The King Of Magician

Radya
Chapter #6

Ujian

Sinar matahari pagi mulai menyinari Akademi Darkspire.

Udara yang sejuk membuat suasana akademi terasa tenang. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Ding...! Ding...! Ding...!

Lonceng akademi berbunyi nyaring.

"Seluruh murid baru harap segera berkumpul di Arena Sihir. Ujian Penempatan akan segera dimulai."

Draven yang telah mengenakan seragam akademinya membuka jendela kamar.

"Hari ini akhirnya tiba."

Di ranjang sebelah, Lio baru saja bangun.

"Aku bahkan hampir tidak bisa tidur semalaman."

Draven tertawa kecil.

"Gugup?"

Lio mengangguk.

"Tentu saja. Ujian ini menentukan kelas kita."

Draven mengambil tongkat sihirnya.

"Kalau begitu, kita harus memberikan yang terbaik."

Keduanya keluar dari asrama dan berjalan menuju Arena ujian.

Sepanjang perjalanan, mereka melihat murid-murid baru yang gugup.

Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah arena raksasa berbentuk lingkaran.Dengan para mage yang berjejer disampingnya.

Di tengah arena berdiri sebuah panggung batu.

Sementara itu, tribun di sekeliling arena telah dipenuhi para guru dan murid senior.

Di barisan paling depan berdiri Kepala Akademi Aldric.

Di sampingnya terdapat beberapa penyihir hebat dari berbagai Magic Tower.

Draven bahkan melihat Kael Ignis berdiri bersama para senior lainnya.

Kael juga menyadari kehadiran Draven.

Ia tersenyum tipis sebelum mengalihkan pandangannya.

"Perhatian!"

Suara Aldric menggema ke seluruh arena.

"Sebelum kalian resmi menjadi murid Akademi Darkspire, kalian harus membuktikan kemampuan kalian."

"Ujian hari ini terdiri atas tiga tahap."

"Pertama, Tes Pengendalian Mana."

"Kedua, Demonstrasi Sihir."

"Dan yang terakhir..."

Aldric berhenti sejenak.

"...Ujian Tempur."

Seluruh arena langsung dipenuhi bisikan.

"Bertarung?"

"Di hari pertama?"

"Aku belum siap."

Aldric mengangkat tangannya hingga suasana kembali hening.

"Jangan khawatir."

"Kalian tidak akan bertarung melawan senior."

"Kalian hanya akan menghadapi lawan yang memiliki kemampuan setara."

Mendengar penjelasan itu, sebagian murid menghela napas lega.

"Baiklah."

"Ayo kita mulai."

Seorang guru membawa sebuah kristal kuno ke tengah arena.

"Tes pertama dimulai."

"Silakan peserta nomor satu maju."

Seorang anak laki-laki berambut cokelat melangkah dengan gugup.

Ia meletakkan tangannya di atas kristal itu.

Perlahan, cahaya hijau mulai menyala dari dalam Kristal.

"Pengendalian mana... cukup."

Guru itu mencatat hasilnya.

Peserta berikutnya mulai dipanggil satu per satu.

Ada yang berhasil dengan baik.

Ada pula yang gagal mengendalikan mananya hingga kristal kehilangan cahaya.

Suasana arena semakin menegangkan.

Tak lama kemudian...

"Peserta nomor tujuh belas."

"Draven."

Draven menarik napas dalam-dalam.

"Giliranmu," ucap Lio sambil tersenyum.

Draven mengangguk.

Ia melangkah menuju tengah arena.

Ratusan pasang mata kini tertuju kepadanya.

Di tribun atas, Kael menyilangkan kedua tangannya.

"Perlihatkan padaku kemampuanmu... murid Valthera."

Draven berhenti tepat di depan kristal.

Ia perlahan mengangkat tangan kanannya.

Lalu...

Tangannya menyentuh permukaan kristal.

Lihat selengkapnya