Hari tiba di kantor sebelum pukul enam pagi.
Langit di luar masih kelabu. Gedung-gedung di kejauhan belum sepenuhnya tampak. Lampu jalan masih menyala ketika ia memasuki ruang kerja sementara CHRO.
Ruangan itu sebelumnya digunakan oleh direktur SDM yang mengundurkan diri dua bulan lalu. Foto-foto keluarga telah dibawa pergi, tetapi bekasnya masih terlihat pada rak. Sebuah tanaman kecil di sudut ruangan mulai mengering karena tidak ada yang ingat menyiramnya.
Hari meletakkan map di meja.
Di atasnya sudah menunggu laporan awal dari Abiyasha.
Ia membaca halaman pertama.
Evaluasi Struktur Tenaga Kerja: Tahap Awal.
Angka-angka kembali muncul.
Jumlah pegawai.
Biaya tahunan.
Fungsi tumpang tindih.
Posisi kosong yang belum ditutup.
Kontrak yang dapat dihentikan.
Hari membalik halaman.
Di halaman ketiga, ada catatan tulisan tangan.
Tim rekrutmen menemukan anomali pada beberapa akun digital. Belum terverifikasi.
Hari berhenti membaca.
Pintu diketuk.
“Masuk.”
Abiyasha datang membawa dua cangkir kopi.
“Saya kira Anda belum sarapan.”
“Saya belum.”
“Itu bukan kopi sarapan. Itu kopi penyesalan.”
Hari menerima cangkirnya.
“Cocok untuk pagi ini.”
Abiyasha duduk.
“Laporan awalnya belum lengkap.”
“Anomali akun?”
“Nizar menemukannya.”
“Tentu saja.”
“Dia belum menyerahkan detail. Katanya sistem mengunci aksesnya.”
Hari mengangkat pandangan.
“Apakah dia mengakses sesuatu di luar kewenangan?”
“Menurut pengakuannya, tidak.”
“Menurut keyakinanmu?”
Abiyasha berpikir.
“Nizar selalu berjalan sampai ujung garis. Kadang sedikit melewatinya.”
“Panggil dia.”
“Sekarang?”
“Sekarang.”
Lima belas menit kemudian, Nizar duduk di hadapan Hari.
Ia belum sempat merapikan rambut. Kemejanya bersih, tetapi jelas dipakai terburu-buru. Di tangannya ada laptop dan sebuah penyimpanan portabel.
Abiyasha berdiri di dekat jendela.
“Apa yang kau temukan?” tanya Hari.
Nizar membuka laptop.
“Belum tentu apa-apa.”
“Saya tidak memanggilmu untuk mendengar kalimat aman.”
Nizar menampilkan log aktivitas.
“Akun staf digital senior. Dandy Silvano.”
Hari membaca nama itu.
“Masalahnya?”
“Jam akses. Perangkat. Jenis berkas.”
Nizar menunjuk beberapa baris.
“Dia membuka arsip strategi operasional di luar jam kerja dari perangkat yang tidak terdaftar.”
“Bisa jadi pekerjaan lembur.”
“Bisa.”
“Bisa jadi dukungan teknis.”
“Bisa.”
Hari menatapnya.
“Tapi kau tidak percaya.”
Nizar mengubah tampilan.
“Berkas ini.”
Hari membaca kode nama proyek.
Pancurendang.
Wajahnya tidak berubah, tetapi Abiyasha melihat jari Hari berhenti di sisi cangkir.
“Seberapa rahasia?” tanya Nizar.
Hari tidak langsung menjawab.
“Tidak terkait pekerjaan Dandy,” kata Abiyasha.
“Jadi cukup rahasia.”
“Apakah berkas diunduh?” tanya Hari.
“Jejaknya mengarah ke sana. Tapi metadata utama dihapus.”
“Siapa yang bisa menghapus?”
“Administrator tertentu.”
“Dandy?”
“Tidak dengan hak akses normal.”
Hari menyandarkan tubuh.
“Lalu?”
“Seseorang menaikkan hak aksesnya sementara. Setelah itu jejak perubahan izin dihapus.”
“Bisa dibuktikan?”
“Belum.”
“Kau bilang sistem menguncimu.”
“Ya.”
“Kapan?”
“Semalam. Setelah saya membuka metadata.”
“Kesalahan otomatis?”
“Mungkin.”
Hari menatapnya cukup lama.
Nizar menambahkan, “Atau seseorang sedang memantau.”