The Last Destination

Firsty Elsa
Chapter #10

Masih Sama Sebelumnya

Malam Sabtu itu Jakarta sedang cukup padat. Setelah menyelesaikan beberapa revisi proyek bersama timnya, Gilang langsung melajukan mobil menuju rumah sakit tempat Anasera bekerja. Sudah jadi kebiasaan. Kalau An shift malam menjelang weekend, biasanya Gilang akan menjemput gadis itu untuk sekadar makan malam sebelum pulang.

Dan entah sejak kapan… itu terasa normal bagi mereka. Di lampu merah terakhir sebelum rumah sakit, Gilang sempat melirik layar ponselnya lagi. Tetap tidak dibalas.

“Ni anak kalau lagi sibuk emang lupa dunia,” gumamnya pelan. 

Begitu sampai di lobby utama VIP Raflesia, Gilang langsung menangkap suasana yang cukup ramai di area sofa tunggu dekat nurse station. Dan matanya langsung menemukan An.

Gadis itu masih mengenakan scrub merah muda dengan rambut yang mulai sedikit berantakan karena seharian bekerja. Di tangannya ada beberapa lembar berkas, sementara di depannya duduk lima mahasiswa koas dan—Dokter Raditya. Mereka terlihat sedang berdiskusi serius.

“…kalau bagian literature review kalian masukin jurnal lama semua, ya pasti ditolak,” jelas An sambil menunjuk layar tablet salah satu koas.

“Iya dokter…”

“Cari comparative study terbaru minimal tiga tahun terakhir.”

Radit yang duduk di samping meja ikut menambahkan, “Dan jangan terlalu banyak teori kalau data kasusnya lemah.”

“Baik dok.”

Suasana itu sebenarnya terasa biasa saja. Sampai salah satu mahasiswa koas perempuan mendadak melirik ke arah pintu lobby. Lalu matanya membesar. 

“Eh…”

Temannya ikut menoleh. Dan beberapa detik kemudian bisikan kecil mulai terdengar. “Anjir…”

“Cakep banget…”

“Siapa tuh?”

Gilang yang baru masuk masih mengenakan kemeja hitam dengan lengan terlipat sampai siku. Rambutnya sedikit berantakan karena angin malam, sementara wajah lelahnya justru membuat auranya terlihat makin matang. Dari jauh saja sudah mencolok.

“Ini pacarnya Dokter An kah?” bisik salah satu koas pelan ke temannya.

“Kalau spek gini sih gue juga mau anjir…”

“Heh kecilin suara lo!”

An yang mendengar samar langsung menoleh. Dan begitu melihat Gilang berdiri di sana, ekspresinya langsung berubah. “Loh?”

Gilang berjalan mendekat santai. 

“Ngapain ke sini?” tanya An.

“Ya mau jemput lah,” jawab Gilang sambil melirik jam tangannya. “Udah jam berapa ini?”

An langsung menghela napas kecil. “Pulang duluan aja lah, gue masih sibuk.”

“Gue tungguin.”

“Lama, Mas.”

“Yaudah.”

“Lo duluan aja.”

“Enggak.”

Jawaban itu terlalu cepat. Dan entah kenapa membuat suasana di sekitar mereka jadi sedikit awkward. Apalagi anak-anak koas mulai saling lirik diam-diam.

Sedangkan Radit sejak tadi hanya memperhatikan interaksi keduanya dengan tenang. Namun Gilang sendiri tidak bisa bohong, ia cukup terusik melihat Radit duduk terlalu nyaman di sisi An. 

“Seminar?” tanya Gilang akhirnya sambil melirik berkas di meja.

An mengangguk kecil. “Iya mendadak. Besok pagi.”

“Jam segini?”

“Namanya juga hidup koas.” Beberapa mahasiswa langsung tertawa lemah.

Radit akhirnya berdiri pelan sambil menatap Gilang sopan. “Kenalin, saya Radit,” katanya memperkenalkan diri.

“Oh, iya dok, saya Gilang.” Keduanya berjabat tangan singkat. Formal. Tapi entah kenapa… udara di antara mereka terasa sedikit terlalu tegang.

“Kalau memang masih lama,” kata Radit kemudian tenang, “nggak apa-apa, nanti Dokter An bisa pulang sama saya.”

Suasana langsung diam. An spontan melirik Radit cepat. Sedangkan dua mahasiswa koas perempuan di belakang langsung menahan ekspresi heboh masing-masing. Karena entah kenapa, kalimat itu terdengar seperti tantangan kecil.

Gilang sendiri tersenyum tipis. Namun tatapannya tidak benar-benar santai. “Nggak usah, Dok,” jawabnya tenang. “Saya tunggu aja.”

Lihat selengkapnya