Langit Jakarta tampak cerah.
Namun suasana di lantai tujuh belas jauh dari kata tenang.
Sejak pukul delapan pagi, ruang rapat Human Resources telah dipenuhi map, dokumen hukum, dan salinan laporan forensik digital. Tidak ada lagi ruang untuk dugaan. Seluruh keputusan yang akan diambil hari itu harus berdiri di atas bukti.
Hari Sakti memasuki ruangan tepat pukul delapan tiga puluh.
Abiyasha sudah menunggu bersama Maya Widaya, Jaden Adinegara dari Divisi Kepatuhan, serta dua staf Legal yang bertugas memastikan seluruh proses sesuai dengan ketentuan ketenagakerjaan.
Tidak ada secangkir kopi.
Tidak ada percakapan ringan.
Hari membuka map hitam yang sejak beberapa hari terakhir selalu menemaninya.
"Kita mulai."
Jaden berdiri.
"Laporan kepatuhan selesai."
Ia meletakkan dokumen setebal hampir lima puluh halaman di tengah meja.
"Dari hasil pemeriksaan, Saudara Dandy Silvano terbukti melakukan penyalahgunaan fasilitas perusahaan untuk kepentingan pribadi."
Ia membalik halaman.
"Yang pertama, penggunaan komputer perusahaan untuk aktivitas yang melanggar kode etik."
Halaman berikutnya.
"Yang kedua, penyimpanan materi hasil manipulasi digital yang menggunakan identitas orang lain tanpa izin."
Jaden tidak menjelaskan lebih jauh.
Semua orang di ruangan itu telah membaca hasil pemeriksaannya.
Tidak perlu mengulang rincian yang sama.
"Yang ketiga," lanjutnya, "upaya menyembunyikan berkas melalui folder tersembunyi dan penghapusan riwayat aktivitas."
Hari menyilangkan tangan.
"Apakah seluruh temuan ini dapat dipertanggungjawabkan?"
"Dapat."
"Prosedur penyitaan perangkat?"
"Sesuai SOP."
"Pemeriksaan forensik?"
"Sudah dibuatkan berita acara."
Hari mengangguk pelan.
"Lanjut."
Abiyasha membuka dokumen berikutnya.
"Divisi Human Resources merekomendasikan pemutusan hubungan kerja dengan alasan pelanggaran berat terhadap kode etik perusahaan."
Hari membaca rekomendasi itu dengan tenang.
Selama bertahun-tahun ia telah menandatangani puluhan keputusan disiplin.
Namun setiap tanda tangan tetap terasa berat.
Bukan karena ia ragu.
Melainkan karena setiap keputusan selalu mengubah hidup seseorang.
"Apakah ada keberatan?" tanya Hari.
Tidak ada yang berbicara.
Maya hanya menggeleng pelan.
Ignatius, yang duduk di sisi ruangan, menatap lurus ke depan.
Ia telah mengenal Dandy lebih dari sepuluh tahun.
Tidak pernah terbayang bahwa rekan kerja yang selama ini terlihat pendiam menyimpan begitu banyak sisi gelap.
Hari menutup map.
"Baik."
Ia mengambil pena.
"Dengan mempertimbangkan seluruh bukti, saya menyetujui rekomendasi ini."
Suara pena menyentuh kertas terdengar jelas di ruangan yang sunyi.
Satu tanda tangan.
Kemudian disusul tanda tangan Abiyasha.
Jaden.
Legal.
Keputusan itu resmi berlaku.
Dandy Silvano diberhentikan dari PT Alam Daya Agung.
Pukul sepuluh lewat lima belas menit.
Dandy dipanggil ke ruang Human Resources.
Ia masuk dengan wajah yang sulit ditebak.
Tidak panik.
Tidak marah.
Hanya tampak lelah.
"Silakan duduk," kata Abiyasha.
Dandy memandang seluruh orang yang berada di ruangan.
Hari.
Abiyasha.
Jaden.
Seorang staf Legal.
Dan Maya.
Tatapannya berhenti beberapa detik pada Maya.
"Kalian ramai sekali."
Tidak ada yang menanggapi.
Abiyasha menyerahkan sebuah map.
"Dandy Silvano."
Ia berbicara dengan suara datar.
"Berdasarkan hasil pemeriksaan internal, perusahaan memutuskan mengakhiri hubungan kerja Saudara efektif hari ini."
Dandy membuka map itu perlahan.
Ia membaca setiap halaman.
Tidak terburu-buru.
Sesekali sudut bibirnya bergerak tipis.