Hari demi hari terus berjalan. Semua orang kembali tenggelam dalam kesibukannya masing-masing. Gilang sibuk dengan pembangunan proyek baru Magna Land yang mulai memasuki tahap besar. Hampir setiap hari laki-laki itu berpindah dari meeting ke site project tanpa jeda. Anasera juga semakin jarang memiliki waktu istirahat yang benar-benar tenang. Rumah sakit sampai anak-anak koas yang kini berada di bawah tanggung jawabnya membuat hidupnya nyaris hanya berisi pekerjaan.
Namun di tengah semua kesibukan itu tanpa banyak orang sadari, Melody dan Heksa justru semakin dekat. Seperti siang itu. Untuk pertama kalinya, Heksa datang ke lokasi shooting series terbaru Melody yang berada di kawasan studio Jakarta Selatan. Laki-laki itu duduk santai di area monitor sambil sesekali memperhatikan proses syuting yang sedang berlangsung. Kemeja hitam lengannya tergulung rapi dipadukan dengan celana bahan gelap membuat auranya tetap terlihat formal meski sedang santai. Dan sialnya visual Heksa terlalu mencolok untuk ukuran “orang biasa”.
Beberapa crew bahkan diam-diam memperhatikannya sejak tadi. “Mas…”
Heksa menoleh pelan. Seorang perempuan berhijab dengan headset produksi di lehernya tersenyum ramah ke arahnya. “Gue Arin. Manager-nya Melody.”
“Oh,” Heksa langsung berdiri sopan lalu menjabat tangannya singkat. “Heksa.”
“Iya, gue tau.” Jawaban itu langsung membuat Heksa tertawa kecil. “Sebenernya baru ini gue nggak kerepotan ngurus Mel,” lanjut Kak Arin santai sambil duduk di kursi sebelahnya. “Kayaknya semenjak deket sama lo, dia lebih happy dan tertata.”
Heksa mengangkat sebelah alis. “Masa sih?”
“Bener pak.” Kali ini suara lain ikut menyahut. Rafi—salah satu crew kamera—ikut nimbrung sambil membawa kopi. “Setuju gue,” katanya. “Baru kali ini gue liat Mel nggak bete di tengah panasnya shooting. Bahkan dia lebih banyak senyumnya.”
Heksa langsung melirik ke arah set shooting. Dan benar saja. Di sana Melody sedang tertawa lepas bersama lawan mainnya sambil sesekali membaca ulang script. Entah kenapa melihat perempuan itu nyaman membuat Heksa ikut tenang.
“Pak Heksa ini beneran jaksa kan?” tanya Rafi tiba-tiba.
Heksa langsung terkekeh. “Emang saya keliatan kayak apa sih, Mas?”
“Nggak gitu pak,” jawab Rafi cepat sambil nyengir. “Gue kira bapak juga artis. Tapi kok kayak nggak pernah liat di TV juga.”
Heksa langsung menghela napas pasrah. “Lebih santai aja gimana, Mas?” katanya sambil tertawa kecil. “Jangan panggil saya bapak kalau lagi kayak gini. Formal banget.”
“Oh siap Mas Heksa.”
“Nah gitu.”
Kak Arin ikut tertawa kecil melihat interaksi mereka. “Serius deh,” lanjutnya kemudian. “Ada kali seminggu ini Mel nggak ngrepotin gue.”
“Wah separah itu ya biasanya?” tanya Heksa geli.
“Parah.”
“Fitnah,” sahut Melody tiba-tiba dari belakang. Semua langsung menoleh. Perempuan itu baru selesai take scene dengan rambut yang sedikit berantakan dan pipi memerah karena cuaca panas. Melody sedang touch up dibantu oleh asistennya. Namun begitu melihat Heksa, raut wajahnya langsung berubah lebih cerah. Dan itu tidak luput dari perhatian semua orang di sana.
“Curiga itu kayaknya lagi keluar sama lo ya, Mas?” goda Kak Arin lagi.
Heksa langsung bersandar santai sambil melipat tangan. “Keluar yang mana dulu ini?”
“Waduh…” Rafi langsung ngakak. “Kayaknya udah sering ya kalian keluar bareng.”
“Hahaha enggak juga sih,” jawab Heksa santai. “Beberapa kali.”
“Surprise banget sumpah,” lanjut Kak Arin. “Gue juga kaget pas kemarin Mel bilang nggak usah dijemput ke rumahnya.”
Melody langsung mendelik. “Kak Arin…”
“Gue kira berangkat sendiri tuh anak,” lanjut manager-nya tanpa dosa. “Eh bawa cowok ternyata.”
Heksa spontan menoleh ke Melody yang langsung salah tingkah sendiri. “Emang dia nggak pernah sama cowok sebelumnya?” tanya Heksa santai.
“Nggak pernah, Mas,” jawab Kak Arin cepat. “Melody ini termasuk artis gue yang paling aman.”
“Apaan sih Kak…”
“Bener kan?” lanjutnya cuek. “Meski perfeksionis soal kebersihan, dia nggak pernah ada skandal soal cowok. Sama lawan main juga aman-aman bae.”