Masih lama, An?
Satu notifikasi muncul di layar ponsel Anasera.
Gadis itu baru saja keluar dari ruang VIP Rafflesia, berjalan berdampingan dengan Dokter Dian. Langkahnya sedikit lebih lambat dari biasanya, bukan karena lelah, tapi karena pikirannya masih tertinggal di dalam ruangan. Shift-nya sebenarnya sudah selesai sejak tiga puluh menit yang lalu. Tapi seperti biasa, Anasera tidak pernah benar-benar pulang tepat waktu, selalu ada yang ingin ia pastikan lebih dulu.
“Dokter An pulang sendiri?” tanya Dokter Dian di sampingnya, memecah jeda.
Anasera menoleh, lalu tersenyum kecil. “Ah iya, Dok. Tempat tinggal saya nggak jauh dari sini.”
“Ah, begitu. Baiklah.” Dokter Dian mengangguk. “Hati-hati ya, Dokter. Saya duluan. Terima kasih hari ini.”
“Iya, Dok. Terima kasih juga,” balas Anasera ramah.
Mereka berpisah di ujung koridor. Langkah Anasera berlanjut menuju lobi utama gedung VIP. Begitu pintu otomatis terbuka, udara malam langsung menyambutnya. Dan di sana sebuah mobil hitam terparkir tidak jauh dari pintu masuk. Honda HR-V keluaran terbaru, dengan warna hitam mengilap yang bahkan di bawah lampu redup tetap terlihat elegan. Plat nomornya, ah Anasera hafal di luar kepala.
Pintu kemudi terbuka. Seorang laki-laki keluar dari dalamnya. Postur tinggi tegapnya menyapa. Bahu lebarnya terlihat berdiri dengan cara yang seolah tidak pernah ragu pada dunia. Kemeja putihnya kusut, dua kancing teratas terbuka, memperlihatkan sedikit bagian dadanya. Rambutnya berantakan, tapi justru membuatnya terlihat… terlalu indah untuk diabaikan.
Tapi tetap memikat dengan cara yang menyebalkan.
Anasera berhenti beberapa langkah di depannya, menatap sekilas, lalu menggeleng kecil dengan senyum tipis. “Malam, Cil,” ucap Gilang santai, tangannya terangkat mengacak pelan puncak kepala Anasera. “Gimana hari ini?”
“So far… masih terkendali lah,” jawab Anasera. Refleks, tangannya naik ke arah dada Gilang—menepuk pelan bagian kemeja yang terbuka, seolah ingin menutupnya, meski tidak benar-benar melakukannya.
“Pamer lo begitu?” lanjutnya datar, tapi ada nada yang terlalu akrab untuk disebut biasa.
Gilang menunduk sedikit, melirik ke arah bajunya sendiri, lalu kembali menatap Anasera dengan satu alis terangkat. “Baru lo yang liat.”
Anasera mendengus pelan, memutar bola matanya.
“Capek ya?” tanya Gilang kemudian, nadanya berubah sedikit lebih rendah.
Anasera tidak langsung menjawab. Tapi dari cara bahunya turun sedikit, dari cara napasnya keluar lebih panjang, jawabannya sudah cukup jelas. Gilang tidak menunggu kata-kata. “Makan yuk?” tanyanya lagi.
Anasera terdiam sepersekian detik. “Sate Mang Ujo ya?”
Gilang mengangguk, lalu mengantarkan gadis itu untuk masuk ke kursi samping kemudi. Mesin mobil menyala halus. Lampu depan menembus gelap malam saat kendaraan itu perlahan keluar dari area rumah sakit.
***
Pagi itu datang tanpa banyak suara, hanya cahaya matahari yang menyelinap lewat celah tirai dan jatuh pelan di lantai apartemen. Di dapur kecil yang menyatu dengan ruang utama, seseorang sudah lebih dulu berada di sana.
Gilang berdiri di depan kompor, mengenakan kaos polos abu-abu dan celana pendek hitam. Rambutnya masih basah, tetesan air sesekali jatuh ke lehernya, tapi ia tidak peduli. Tangannya sibuk, satu memegang spatula, satu lagi mengatur api, sementara aroma makanan mulai memenuhi ruangan.
Di kamarnya, Anasera menghela napas panjang, lalu bangkit dengan malas. Rambutnya berantakan, wajahnya masih menyimpan jejak tidur. Ia membuka pintu kamar tanpa benar-benar sadar sepenuhnya. Langkahnya menyeret pelan menuju dapur. Dan di sana ia berhenti. Menatap punggung seseorang yang terlalu familiar.
“Lo ngapain anjir jam segini di dapur gue?” suaranya serak, khas orang baru bangun tidur. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung menarik kursi pantry dan duduk, menyandarkan tubuhnya dengan malas.
Gilang bahkan tidak menoleh. “Buta lo? Udah tau gue lagi masak juga,” balasnya santai.
Anasera mendengus pelan, lalu meraih gelas di meja. Ia menuangkan air, meminumnya setengah tanpa jeda. “Mas,” katanya kemudian, masih dengan nada setengah sadar, “lo nggak lupa kan kalau hari ini Sabtu? Harusnya lo tuh tidur menikmati weekend lo.”