The King Of Magician

Radya
Chapter #5

Rival

"Seluruh murid baru harap segera berkumpul di lapangan utama Akademi Darkspire!"

Suara pengumuman menggema ke seluruh penjuru akademi.Bunyi lonceng raksasa terdengar tiga kali, membuat seluruh murid baru bergegas meninggalkan asrama mereka.

Draven yang baru selesai merapikan seragamnya keluar dari kamar. Di luar, Lio sudah menunggu sambil melambaikan tangan.

"Draven! Cepat, kita hampir terlambat."

Draven tersenyum kecil.

"Ayo."

Keduanya berjalan melewati lorong asrama yang dipenuhi murid baru. Di sepanjang perjalanan, Draven terus memperhatikan bangunan Akademi Darkspire.

Akademi itu jauh lebih megah daripada Magic Tower Ungu. Dindingnya terbuat dari batu hitam yang dipadukan dengan ukiran emas. Di halaman berdiri patung-patung penyihir legendaris yang pernah menyelamatkan Kerajaan Zytherion dari serangan iblis.

"Hebat sekali...," kata Draven.

Lio tertawa kecil.

"Wajar kalau kau terkejut. Akademi Darkspire adalah akademi terbaik di seluruh kerajaan. Hampir semua penyihir hebat pernah belajar di sini."

Tak lama kemudian, mereka tiba di lapangan utama.

Ribuan murid telah berbaris dengan rapi.

Di atas panggung berdiri para guru, instruktur, dan kepala akademi.

Seorang pria tua berjubah hitam melangkah ke depan. Rambut putihnya sepanjang bahu, sementara tongkat sihir berhiaskan kristal biru berada di tangannya.

"Aku, Aldric, Kepala Akademi Darkspire, mengucapkan selamat datang kepada seluruh murid baru."

Suaranya tenang, tetapi mampu terdengar hingga ke seluruh lapangan.

"Mulai hari ini, kalian bukan lagi anak-anak yang hanya bermimpi menjadi penyihir."

"Kalian telah menjadi murid Akademi Darkspire."

"Namun, jangan salah paham."

"Masuk ke akademi bukan berarti kalian telah menjadi penyihir hebat."

"Di sini, hanya mereka yang bekerja keras dan terus berkembang yang akan bertahan."

Suasana lapangan menjadi hening.

"Besok pagi akan diadakan Ujian Penempatan."

"Melalui ujian itu, kami akan menilai kemampuan kalian dan menentukan kelas yang sesuai."

"Buktikan kemampuan kalian."

Setelah selesai berbicara, Kepala Akademi melangkah mundur dan menghilang dari pandangan para murid.

Para guru mulai meninggalkan panggung.

Sementara itu, para murid baru mulai saling berbincang.

"Besok sudah ujian?"

"Aku bahkan belum sempat berlatih."

"Katanya ada yang langsung gugur kalau nilainya buruk."

Lio menepuk bahu Draven.

"Tenang saja. Kau pasti lolos."

Draven tersenyum.

"Aku hanya ingin memberikan yang terbaik."

Mereka pun meninggalkan lapangan.

Di tengah perjalanan, Draven melihat berbagai fasilitas akademi.

Ada arena duel, perpustakaan sihir, ruang alkimia, hingga menara latihan yang menjulang tinggi ke langit.

"Aku ingin mencoba semua tempat ini."

Lio tertawa.

"Kita punya waktu bertahun-tahun di sini."

Saat mereka sedang berbincang, langkah Lio tiba-tiba terhenti.

Wajahnya langsung berubah tegang dan ia pun menundukan kepalanya.

Draven menyadari perubahan itu.

"Lio?"

Lio tidak menjawab.

Draven pun melihat kedepan.

Seorang pemuda berambut merah sedang berjalan menuju mereka.

Ia mengenakan jubah akademi berwarna putih dengan garis emas. Di dadanya terpasang lambang Magic Tower Emas, simbol yang hanya dimiliki murid dari menara sihir paling bergengsi di kerajaan.

Di belakangnya berjalan empat murid senior.

Mereka tertawa sambil mengobrol.

Namun, saat melihat Lio, senyum mereka berubah menjadi seringai.

"Hei..."

Pemuda itu berhenti tepat di depan Lio.

"Bukankah ini Lio?"

Lio menelan ludah.

"...Kael."

Mendengar nama itu, beberapa murid yang lewat langsung berhenti.

"Itu Kael Ignis."

"Senior tahun ketiga."

"Penyihir empat bintang."

"Jangan membuat masalah dengannya."

Bisikan terdengar dari segala arah.

Kael memandang Lio dari atas hingga bawah.

"Kau masih bertahan di akademi?"

"Aku kira setelah kekalahanmu dalam latihan bulan lalu, kau akan menyerah."

Teman-temannya tertawa.

"Sampah memang keras kepala."

"Kalau aku jadi dia, pasti sudah keluar dari akademi."

Lio mengepalkan kedua tangannya.

Namun, ia tetap diam.

Kael melangkah semakin dekat.

"Lio."

"Aku pernah bilang, bukan?"

Lihat selengkapnya