Sudah hampir delapan bulan Anasera tidak mengambil cuti. Hidupnya terlalu penuh dengan jadwal jaga, visit pasien, laporan rumah sakit, dan sekarang tambahan tanggung jawab untuk mengurus anak-anak koas selama Dokter Haris cuti sementara. Karena itu ketika Raditya menawarkan ikut seminar nasional bedah dan penyakit kardiovaskular di Bandung selama sehari, awalnya An langsung menolak.
Namun pada akhirnya An tetap ikut. Entah karena memang butuh jeda, atau karena Radit terlalu pintar membujuknya. Dan ajaibnya, permohonan cuti sehari An kali ini langsung disetujui pihak rumah sakit karena jatah cutinya tahun itu bahkan belum pernah dipakai sama sekali.
Meski sebelum berangkat, An sempat merasa bersalah meninggalkan anak-anak koas sehari penuh.
“Dok, maaf banget ya saya nitip anak-anak dulu.”
Dokter Rizky yang sedang minum kopi di nurse station langsung tertawa kecil. “Ya Allah An…” katanya santai. “Cuma sehari ini.”
“Takut chaos aja.”
“Yang chaos itu hidup gue, An.”
An sampai tertawa mendengar jawabannya. “Beneran nggak apa-apa?”
“Pergi aja sana.” Rizky melambaikan tangan pasrah. “Lo juga manusia kali sesekali.”
Dan akhirnya pagi itu, An benar-benar berangkat ke Bandung bersama Radit. Perjalanan yang awalnya hanya terasa seperti seminar biasa, anehnya malah menjadi salah satu hari paling tenang yang An rasakan beberapa bulan terakhir.
***
Bandung menyambut mereka dengan udara yang jauh lebih dingin dibanding Jakarta. Hotel tempat seminar berlangsung berada di pusat kota dengan ballroom besar yang sejak pagi sudah dipenuhi dokter dari berbagai rumah sakit. Ada dokter senior. Residen. Dokter umum. Bahkan beberapa konsulen terkenal yang namanya cukup besar di dunia medis Indonesia.
An duduk di samping Radit sambil memperhatikan booklet seminar yang tebalnya hampir seperti modul kuliah. “Capek belum?” tanya Radit sambil menyerahkan kopi.
“Belum mulai juga.”
“Takutnya nanti pingsan.”
An mendecih kecil. “Yang ada saya lebih segar di sini dibanding di RS.”
Dan itu benar. Untuk pertama kalinya setelah beberapa bulan, kepala An terasa sedikit lebih ringan. Seminar hari itu membahas perkembangan terbaru penanganan penyakit kardiovaskular dan bedah minimal invasif pada pasien risiko tinggi. Topik yang cukup berat.
Sedangkan Radit lebih sering memperhatikan An dibanding layar presentasi. Cara perempuan itu serius. Cara ia berpikir cepat. Sampai kebiasaan kecilnya menggigit ujung pulpen saat sedang fokus. Semua terasa terlalu menarik untuk diabaikan. Sesi demi sesi berjalan cukup panjang sampai akhirnya masuk ke pembahasan utama oleh salah satu pemateri paling ditunggu hari itu:
Dokter Adrian Mahendra. Dokter spesialis bedah jantung muda yang cukup terkenal karena penelitiannya tentang minimally invasive cardiac surgery di Singapura. Dan jujur saja visual dokter itu memang terlalu mencolok untuk ukuran dunia medis. Tidak heran beberapa peserta perempuan terutama mahasiswi kedokteran yang sejak tadi terlihat cukup antusias.
“Cakep juga ya pematerinya,” bisik salah satu dokter muda di belakang mereka.
Radit langsung melirik malas. Sedangkan An tetap fokus pada slide presentasi. Dokter Adrian menjelaskan cukup detail mengenai pendekatan operasi minimal invasif pada pasien gagal jantung dengan risiko komplikasi tinggi.
Begitu sesi tanya jawab dibuka, An langsung mengangkat tangan. Awalnya ballroom cukup hening. Mayoritas peserta tampak masih ragu untuk bertanya. Namun saat panitia memberikan microphone pada An, cukup banyak orang mulai memperhatikannya. Karena selain masih muda, An memang terlalu cantik untuk tidak dilihat.
“Selamat siang, Dok,” ucapnya tenang. “Saya Anasera dari Jakarta.”
Dokter Adrian langsung mengangguk ramah dari atas panggung. “Silakan, Dokter Anasera.”
An melihat slide presentasi beberapa detik sebelum akhirnya mulai berbicara. “Kalau melihat data survival rate pasien gagal jantung dengan komorbid diabetes yang dokter tampilkan tadi…” Nada suaranya tenang. “…apakah pendekatan minimally invasive tetap efektif untuk pasien dengan kondisi hemodinamik yang cenderung tidak stabil?”
Ballroom langsung sedikit lebih sunyi. Beberapa peserta mulai memperhatikan serius. An melanjutkan tanpa ragu. “Karena di beberapa kasus yang saya temui, justru risiko post-operative complication meningkat walaupun prosedurnya lebih minimal trauma.”
Salah satu dokter senior bahkan terlihat mengangguk kecil. Sedangkan Dokter Adrian di depan panggung mulai tersenyum samar. Tertarik.
“Terutama pada pasien dengan kontrol gula darah yang buruk,” lanjut An lagi. “Karena respons inflamasi pasca-operasi kadang tetap sulit diprediksi.” Kini bahkan beberapa peserta mulai ikut mencatat. Pertanyaannya terlalu spesifik untuk ukuran dokter umum biasa. Dan jelas terlihat kalau An benar-benar memahami apa yang ia bicarakan.
“Pertanyaan bagus, Dokter.” Nada suara Dokter Adrian berubah sedikit lebih antusias. “Dan jujur, jarang ada yang menyoroti bagian itu.”
Diskusi mereka berlangsung cukup panjang. Beberapa kali An juga menanggapi balik dengan data kasus yang pernah ia temui di rumah sakit. Sampai akhirnya suasana seminar berubah seperti forum diskusi kecil antara dua dokter yang sama-sama kritis.
***
Siang itu kawasan pembangunan proyek terbaru Magna Land terlihat jauh lebih sibuk dibanding biasanya. Suara mesin proyek, langkah para pekerja, dan aktivitas lapangan memenuhi area pembangunan mixed-use building yang akan menjadi salah satu proyek terbesar perusahaan tahun itu. Di tengah suasana tersebut, Gilang berjalan berdampingan dengan Laura yang sejak tadi memperhatikan area proyek dengan cukup antusias.