The Last Destination

Firsty Elsa
Chapter #6

Jarak, mungkin?

Pagi itu suasana lantai VIP Raflesia sudah cukup sibuk meski jam masih menunjukkan pukul delapan lewat sedikit. Lorong rumah sakit yang biasanya tenang mulai dipenuhi suara langkah perawat, bunyi roda troli obat, hingga beberapa keluarga pasien yang keluar masuk ruangan sambil membawa sarapan.

Di tengah aktivitas itu, Anasera berjalan menyusuri koridor dengan langkah cepat namun tetap tenang. Rambut hitamnya hari itu diikat rendah rapi, menyisakan beberapa helai tipis di sisi wajahnya. Jas dokter putih yang ia kenakan bergerak mengikuti langkahnya, sementara tangan kirinya sibuk membuka data rekam medis pasien di tablet rumah sakit.

Di belakangnya, lima mahasiswa koas berjalan mengikuti sambil sesekali mencatat sesuatu.

“Untuk pasien kamar tujuh, observasi output urin per enam jam tetap dilanjutkan, ya,” ucap An sambil tetap berjalan. “Karena beliau ada riwayat CKD dan komplikasi hipertensi kronis, kita harus monitor kemungkinan worsening condition-nya.”

“Izin dokter,” salah satu mahasiswa koas laki-laki mengangkat tangan kecil. “Kalau tekanan darahnya masih fluktuatif meskipun terapi antihipertensi udah dinaikkan, next plan-nya apa ya dok?”

An menoleh sebentar sambil tetap berjalan santai. “Good question,” katanya dengan nada tenang. “Kita lihat dulu penyebab sekundernya. Jangan langsung fokus ke obat tambahan sebelum evaluasi compliance pasien, intake cairan, sama respon tubuhnya terhadap terapi sebelumnya.”

Mahasiswa itu langsung mengangguk sambil mencatat cepat. Cara An menjelaskan selalu seperti itu. Dan mudah dipahami. Bahkan beberapa koas diam-diam lebih nyaman belajar dengan An dibanding beberapa dokter senior lainnya.

Begitu sampai di depan kamar VIP nomor tujuh, An berhenti dan menoleh pada mahasiswa koas di belakangnya. “Okay guys, sebelum masuk, what’s the first thing you need to remember?”

Hand hygiene, dokter,” jawab mereka hampir bersamaan.

An tersenyum kecil. “Good. Jangan lupa, kita bukan cuma ngobatin penyakit pasien, tapi juga menjaga keselamatan mereka.”

Salah satu mahasiswa perempuan sampai diam-diam menatap kagum pada dokter muda di depannya itu. Usia An memang masih dua puluh empat tahun, bahkan tidak terpaut jauh dari mereka. Namun cara perempuan itu membawa dirinya terasa sangat profesional dan dewasa.

Pintu kamar dibuka perlahan. Di dalam, seorang pasien perempuan usia lanjut tampak sedang berbaring dengan infus dan monitor jantung di sisi tempat tidurnya. Suaminya duduk di sofa sambil berdiri begitu melihat An masuk.

“Pagi dokter.”

“Pagi, Pak,” balas An ramah sambil mendekat ke sisi pasien. “Gimana keadaannya hari ini, Bu?”

“Lumayan enakan, Dok.”

“Masih sesak?”

“Udah berkurang.”

An mengangguk kecil sebelum mulai melakukan pemeriksaan ringan sambil sesekali menjelaskan pada mahasiswa koas di belakangnya. “Pasien dengan DM dan hipertensi kronis biasanya recovery-nya lebih lambat,” jelasnya pelan. “Makanya monitoring kondisi sistemik itu penting banget.”

Tangannya bergerak cekatan memeriksa hasil observasi dan monitor pasien. “Tekanan darahnya hari ini lebih stabil,” lanjutnya sambil melihat hasil terbaru di tablet. “Tapi gula darah puasanya masih tinggi. Tolong nanti follow up ulang insulin sliding scale-nya.”

“Baik dokter,” jawab salah satu koas cepat.

An kemudian menatap pasien lagi dengan senyum hangat. “Nanti kita evaluasi lagi setelah hasil lab keluar ya, Bu. Tidak perlu khawatir berlebihan, kondisi ibu membaik kok.” Cara bicaranya lembut. Tidak terburu-buru. Tetapi tetap terdengar meyakinkan. Dan itu yang membuat banyak pasien cepat nyaman dengannya.

Lihat selengkapnya