Hujan malam itu turun cukup deras di Jakarta. Anasera masih terjaga di apartemennya meski jam sudah menunjukkan hampir pukul satu dini hari. Di meja pantry kecilnya masih ada laptop terbuka berisi jurnal medis yang sejak tadi sedang ia baca untuk presentasi kampus esok hari.
Sampai suara bel apartemen tiba-tiba berbunyi. Sekali. Dua kali. An mengernyit kecil. Siapa yang datang jam segini? Begitu pintu dibuka, tubuhnya langsung membeku beberapa detik.
Gilang berdiri di depan sana. Laki-laki itu basah kuyup terkena hujan. Rambutnya acak-acakan, wajahnya terlihat lelah dan kacau. Bahkan untuk pertama kalinya sejak An mengenalnya, Gilang terlihat benar-benar kehilangan arah.
“Mas…” Namun Gilang tidak langsung menjawab. Tatapannya kosong. Lelah. Dan anehnya… menyedihkan. An langsung menarik laki-laki itu masuk sebelum benar-benar masuk angin.
“Lo kenapa?” tanyanya pelan sambil buru-buru mengambil handuk kecil. Gilang hanya diam. An mulai sadar ada sesuatu yang buruk terjadi. “Mas Gilang…”
Sampai akhirnya laki-laki itu berkata lirih, “Gue putus.”
Gerakan tangan An berhenti sebentar. Nadya. Pasti tentang Nadya. Namun An tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya mengambilkan air hangat lalu menyuruh Gilang duduk di sofa apartemennya. Suasana di sana terasa sunyi. Hanya ada suara hujan di luar jendela.
An duduk di sampingnya dengan jarak kecil. “Berantem?” tanyanya hati-hati.
Gilang tertawa kecil. Tapi terdengar pahit. “Kayaknya hubungan gue emang udah capek dari lama.”
An diam mendengarkan. Ia tahu hubungan Gilang dan Nadya tidak mudah. Terlalu banyak kesibukan, terlalu banyak ego yang sama-sama dipendam, dan terlalu sedikit waktu untuk saling memahami. Namun di balik semua itu, An juga tahu… Gilang sangat mencintai Nadya.
“Dia marah lagi sama kesibukan gue. Awalnya gue bisa terima itu, tapi gue ikut kalut pas dia nyinggung soal lo.”
Kalimat itu membuat An langsung menunduk kecil. Ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba muncul di dadanya. Karena ia tahu itu benar. Nadya memang tidak pernah benar-benar suka kedekatan mereka. Bahkan dulu, Nadya pernah memblokir nomor An tanpa sepengetahuan Gilang karena merasa perempuan itu terlalu dekat dengan pacarnya sendiri. Dan An tidak pernah membenci Nadya untuk itu. Karena kalau ia berada di posisi Nadya…mungkin ia juga akan melakukan hal yang sama.
“Maaf ya, An.” An langsung menoleh. Gilang masih menatap lantai sambil tersenyum kecil penuh lelah. “Karena gue… lo jadi ikut kena.”
“Mas…”
“Harusnya gue bisa bikin batas yang lebih jelas.”
An menggeleng pelan. “Bukan salah lo.”
“Tetep aja.”
Suasana kembali hening beberapa detik. Lalu tiba-tiba Gilang bersandar lelah ke sofa sambil memejamkan mata. “An.”
“Hm?”
“Gue capek banget.” Dan entah kenapa, nada suara laki-laki itu terdengar begitu rapuh malam itu. Sangat berbeda dari Gilang yang biasanya.
An menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan, “Mau teh hangat lagi?”
Namun Gilang justru menggeleng kecil. Lalu tanpa membuka mata, laki-laki itu berkata lirih, “Peluk gue bentar boleh nggak?”
Kalimat itu membuat An membeku. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Gilang sering memeluknya, saat An menangis lebih banyak. Tapi, kali ini terasa berbeda karena Gilang meminta izin. Dan mungkin itu juga pertama kalinya An melihat laki-laki itu benar-benar runtuh.
Perlahan, gadis itu menggeser duduknya mendekat. Lalu memeluk Gilang pelan. Sangat pelan. Awalnya tubuh laki-laki itu diam. Namun beberapa detik kemudian, Gilang justru membalas pelukan itu lebih erat sambil menyembunyikan wajahnya di bahu An. Tidak ada tangisan. Tidak ada suara. Tapi An bisa merasakan betapa hancurnya laki-laki itu malam itu. Dan yang paling menyakitkan…di tengah pelukan itu, An sadar satu hal, bahkan saat hati Gilang hancur karena perempuan lain…orang yang tetap ia cari tetap dirinya.
***
Sore itu langit Jakarta terlihat lebih cerah dibanding beberapa hari terakhir. Setelah menyelesaikan shift sore di rumah sakit, Anasera memilih pergi menemui Melody di sebuah festival matcha dan coffee yang sedang ramai diadakan di kawasan Senayan. Area festival itu dipenuhi booth-booth minuman artisan dengan dekorasi estetik bernuansa Jepang modern. Aroma kopi dan matcha bercampur di udara, ditemani suara musik jazz pelan yang membuat suasana terasa hangat dan santai.