The Last Destination

Firsty Elsa
Chapter #7

Laura Jessa

Malam itu Jakarta baru saja selesai diguyur hujan ketika Anasera turun dari ojek online di depan rumah Gilang. Rumah dua lantai bergaya modern minimalis itu berdiri tenang di ujung jalan komplek elit yang cukup sepi. Lampu terasnya menyala hangat, memantulkan genangan air di halaman depan.

Rumah itu terlalu familiar bagi An. Karena tempat itu adalah saksi bagaimana Gilang membangun hidupnya perlahan. An tahu bagaimana Gilang memulai semuanya dari nol. Dan mungkin itu juga alasan kenapa rumah ini terasa seperti tempat yang tidak asing baginya.

Begitu pintu dibuka, Jehan langsung muncul dengan wajah bersalah. “Sorry, An,” katanya cepat. “Gue nggak tau harus hubungin siapa kalau bukan lo.”

An langsung melepas jaket sambil mendelik. “Mas Jehan, kalau dia kambuh gara-gara kopi lagi, sumpah gue suntik sekalian otaknya.”

Jehan langsung tertawa canggung. “Ya… sedikit.”

“Sedikit apaan.” An langsung masuk ke dalam rumah tanpa banyak basa-basi.

Di kamarnya, Gilang duduk bersandar di kasur dengan wajah pucat sambil memegangi ulu hatinya. Kemeja biru yang tadi dipakai kerja bahkan masih belum diganti, rambutnya juga terlihat berantakan total. Begitu melihat An datang, laki-laki itu malah nyengir kecil.

“Lebay banget si Jehan manggil lo.”

“Diam.” An langsung mendekat sambil meletakkan totebag miliknya di meja.

“Skala nyerinya?”

“Biasa aja.”

“Mas.”

“Ya… tujuh.”

“Nah gitu kek manusia jujur.”

Jehan yang berdiri di belakang langsung menahan tawa kecil. Mode dokter Anasera memang selalu berubah total kalau sudah menyangkut kondisi Gilang. Tanpa banyak bicara lagi, An langsung memeriksa tekanan darah dan kondisi Gilang dengan cepat sebelum akhirnya menyiapkan injeksi obat.

Laki-laki itu langsung pasrah menyingsingkan lengan bajunya. Jehan sampai geleng-geleng kepala melihat sahabatnya yang biasanya keras kepala itu mendadak jinak di depan An. Beberapa menit kemudian, setelah obat mulai bekerja dan wajah Gilang terlihat sedikit lebih baik, An justru berdiri sambil melihat koper besar yang masih terbuka di dekat lemari.

“Ini belum beres?”

Jehan langsung mengangkat tangan kecil. “Kita belum sempet sih, An.”

An langsung menatap dua laki-laki itu tidak percaya. “Besok flight jam berapa?”

“Jam delapan,” jawab Jehan pelan.

An langsung berjalan ke arah koper sambil membuka jadwal kegiatan yang dikirim Jehan ke tablet. “Coba Mas Jehan jelasin ke gue jadwal dia di Bali apa aja.”

Jehan langsung berdiri tegak seperti sedang briefing kantor. “Besok meeting investor jam sebelas siang, terus site visit proyek sore, malam dinner sama partner bisnis—”

“Catat, nggak ada kopi selama dinner.”

“Oke.” Jehan mencatat dengan jelas di tabletnya.

“Lanjut.”

“Hari kedua full meeting dari pagi sampe malam.”

An mengembuskan napas panjang sambil mulai melipat beberapa pakaian Gilang dengan cepat. “Mas Jehan ikut kan?”

“Iya.”

“Jangan biarin dia minum kopi.”

Gilang langsung mendongak. “An…”

“Mau dia ngemis-ngemis kayak gimana juga, puasa kopi.”

Jehan langsung mengangguk cepat. “Siap dokter.”

“Terus makan telat jangan dibiarin.”

“Siap dokter.”

“Air putih minimal tiga liter.”

“Siap dokter.”

“Mas Jehan.”

“Iya?”

Lihat selengkapnya