The Last Destination

Firsty Elsa
Chapter #1

Mahawira dan Humaira

Lampu putih lorong rumah sakit masih menyala tanpa jeda, langkah kaki tergesa, dan suara roda brankar yang sesekali berderit pelan di lantai. Beberapa keluarga pasien duduk berjajar di kursi tunggu, sebagian terdiam dengan wajah lelah, sebagian lagi berbisik pelan, seolah takut mengganggu harapan yang mereka gantungkan di ruangan-ruangan tertutup itu.

Rumah sakit umum daerah memang tidak pernah benar-benar sepi.

Di Instalasi Gawat Darurat, ritmenya sedikit berbeda. Tidak seramai siang hari, tetapi juga tidak pernah benar-benar tenang. Aroma antiseptik bercampur dengan udara dingin dari pendingin ruangan. Monitor detak jantung berbunyi ritmis di beberapa bilik, sementara perawat berlalu-lalang dengan langkah cepat.

Di salah satu meja tengah, seorang perempuan dengan rambut hitam panjang terikat rapi di bawah bahu tengah menunduk, fokus membaca lembar demi lembar rekam medis di tangannya. Sesekali alisnya berkerut tipis, lalu jari-jarinya bergerak mencatat sesuatu dengan cepat.

Anasera Mihra Humaira.

Usianya dua puluh empat tahun. Baru saja menyelesaikan masa internship dan, seolah tanpa jeda, langsung ditempatkan di salah satu RSUD di Jakarta. Baru satu bulan di sini, tapi namanya sudah cukup sering disebut—bukan karena sensasi, tapi karena caranya memperlakukan pasien. Malam ini, seharusnya bukan jadwalnya berjaga di IGD. Tapi ia menggantikan salah satu dokter senior yang sedang cuti—honeymoon.  

“Dokter An…” Sebuah suara memanggilnya pelan namun cukup tegas untuk menarik perhatiannya.

Anasera mengangkat wajah. Seorang perawat berdiri di depannya, napasnya sedikit terengah seperti baru saja berjalan cepat. “Iya, Mbak?”

“Ada pasien baru masuk, dok. Laki-laki, sekitar lima puluh tahun. Keluhannya sesak napas sejak sore, riwayat hipertensi sama diabetes juga ada. Tadi sempat pingsan di rumah.”

Anasera langsung berdiri. Tangannya sigap meraih stetoskop yang sejak tadi menggantung di lehernya. “Dokter Rizky belum selesai ya?” tanyanya sambil mulai melangkah.

“Masih di bilik tiga, dok. Lagi handle pasien kecelakaan. Lumayan berat.”

Anasera mengangguk paham. Tanpa banyak tanya, ia sudah mengambil alih situasi. “Oke, saya yang ke sana.” Langkahnya cepat, tapi tidak terburu-buru.

Baru beberapa langkah, ia berhenti sejenak dan menoleh kembali ke arah perawat tadi. “Mbak Riri, saya minta tolong follow up ke Dokter Dian di ruang Rafflesia, pasien kamar 07. Minta kirim rekam medis terbarunya ke email saya, ya.”

“Baik, dok.” Perawat itu mengangguk cepat sebelum berbalik pergi. Anasera melanjutkan langkahnya menuju area triase.

***

Sekitar pukul sebelas lewat sedikit, waktu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya. Anasera baru saja meneguk seteguk air mineral ketika pintu IGD terbuka dengan keras.

“Dok! Pasien serangan jantung!” Suara itu langsung memecah udara. 

Seorang pria paruh baya didorong dengan cepat di atas brankar. Wajahnya pucat, napasnya tersengal, satu tangan mencengkeram dada seolah berusaha menahan sesuatu yang tak terlihat. Dalam hitungan detik, suasana berubah. Semua bergerak ke bagiannya masing-masing.

“Bilik satu kosongin!” teriak salah satu perawat. Anasera dan Rizky yang tadi sempat berdiri di dekat meja langsung saling bertukar pandang singkat. Mereka sudah tahu perannya masing-masing.

Lihat selengkapnya