The Last Destination

Firsty Elsa
Chapter #12

Luka Lama

Ada masa di hidup Nadya Haliza Kusuma ketika dunia terasa jauh lebih sederhana. Jauh sebelum hidupnya dipenuhi kamera, kontrak kerja, dan tuntutan untuk selalu terlihat sempurna. Saat itu, ia hanya seorang mahasiswi biasa yang sering pulang malam karena revisi tugas. Yang ada hanyalah mimpi, kelelahan, dan laki-laki keras kepala yang percaya kalau suatu hari nanti hidupnya akan berhasil.

Nadya masih ingat pertama kali Gilang menjemputnya di kampus menggunakan motornya dulu. Helmnya bahkan lecet di beberapa bagian.

“Ayo naik.”

“Aku malu.”

“Malu kenapa?”

“Motor kamu bunyinya kaya mau meledak.”

Gilang langsung tertawa keras. “Yaudah jalan kaki aja.”

“Gamau.”

“Tuh kan.”

Akhirnya Nadya tetap naik sambil mengomel sepanjang jalan. Dan Gilang selalu tertawa mendengar ocehannya. Mereka dulu sesederhana itu. Makan mie ayam pinggir jalan. Ngopi di kedai kecil dekat kampus. Atau duduk berdua di minimarket dua puluh empat jam karena Gilang masih harus mengerjakan revisi proposal bisnisnya.

“Lambung kamu rusak nanti.” Nadya termasuk perempuan yang sangat waspada terkait kesehatan laki-laki itu. 

“Belum sukses udah mati duluan aku kalau nggak minum kopi.”

“Lebay.” 

Namun Nadya tahu. Di balik semua ambisinya, Gilang sebenarnya hanya takut gagal. Laki-laki itu pernah hidup di titik paling bawah. Pernah diremehkan. Pernah dianggap tidak akan berhasil. Karena itu saat semua orang meragukan Gilang, Nadya memilih tetap tinggal. Ia menemani laki-laki itu dari nol.

Dan Nadya masih ingat jelas bagaimana laki-laki itu dulu menatapnya penuh keyakinan.

“Nanti kalau aku berhasil…”

“Hm?”

“Aku pengen bikin rumah.”

“Rumah?”

“Iya.”

“Buat siapa?” 

Gilang waktu itu hanya tersenyum kecil sambil menggenggam tangannya. “Buat kita.” Dan bodohnya, Nadya sempat benar-benar percaya mereka akan sampai sejauh itu. Namun hidup ternyata tidak sesederhana mimpi dua anak muda yang sedang jatuh cinta. Semakin besar perusahaan Gilang, semakin sedikit waktu yang ia punya.

Sedikit demi sedikit, hubungan mereka mulai berubah. Nadya mulai terbiasa makan sendiri. Pulang sendiri. Datang ke acara kampus sendiri. Sedangkan Gilang semakin tenggelam dalam hidupnya yang berantakan. Pertengkaran mereka tidak pernah benar-benar besar. Justru itu masalahnya. Mereka terlalu sering memilih diam.

Sampai akhirnya…diam itu berubah menjadi jarak. Nadya masih ingat satu malam ketika ia menangis sendirian di apartemennya karena Gilang membatalkan janji lagi. Waktu itu ulang tahunnya. Dan Gilang lupa. Padahal Nadya sudah menunggu hampir tiga jam di restoran. Saat laki-laki itu akhirnya datang tengah malam dengan wajah lelah dan permintaan maaf, Nadya hanya bertanya satu hal kecil.

“Aku ini masih penting nggak sih buat kamu?”

Dan Gilang yang bahkan terlalu lelah untuk berpikir, hanya menjawab, “jangan mulai malam ini, Nad.” Kalimat sederhana itu…anehnya jauh lebih menyakitkan dibanding bentakan apa pun.

Gilang memang mencintainya. Tapi laki-laki itu tidak pernah benar-benar tahu cara membagi hidupnya sendiri.

Dulu, saat Nadya masih berada di semester akhir kuliahnya, Gilang selalu berusaha menjadi sosok yang bisa diandalkan. Meski sibuk membangun perusahaannya dari nol, laki-laki itu tetap menyempatkan diri hadir di banyak hal kecil dalam hidup Nadya. Saat itu Gilang sendiri baru menyelesaikan pendidikan S2 Manajemen Bisnis dan Properti. Kepalanya penuh ambisi soal bagaimana caranya membuat Magna Land bertahan di tengah kerasnya dunia bisnis Jakarta.

Namun di sela hidupnya yang berantakan, Nadya tetap menjadi tempat pulangnya. Atau setidaknya itu yang dulu Nadya percaya. Malam sebelum sidang akhirnya, Nadya masih ingat bagaimana Gilang meneleponnya di tengah kesibukan kantor.

“Kamu besok sidang jam berapa, sayang?” tanya laki-laki itu sambil sesekali terdengar mengetik sesuatu di laptopnya.

“Jam sepuluh, Mas.”

“Hm.”

“Kamu beneran datang kan?”

Lihat selengkapnya