THE INSIDER TRADING

Vitri Dwi Mantik
Chapter #8

Temuan Ignatius

Pukul sembilan pagi.

Ruang rapat kecil di lantai tujuh belas kembali dipenuhi map abu-abu.

Di luar ruangan, aktivitas kantor berlangsung seperti biasa. Telepon berdering. Mesin fotokopi bekerja tanpa henti. Para pegawai berjalan membawa laptop dan berkas seolah perusahaan hanya sedang melewati minggu yang sibuk.

Namun di balik pintu ruang rapat itu, keputusan-keputusan yang akan mengubah hidup seseorang mulai dibuat.

Hari Sakti membuka rapat tanpa basa-basi.

"Berapa nama yang masuk evaluasi akhir?"

Abiyasha membuka daftar di depannya.

"Dua puluh tiga."

"Prioritas?"

"Delapan."

"Risiko tinggi?"

"Tiga."

Hari mengangguk.

"Sebutkan."

Abiyasha membaca perlahan.

"Divisi Operasional."

"Divisi Keuangan."

"Dan..."

Ia berhenti sejenak.

"Digital."

Hari mengangkat pandangan.

"Siapa?"

Abiyasha mendorong satu map ke tengah meja.

"Dandy Silvano."

Ruangan mendadak sunyi.


Hari membuka map tersebut.

Nama Dandy sudah dikenalnya.

Namun kali ini isi map jauh lebih tebal daripada berkas pegawai lain.

Masa kerja.

Enam belas tahun.

Penilaian kinerja.

Baik.

Keahlian teknis.

Sangat baik.

Riwayat pelatihan.

Lengkap.

Hari menutup halaman pertama.

"Kalau hanya melihat data ini, dia tidak layak diberhentikan."

Ignatius yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.

"Karena data itu tidak menceritakan semuanya."

Hari memandangnya.

"Apa maksudmu?"

Ignatius membuka map hitam miliknya sendiri.

"Saya menyimpan beberapa catatan yang tidak pernah masuk ke sistem."

"Kenapa?"

"Karena waktu itu dianggap selesai."

"Sekarang?"

"Sekarang saya tidak yakin itu pernah benar-benar selesai."


Semua perhatian tertuju kepada Ignatius.

Ia bukan tipe orang yang mudah membesar-besarkan sesuatu.

Kalau ia memutuskan berbicara, biasanya karena ia sudah mempertimbangkannya berkali-kali.

"Dua tahun lalu," katanya pelan, "saya menerima laporan dari petugas kebersihan lantai sembilan belas."

Abiyasha mengernyit.

"Laporan apa?"

"Ada seseorang yang menggunakan ruang kerja kosong setelah jam kantor."

Hari tetap diam.

Ignatius melanjutkan.

"Saya datang bersama petugas keamanan."

Ruangan menjadi semakin tenang.

"Saat pintu dibuka..."

Ia berhenti sesaat.

"...kami memergoki Dandy sedang melakukan tindakan seksual yang tidak pantas di ruang kerja perusahaan."

Tidak ada yang memotong.

Tidak ada yang bereaksi berlebihan.

Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar.

"Saat itu tidak ada orang lain di dalam ruangan?"

"Tidak."

"Ada unsur pidana?"

"Tidak."

"Lalu?"

"Kami memprosesnya sebagai pelanggaran disiplin berat."

Hari membuka kembali map Dandy.

Lihat selengkapnya