The Last Author

Stalingrad
Chapter #2

⟻⟻⟻ Ch. 2 ⟼⟼⟼

Mobil melaju pelan di atas aspal basah. Hujan masih gerimis, menempel di kaca seperti lapisan tipis air yang tidak mau pergi.

Basori duduk di kursi depan dengan tangan bersilang, rahangnya mengeras. Dia tidak tahan. Tidak tahan dengan kehadiran Riska di belakang. Tidak tahan dengan cara Kadir berbicara padanya seolah dia manusia normal. Tidak tahan dengan semuanya.

"Kamu berani bohong!"

Suaranya pecah, memenuhi ruang mobil yang sempit.

"Cukup, Basori!"

Kadir memotong dengan nada tajam. Tangannya mencengkeram setir lebih erat. Ini sudah terlalu sering terjadi. Sejak Riska pulang, rumah tidak pernah tenang.

"Kamu bukan anak kecil! Jika bicara yang sopan bisa tidak? Dia itu kakakmu!"

Wajah Basori semakin merah. Kepalanya berdenyut, matanya hampir gelap karena marah. Tapi mulutnya tidak mau berhenti.

"Dia tidak pantas menjadi kakakku! Satu-satunya kakak yang aku akui hanya Clarissa!"

Bagi Basori, Kadir selalu membela Riska. Padahal jelas-jelas Riska yang salah. Hanya karena Kadir yang memegang kendali—bisa membekukan akunnya atau memutus kontraknya kapan saja—dia tidak berani melawan balik. Tangannya mengepal, gemetar menahan amarah yang tidak punya saluran keluar.

"Aku mau turun! Sekarang!"

Saat itulah Riska melihatnya.

Kabut hitam tipis mengepul dari tubuh Basori. Gerakannya pelan, tapi seperti punya kemauan sendiri. Seperti asap yang tahu ke mana dia ingin pergi. Meliuk di udara, membentuk pola yang tidak masuk akal, lalu menempel kembali di kulitnya seolah mencari tempat yang paling nyaman untuk bersarang.

Matanya menyipit. Bukan takut. Hanya mengamati.

Suara di kepalanya muncul lagi, kali ini nadanya tegang.

"Kabut hitam yang keluar dari tubuhnya... itu hanya ada di Dunia Escape Game. Mengapa bisa muncul di sini?"

Riska tidak menjawab dengan suara. Cukup di dalam hati.

"Belum tahu. Lihat dulu saja."

Riska hanya mengamati kabut itu tanpa berkedip. Mungkin... ada cara yang lebih cepat daripada sekadar menulis.

Kadir terus menyetir, berpura-pura tidak mendengar pertengkaran di belakang.

"Jika tidak minggir aku lompat sekarang juga!" ancam Basori, tangannya sudah menggenggam gagang pintu.

Kadir menahan napas sebentar, lalu membanting setir ke tepi jalan yang sepi. Ban mobil mendecit pelan di aspal basah.

"Oke. Jika mau berjalan kaki, silakan."

Nadanya berubah dingin. Basori langsung meloncat keluar, membanting pintu mobil sampai bodinya berguncang. Dia pergi tanpa menoleh, langkahnya terburu-buru di trotoar yang masih basah.

Kabut hitam itu masih menempel, melingkar di lengannya seperti bayangan hidup yang tidak mau lepas.

Lihat selengkapnya