Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil Gilang berhenti di depan sebuah townhouse mewah di kawasan Jakarta Selatan. Lampu teras rumah itu masih menyala terang. Gilang langsung keluar begitu saja sambil membawa paper bag berisi obat dan kompres dingin yang tadi sempat ia beli di apotek perjalanan. Sejujurnya, selama menyetir ke sini, kepalanya terasa penuh.
Bagaimanapun, Nadya pernah menjadi bagian terbesar dalam hidupnya. Dan lebih dari itu, Nadya tinggal sendirian. Begitu pintu rumah terbuka, Gilang langsung menemukan Nadya duduk di sofa ruang tamu dengan kaki kanan yang mulai membiru di bagian pergelangan. Wajahnya terlihat pucat menahan nyeri.
“Finally,” gumam Nadya pelan sambil menghela napas lega.
Gilang langsung berjalan mendekat. “Mana yang sakit?”
“Kaki kanan.”
“Jatuh gimana sih?”
“Tadi habis mandi,” jawab Nadya pelan. “Lantainya licin.”
Gilang jongkok di depan sofa tanpa banyak bicara lalu memeriksa pelan bagian kaki Nadya yang memar. “Masih nyeri?”
“Mhm.”
“Bisa digerakin nggak?”
Nadya mencoba menggerakkan kakinya sedikit lalu meringis kecil. “Bisa, tapi sakit.”
Gilang mengangguk kecil. “Kemungkinan cuma memar.”
Nadya memperhatikannya beberapa detik. Dan anehnya, pemandangan laki-laki itu berada di rumahnya lagi terasa terlalu familiar. Seolah tidak ada satu tahun yang berlalu di antara mereka. “Kenapa kamu masih mau ke sini?” ucap Nadya pelan.
Gilang mendongak sebentar. “Ya masa gue biarin.”
Nadya tersenyum tipis. Namun di balik senyum itu, ada sesuatu yang samar. Perempuan itu memang tidak bohong. Ia benar-benar jatuh. Tapi jauh di dalam dirinya, Nadya juga sadar bahwa orang pertama yang masih ingin ia hubungi saat dirinya kesulitan, tetap Gilang. “Sorry ganggu malam minggu kamu,” katanya lagi.
Gilang justru mengernyit. “Malam minggu apaan.”
“Bukannya harusnya kamu sama dia?” Tangan Gilang berhenti sebentar. Hanya sebentar. “Sama An.”
“Oh.”
Nadya tentu tahu Anasera. Terlalu tahu malah. Perempuan yang dulu selalu menjadi alasan pertengkaran kecil dalam hubungannya dengan Gilang. Bukan karena An pernah merebut Gilang. Tapi karena Nadya sadar, bahkan saat menjadi pacarnya, ia tidak pernah benar-benar bisa mengalahkan posisi An di hidup laki-laki itu. Dan itu melelahkan.
“Dia masih sering marah soal lambung kamu?” tanya Nadya pelan, mencoba terdengar santai.
“Masih.”
“Galak ya.”
“Banget.” Gilang masih sibuk mengoleskan salep ke kaki Nadya.
Nadya tertawa kecil. Beberapa detik kemudian, mereka kembali terasa seperti dulu. Sampai akhirnya Nadya berkata pelan, “aku kira… setelah kita selesai, kamu bakal menjauh dari dia.”
Gilang diam. Anehnya, ia sendiri tidak pernah bisa melakukan itu.
***
Minggu pagi itu, Jakarta belum terlalu panas. Kawasan Sudirman sudah dipenuhi orang-orang yang memanfaatkan car-free day untuk berolahraga, berjalan santai, atau sekadar menikmati suasana akhir pekan. Di tengah keramaian itu, Anasera terlihat berjalan pelan di sisi jalur jogging sambil mengatur napasnya. Rambut panjangnya diikat tinggi, sementara oversized sport jacket warna navy yang ia pakai sedikit kebesaran di tubuhnya. Di sampingnya, Radit masih terlihat jauh lebih segar meski mereka sudah hampir lima kilometer berkeliling.
“An…”
An langsung melirik malas. “Apalagi.”
“Lo yakin dokter umum?”
“Kenapa emang?”
“Napas lo udah kaya pasien PPOK.”
“Mas Radit nih kalau sekali negur emang nyes banget ya.”
Dokter bedah itu malah tertawa lepas. “Baru juga lima kilo.”
“Gue habis jaga tiga hari berturut-turut.”
“Excuse.”
An mendelik kecil lalu membuka tutup botol minumnya. “Gue tuh heran ya sama lo Mas. Energinya tuh nggak habis-habis.”
“Karena gue makhluk pilihan.”
“Ehm, mau muntah gue.”
Radit kembali tertawa. Dan pagi itu, setelah beberapa minggu terakhir, An merasa kepalanya cukup ringan. Rasanya cukup menyenangkan bercanda gurau di luar rumah sakit seperti ini. Setelah selesai jogging, mereka akhirnya memilih sarapan di salah satu tenda soto betawi dekat area CFD.
“Gue nggak nyangka lo mau makan beginian,” kata An sambil duduk di kursi plastik.
Radit mengernyit bingung. “Emang gue harusnya makan apa?”