The Last Destination

Firsty Elsa
Chapter #9

Menjaga Jarak, Lagi?

Langit Jakarta mulai berubah menjadi jingga ketika mobil Gilang memasuki area apartemen Anasera. Setelah tiga hari penuh berkutat dengan meeting, investor, dan jadwal proyek yang padat di Bali, hal pertama yang muncul di kepalanya saat pesawat mendarat justru bukan rumahnya sendiri. Melainkan Anasera. Ada banyak hal yang ingin ia ceritakan. Ia masuk begitu saja menggunakan passcode apartemen yang sudah sangat hafal di luar kepala.

“An?” Tidak ada jawaban.

Suasana apartemen terasa tenang dengan aroma floral samar dari diffuser favorit An. Lampu ruang tamu belum sepenuhnya menyala, hanya cahaya matahari sore yang masuk dari balkon. Dan di sanalah Gilang menemukannya.

Anasera sedang berdiri di balkon kecil apartemennya sambil menyiram beberapa pot bunga. Gadis itu mengenakan kaos polos lengan pendek warna abu muda dan celana rumah bermotif karakter kecil yang terlihat sangat random. Rambut panjangnya digerai asal dengan earpods terpasang di kedua telinga.

“An?” Tetap tidak ada respons. Sampai akhirnya, laki-laki itu berjalan mendekat lalu menepuk pelan bahu gadis tersebut.

An langsung menoleh kaget. “EH—” Refleksnya melepas salah satu earpod-nya. “Lo ngapain ke sini?”

Gilang mengangkat alis kecil. “Emang lo nggak kangen sama gue?”

An mendelik kecil. “Nggak.”

“Jahat banget.” 

Baru setelah itu, tatapan An jatuh pada koper besar dan beberapa tote bag yang dibawa Gilang. “Lo belum balik ke rumah?”

“Belum.”

“Oh.”

“Apaan sih reaksinya cuma ‘oh’ doang?” protesnya sambil terkekeh kecil.

An mengangkat bahu santai. “Ya terus gimana? Gue harus salto?”

“Minimal senyum kek.”

“Kan gue senyum nih.”

“Tipis banget.”

An akhirnya tertawa kecil pelan. Namun tetap saja, ada sesuatu yang berbeda. Gilang bisa merasakannya. Tanpa banyak bicara lagi, laki-laki itu langsung menarik pelan pergelangan tangan An menuju ruang tengah.

“Apaan sih?”

“Sini.” Gilang mulai membuka satu per satu tote bag yang ia bawa. “Nih.” Ia menyerahkan satu kotak kecil berwarna hijau. “Matcha cookies.”

Mata An langsung sedikit membesar. “Dari mana?”

“Kafe Jepang di Bali.”

“Lo beli ginian?”

“Gue inget siapa yang obsesinya matcha.”

An berusaha menahan senyum kecilnya sambil membuka kotak itu.

“Nih juga.” Gilang kembali menyerahkan gantungan kunci kayu kecil berbentuk ombak. “Katanya handmade.”

“Ihh lucu.” Tanpa sadar, An tersenyum. Rasanya cukup mudah untuk menarik perhatian gadis itu.

“Nah, kan akhirnya senyum juga.” An hanya geleng-geleng kecil. Padahal di dalam hatinya ia sedang berusaha keras menjaga dirinya sendiri. Semakin Gilang memperlakukannya seperti ini, semakin sulit baginya untuk mengingat satu hal: bahwa laki-laki itu mungkin saja masih memilih perempuan lain pada akhirnya.

***

Keesokan harinya, Gilang kembali tenggelam dalam rutinitas kantornya seperti biasa. Sejak pagi ruang meeting Magna Land tidak pernah benar-benar kosong. Pergantian presentasi, revisi proposal, sampai diskusi proyek membuat kepalanya terasa penuh bahkan sebelum jam makan siang tiba.

Karena itu, sekitar pukul dua siang, Gilang memutuskan untuk keluar sebentar dari kantor. Sekadar mencari suasana. Ia memilih salah satu kafe premium di kawasan SCBD yang cukup tenang untuk didatangi saat jam kerja. Tempat itu memang sering jadi pelariannya kalau sedang ingin berpikir tanpa gangguan.

Begitu masuk, aroma pastry hangat dan suara piano instrumental langsung menyambutnya. Namun, baru beberapa langkah berjalan, Gilang justru menangkap sosok yang cukup familiar duduk di dekat jendela.

Laura. Perempuan itu sedang membuka laptop dengan beberapa dokumen berserakan di mejanya. Penampilannya hari itu terlihat lebih santai dibandingkan saat meeting. Ia mengenakan loose shirt warna putih gading dengan celana high waist hitam dan rambut panjang yang diikat rendah.

Begitu menyadari keberadaan Gilang, Laura langsung mengangkat tangan kecil. “Well… ternyata CEO juga manusia, bisa nongkrong.”

Gilang terkekeh pelan sambil menghampiri. “Lagi kabur sebentar.”

“Dari kerjaan?”

Lihat selengkapnya