Hujan turun sejak dini hari.
Butiran air memukul dinding kaca Gedung PT Alam Daya Agung tanpa henti. Dari lantai tiga puluh dua, Jakarta terlihat seperti kota yang diselimuti kabut tipis. Kendaraan bergerak lambat. Lampu-lampu merah memanjang di jalan layang seperti urat nadi yang kelelahan.
Hari Sakti berdiri menghadap jendela.
Di tangannya terdapat satu map hitam.
Tidak ada logo.
Tidak ada nomor dokumen.
Hanya tulisan tangan kecil di sudut kanan atas.
RAHASIA.
Pintu diketuk dua kali.
"Masuk."
Maya Widaya masuk lebih dulu, disusul Abiyasha, Jaden Adinegara, dan Ignatius Theo.
Tidak ada seorang pun berbicara.
Hari mempersilakan mereka duduk.
Ia sendiri tetap berdiri.
"Apa yang akan kita bicarakan di ruangan ini," katanya pelan, "tidak pernah keluar dari ruangan ini."
Semua mengangguk.
Hari meletakkan map di atas meja.
"Saya akan mulai dengan satu pertanyaan."
Ia memandang mereka bergantian.
"Berapa orang yang mengetahui proyek Pancurendang sebelum diumumkan kepada publik?"
Ruangan sunyi.
Jaden membuka catatan kecilnya.
"Kurang dari sepuluh."
"Lebih tepat."
"Lima direksi."
Hari mengangguk.
"Kepala eksplorasi."
"Ya."
"Ketua Komite Investasi."
"Ya."
"Mungkin satu atau dua orang legal."
Hari tidak memberi jawaban.
Sebaliknya, ia membuka map.
Di dalamnya terdapat salinan log akses, foto buku peminjaman arsip, serta laporan sementara dari Maya.
"Kalau begitu," lanjut Hari, "mengapa seorang staf digital bernama Dandy Silvano memiliki akses terhadap seluruh informasi itu?"
Tidak seorang pun menjawab.
Pertanyaan itu memang tidak ditujukan untuk dijawab.
Maya mengambil alih penjelasan.
"Selama empat puluh delapan jam terakhir kami memeriksa log server."
Ia menampilkan layar di monitor.
Grafik akses memenuhi ruangan.
"Terdapat dua puluh tiga aktivitas yang tidak sesuai pola."
"Semuanya dilakukan Dandy?" tanya Jaden.
"Tidak."
"Berapa?"
"Sebelas."
"Lalu sisanya?"
Maya memperbesar grafik.
"Akun lain."
"Siapa?"
"Itulah masalahnya."
Nama pengguna telah dihapus.
Yang tersisa hanya nomor identifikasi internal.
Seolah seseorang sengaja menghilangkan identitas pemilik akun.
Ignatius mengangkat kepala.
"Itu bisa dilakukan?"
"Bisa."
"Oleh administrator?"
"Atau seseorang yang memperoleh hak administrator."
Hari menyilangkan tangan.
"Artinya kita tidak hanya menghadapi pencurian data."
Maya mengangguk.
"Seseorang juga memanipulasi sistem."
Abiyasha membuka map lain.
"Saya memeriksa riwayat personalia Dandy."
"Bagaimana?"
"Tidak ada pelanggaran berat."
"Benarkah?"
Ignatius langsung menyela.
"Belum tentu."
Semua mata beralih kepadanya.
Ignatius membuka buku catatan yang selalu ia bawa.
"Dua tahun lalu saya pernah menerima laporan."
"Laporan apa?"
"Pelanggaran etika."
Hari memperhatikannya.
"Kenapa tidak masuk sistem?"
"Karena korban tidak bersedia membuat laporan resmi."
"Korbannya siapa?"