Sore itu langit Jakarta masih dipenuhi warna jingga pucat ketika Anasera akhirnya tiba di sebuah restoran sushi langganan Melody di kawasan Senopati. Tempat itu tidak terlalu ramai, hanya dipenuhi beberapa pekerja kantoran dan pasangan muda yang menghabiskan waktu setelah jam pulang kerja. Lampu-lampu temaram dengan interior kayu khas Jepang membuat suasana restoran terasa hangat dan tenang. Begitu pintu restoran terbuka, aroma salmon panggang dan kuah ramen langsung menyambut indera penciumannya.
“An!” Melody melambaikan tangan heboh dari pojok ruangan.
An terkekeh pelan sambil menghampiri meja sahabatnya itu. “Norak banget lo,” katanya sambil duduk di depan Melody.
“Ya habis kangen, anjir,” balas Melody cepat. “Sumpah demi apa, muka lo masih sama kaya dua tahun lalu.”
“Emang gue harus berubah jadi apa?”
“Minimal jadi istri orang kek.”
An langsung mendelik malas sambil mengambil menu di depannya. Melody tertawa puas melihat reaksi sahabatnya itu.
Hari itu Melody baru saja selesai melakukan photoshoot untuk salah satu brand skincare yang akan bekerja sama dengannya. Setelah dua tahun hiatus di New York untuk kuliah sekaligus mencoba membangun hidup baru di sana, akhirnya Melody memutuskan kembali ke Indonesia dan melanjutkan kariernya lagi di dunia hiburan.
Sedangkan An baru saja menyelesaikan shift sore di rumah sakit. Wajahnya masih terlihat sedikit lelah, rambut hitam panjangnya hanya dicepol seadanya, dan ia bahkan masih mengenakan kemeja oversize biru dipadukan dengan celana hitam formal.
Namun di depan Melody, An selalu bisa terlihat lebih santai. “Mau makan apa?” tanya Melody sambil menyerahkan menu.
“Terserah lo aja.”
“Nah ini nih yang gue suka dari lo,” katanya cepat. “Nggak ribet.”
“Karena gue percaya selera makan lo bagus.”
“Ya iyalah. Gue dua tahun hidup di New York, bos.”
An tertawa kecil sambil menuangkan ocha ke gelas mereka. “Gimana akhirnya bisa mutusin balik?” tanyanya kemudian.
Melody mengembuskan napas panjang sebelum menyandarkan tubuh ke kursi. “Ah elah, gue kayaknya nggak bisa kalau kelamaan di sana, An.”
“Katanya lo mau cari bule?” tanya An jahil.
“Ya banyak sih,” jawab Melody santai. “Tapi kelakuannya pada nggak bener, An. Gue bisa disembelih nyokap kalau beneran sama orang sana.”
An langsung tertawa pelan mendengar itu. “Hahaha… terus pacar bule lo itu gimana?”
“Yang mana?” Melody mengangkat alis. “HTS doang itu mah. Sama lah kayak lo sama Mas Gilang lo itu.”
Seketika An melempar sumpit kayunya ke arah Melody. “Apasih? Kita tuh temenan doang.”
“Temen kok sedeket nadi,” balas Melody tanpa dosa. “Minta kejelasan dong, An.”
“Tau ah, males bahas.”
Pelayan datang membawa beberapa menu pesanan mereka. Melody langsung mengambil satu potong sushi sebelum kembali melanjutkan obrolannya.
“Kayaknya emang bener deh, gue harus cari pasangan lokalan aja.”
“Ya mau gimana lagi?” An mengangkat bahu kecil. “Padahal dulu cita-cita lo gede banget loh,” lanjut An sambil tertawa kecil. “Pindah ke luar negeri, nikah sama orang sana, hidup tenang.”
Melody menggeleng pelan sambil menopang dagunya. “Ya bener sih,” katanya lirih. “Emang kalau halu tuh gampang ya, An. Pas dijalanin… nggak semudah itu juga.”
An menatap sahabatnya sekilas. Melody tersenyum kecil, tapi kali ini matanya tidak secerah biasanya. “Gue ngerasa jiwa gue nggak berkembang baik di sana. Gue juga masih waras kali kalau cari cowok.”
Kalimat itu membuat An diam sebentar. “Hmm… terus gimana?”
“Ya gitu.” Melody terkekeh kecil. “Kayaknya cowok Indo lebih masuk akal deh. Kayaknya masih banyak cowok di sini yang mantap dan masuk kriteria gue dan nyokap gue.”
An kembali tertawa pelan. Untuk beberapa saat, suasana di antara mereka terasa hangat. Mereka membahas banyak hal kecil yang terlewat selama dua tahun terakhir. Tentang kehidupan Melody di New York, tentang dunia rumah sakit yang makin melelahkan bagi An, tentang orang-orang lama yang sudah sibuk dengan hidup masing-masing.