The Last Destination

Firsty Elsa
Chapter #4

Magna Land

Pukul tujuh pagi, kawasan pusat bisnis Jakarta sudah mulai dipenuhi kendaraan. Gedung-gedung tinggi berdiri memantulkan cahaya matahari yang belum sepenuhnya panas, sementara orang-orang berjalan cepat dengan kopi di tangan dan wajah yang sibuk bahkan sebelum hari benar-benar dimulai.

Sebuah mobil hitam memasuki basement gedung Magna Land & Development tepat beberapa menit sebelum jam kerja. Begitu mesin dimatikan, Gilang keluar dengan langkah tenang. Hari ini tampilannya jauh berbeda dibanding akhir pekan kemarin. Rambutnya tertata rapi. Kemeja hitam dengan jas abu gelap membentuk postur tegapnya dengan sempurna. Jam tangan silver melingkar di pergelangan tangan kirinya, sementara wajahnya kembali memakai ekspresi datar yang biasa orang kantor lihat setiap hari.

Beberapa karyawan yang berpapasan langsung menunduk hormat. “Pagi, Pak Gilang.”

“Pagi.”

“Morning, Pak.”

Gilang hanya mengangguk kecil sambil tetap berjalan. Aura sibuk langsung terasa bahkan sejak pintu lift executive terbuka di lantai utama. Orang-orang mondar-mandir membawa dokumen, suara printer terdengar bersahutan, dan layar presentasi di beberapa ruangan meeting sudah menyala sejak tadi.

Baru beberapa langkah keluar lift, seorang laki-laki dengan pakaian formal hitam menghampirinya cepat. “Pagi, Lang.”

“Pagi, Je.”

Jehan, sekretaris sekaligus orang yang paling sering mengatur hidup Gilang beberapa tahun terakhir, langsung menyerahkan tablet berisi jadwal hari ini. “Jam sembilan meeting sama pihak Artha Konstruksi. Jam sebelas review desain Riverside Project sama tim arsitek. Habis itu ada meeting internal.” Gilang membaca cepat sambil berjalan menuju ruangannya.

“Pak Bram udah konfirmasi hadir?”

“Udah.”

“Investor Singapura?”

“Masih online meeting.”

Gilang mengangguk singkat. Begitu pintu ruangannya terbuka, suasana langsung berubah lebih tenang. Ruangan luas dengan dominasi warna abu dan hitam itu terlihat rapi, meski beberapa maket bangunan dan tumpukan dokumen memenuhi meja panjang di dekat jendela. Belum sempat duduk, Jehan kembali bicara.

“Lo belum sarapan kan?”

Gilang melirik sekilas. “Nanti.” Jawaban standar.

Jehan menghela napas kecil, sudah terlalu hafal kebiasaan bosnya itu. “Gue pesenin aja lah, sekalian gue juga sarapan.”

“Terserah.” Dan sebelum Gilang benar-benar fokus membuka laptopnya, satu notifikasi muncul di layar ponsel.

Anasera.

Mas, gue jaga siang hari ini. Jangan lupa makan.

Sudut bibir Gilang terangkat tipis. Singkat. Tapi cukup membuat wajahnya sedikit berubah lebih ringan. Jehan yang masih berdiri di sana langsung menyipitkan mata.

“Selamat pagi, An. Selamat pagi juga, Mas. Gitu aja terus kalian berdua.” Jehan sudah sangat hafal dengan kelakuan bos merangkap sahabatnya itu. 

Gilang langsung mengunci layar ponselnya. “Ngurus kerjaan sana.” Jehan terkekeh kecil sebelum akhirnya keluar ruangan.

***

Lihat selengkapnya