaliknya, ia mengambil map tipis berisi daftar arsip eksplorasi perusahaan.
Matanya berhenti pada satu kode.
EXP-SJJ-04
Sijunjung.
Ia langsung berdiri.
"Terlalu pagi untuk bekerja?"
Suara itu membuatnya menoleh.
Adel baru saja keluar dari pantry sambil membawa dua gelas kopi.
"Kau datang lebih pagi dariku."
"Aku punya firasat."
Adel mengangkat sebelah alis.
"Sejak kapan analis HR percaya firasat?"
"Sejak log komputer mulai bicara."
Adel menyerahkan satu gelas kopi.
"Kau masih memikirkan Dandy?"
"Bukan Dandynya."
"Lalu?"
"Yang dia buka."
Adel memperhatikan wajah Nizar beberapa detik.
"Kau kelihatan seperti orang yang akan melanggar prosedur."
Nizar tersenyum tipis.
"Aku hanya mau membaca arsip."
"Itu kalimat yang sama yang biasanya dipakai orang sebelum dipanggil bagian kepatuhan."
Mereka sama-sama tertawa pelan.
Tawa yang hanya bertahan beberapa detik.
Karena keduanya tahu keadaan perusahaan tidak lagi memberi ruang untuk bercanda terlalu lama.
"Aku ke arsip."
"Sendiri?"
"Lebih cepat."
"Kalau ketahuan?"
Nizar mengangkat bahu.
"Aku cuma membaca sejarah perusahaan."
Ruang arsip berada di lantai bawah tanah.
Ruangan itu jarang dibuka.
Rak-rak logam menjulang hingga mendekati langit-langit. Ribuan map tersusun berdasarkan tahun, proyek, dan wilayah operasi.
Seorang petugas arsip tua sedang membersihkan rak ketika Nizar masuk.
"Pagi, Pak."
"Lho, Mas Nizar."
"Masih ingat saya?"
"Yang dulu sering mencari berkas rekrutmen."
Nizar tertawa kecil.
"Hari ini bukan rekrutmen."
"Kalau begitu pasti ada masalah."
"Kelihatan?"
Petugas itu hanya tersenyum.
"Orang HR datang ke ruang arsip pagi-pagi biasanya karena ada masalah."
Nizar menyerahkan daftar kode.
"Saya mau lihat arsip eksplorasi Sijunjung."
Petugas membaca pelan.
"Lama sekali itu."
"Masih ada?"
"Harusnya."