The Last Author

Stalingrad
Chapter #6

⟻⟻⟻ Ch. 6 ⟼⟼⟼

Riska tidak melayani sindiran Basori.

Satu kalimat pendek, tajam, cukup untuk menutup mulutnya. Setelah itu dia berbalik dan naik ke lantai atas.

Di kamar, dia membuka laptop. Tidak ada jeda. Jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard sampai enam ribu kata selesai. Begitu bab itu diterbitkan, jumlahnya sudah memenuhi syarat untuk mengajukan kontrak eksklusif. Tanpa berpikir panjang, dia mengisi formulir dan menekan kirim.

Keesokan harinya, novel itu muncul di daftar Rilis Terbaru Pustaka Nusantara.

Di waktu yang sama, gosip lain ikut naik. Basori, penggemar berat Clarissa yang terkenal fanatik, mengganggu penulis baru. Cerita itu menyebar cepat di antara pembaca. Rasa penasaran membuat mereka mampir ke halaman novel Riska.

Awalnya hanya mampir. Lama-kelamaan mereka terus membaca

EsTehManis: Baru kali ini baca POV orang pertama. Awalnya aneh, lama-lama masuk juga.

CariCowokBaik: Jadi tokoh utamanya cowok baik atau bukan?

EmakKomplek: Bahasanya masih sederhana, tapi idenya bikin penasaran.

SiKuraKura: Kasihan penulisnya diganggu penggemar gila.

Angkanya bergerak. Pelan, tapi naik.


⟻⟻⟻⟼⟼⟼


Di kamar sebelah, Basori membuka halaman yang sama.

Melihat kolom komentar masih sepi, dia menghela napas lega. Komentar yang memakinya bodoh dia lewati begitu saja.

Kan, orang-orang juga tahu tulisan ini jelek.

Tangannya gatal ingin menulis sesuatu. Baru beberapa kata, dia ingat akunnya masih dibekukan.

Dia mencoba mengakali. Membuat akun baru dengan data yang sama.

LeleNgamuk: Sampah!

Layarnya langsung merah.

[Sistem mendeteksi upaya menghindari hukuman. Dilarang mengirim pesan berulang.]

Rahang Basori mengeras.

Dia membuka daftar kontak. Mengirim tautan novel Riska ke beberapa teman yang juga suka baca novel.

"Novel ini jelek banget. Ayo bantu banjiri kolom komentarnya. Bilang saja, 'Tulisanmu benar-benar sampah.'"

Belum puas. Dia meneruskan tautan yang sama ke Clarissa, dengan pesan panjang. Isinya setengah menghina Riska, setengah memuji Clarissa setinggi langit. Menurutnya, Riska menulis hanya akan mempermalukan diri sendiri.

Setelah itu, dia melempar ponselnya ke atas kasur.

Saat itulah notifikasi berita muncul di atas layar.

Lihat selengkapnya