Bangunan galeri itu dipenuhi aroma kayu tua dan pendingin ruangan yang samar. Langkah kaki para pengunjung terdengar pelan di antara ruangan-ruangan pameran yang dipenuhi lukisan, instalasi suara, foto arsip, hingga potongan surat kabar zaman Batavia lama. Di dalam sana, Anasera benar-benar berubah. Ini adalah versi dirinya yang paling tenang. Gilang memperhatikan itu sejak lima belas menit pertama mereka masuk. Biasanya, kalau pergi bersama, Anasera akan cerewet meminta difoto atau minimal sibuk mencari sudut bagus untuk mengabadikan dirinya sendiri.
Tapi kali ini tidak. Ia justru berjalan pelan dari satu karya ke karya lain. Membaca tiap deskripsi dengan serius. Sesekali mendekat untuk memperhatikan detail kecil yang mungkin tidak dilihat orang lain. Bahkan isi galeri di ponselnya hari itu lebih banyak berisi foto karya pameran dibanding dirinya sendiri.
Sementara di sisi lain, Gilang berjalan santai beberapa langkah di belakang atau di sampingnya. Tangannya sesekali masuk saku celana, sesekali mengangkat ponsel. Bukan untuk memotret pameran. Tapi memotret Anasera. Cara gadis itu menunduk membaca penjelasan karya. Cara alisnya sedikit mengernyit saat berpikir. Cara matanya berbinar kecil ketika menemukan sesuatu yang menarik.
Tanpa sadar, Gilang tersenyum sendiri melihat hasil fotonya.
“Kalau instalasi yang ini,” suara seorang staff galeri terdengar lembut di depan mereka, “menggambarkan memori masyarakat Batavia pada masa transisi modernisasi kota sekitar tahun 1920-an.”
Anasera yang sejak tadi memperhatikan miniatur dan potongan audio di ruangan itu langsung mengangguk kecil. “Jadi suara trem sama pasar itu memang rekonstruksi asli, ya?” tanyanya.
Staff itu tampak senang mendapat pertanyaan serius. “Iya, Kak. Audio-nya diambil dari arsip suara lama yang direstorasi ulang.”
Anasera mendekat sedikit ke salah satu panel. “Kalau foto-foto ini asli semua?”
“Sebagian besar asli. Tapi ada beberapa yang sudah melalui proses digital enhancement karena kondisi awalnya rusak.”
“Hm…” Anasera mengangguk pelan, benar-benar mendengarkan. Gilang berdiri di sampingnya sambil memperhatikan wajah gadis itu, bukan penjelasan staff-nya.
“Menarik banget sih…” gumam An pelan.
“Apalagi yang bagian surat kabarnya,” lanjut staff itu. “Karena itu memperlihatkan sudut pandang masyarakat lokal waktu itu.”
Anasera tersenyum kecil. “Keren…”
Mereka mengucapkan terima kasih sebelum lanjut berjalan ke ruangan berikutnya. Kali ini lebih sepi. Tidak ada staff yang mendampingi, hanya suara musik instrumental pelan dan cahaya temaram yang menyorot deretan foto hitam putih Jakarta lama.
Anasera berhenti di depan salah satu foto pelabuhan Sunda Kelapa. “Mas,” panggilnya tiba-tiba.
“Hm?”
“Kenapa ya bangunan zaman dulu tuh keliatannya… lebih punya cerita?”
Gilang menoleh ke arah foto itu sebentar sebelum menjawab. “Mungkin karena umurnya panjang.”
Anasera menatapnya. “Maksudnya?”
“Bangunan lama tuh biasanya ngalamin banyak hal,” jelas Gilang pelan. “Ganti generasi, ganti fungsi, kadang pernah rusak juga. Tapi tetap berdiri.” Ia berjalan mendekat ke salah satu dinding bata ekspos di ruangan itu. “Makanya keliatan hidup.”
Anasera diam mendengarkan. “Kalau bangunan sekarang?” tanyanya lagi.
“Kebanyakan dibangun buat cepat selesai.” Gilang mengangkat bahu kecil. “Fungsional, tapi nggak semua punya karakter.”
Anasera tersenyum tipis. “Lo kenapa tau beginian sih?”
Gilang terkekeh kecil. “Gue developer, An.”