The Last Destination

Firsty Elsa
Chapter #16

Gapapa, Capek Juga Bagian Perjalanan

Sejak sore, Gilang sudah berada di apartemen Anasera. Sendirian. Lampu ruang tamu menyala temaram. Jas kerjanya bahkan sudah dilempar sembarangan ke sofa sejak satu jam lalu. Ponselnya berkali-kali dibuka, lalu dikunci lagi dengan ekspresi yang semakin lama semakin buruk. Tidak ada balasan dari An. Tidak ada kabar sama sekali dari gadis itu. Padahal sejak siang tadi Gilang sudah mencoba menghubunginya berkali-kali. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, dan perempuan itu belum juga muncul.

Ceklek.

Suara pintu akhirnya terdengar. Gilang langsung menoleh cepat. Anasera masuk dengan wajah lelah. Rambutnya sedikit berantakan, hoodie abu oversized menutupi tubuh kecilnya, sementara di pundaknya tergantung ransel pinknya. Di kedua tangannya ada beberapa paperbag oleh-oleh dari Bandung.

Begitu melihat Gilang langkah An langsung berhenti. “Lo ngapain di sini?” Nada suaranya lelah. Bukan senang.

Dan itu entah kenapa makin memancing emosi Gilang. “Ke mana aja lo?”

An mengernyit pelan sambil meletakkan paperbag di meja. “Hah?”

“Gue nanya, ke mana aja lo?”

“Seminar, di Bandung.”

“Jangan becanda sama gue, An.”

An langsung menatap Gilang penuh heran. “Ya emang dari Bandung. Lo kenapa sih?”

“Kenapa nggak ngabarin?”

“Loh?”

“Lo tau gue nyariin lo dari tadi?” Nada suara Gilang mulai naik.

Sedangkan An yang memang sudah kelelahan sejak perjalanan pulang hanya menghela napas panjang. “Mas…” katanya pelan. “Gue capek.”

“Gue juga capek!”

“Terus lo maunya gimana?!”

“Minimal kabarin kek!”

An mulai kehilangan sabar. “Emang kenapa kalau gue nggak ngabarin?”

“Karena gue khawatir!”

“Berlebihan tau nggak sih.”

Satu kalimat itu langsung membuat rahang Gilang mengeras. “Berlebihan?”

“Iya.” An menatap Gilang lelah. “Udah dua hari ini kita sama-sama sibuk, kan? Lo juga nggak nyariin gue terus.”

“Karena gue kerja!”

“Ya gue juga kerja, Mas!” Suara An akhirnya ikut meninggi. Ruangan apartemen itu mendadak terasa sesak. “Gue capek, Mas!” lanjutnya dengan napas mulai tidak stabil. “Dari pagi seminar di Bandung, dan sekarang lo malah ngomelin gue.”

“Karena lo nggak bisa dihubungin!”

“HP gue lowbat di perjalanan!”

“Alasan.”

An langsung tertawa kecil saking kesalnya. “Yaudah terserah lo.”

“Lo tuh kenapa sih sekarang jadi susah dicari?” 

Kalimat itu membuat An perlahan menatap Gilang. Tatapannya berubah. Kecewa. “Excuse me?”

“Gue nanya serius, An.”

“Bukan urusan lo juga nggak sih Mas.”

Gilang mengusap wajah kasar. “An, gue tuh cuma khawatir sama lo.”

“Gue nggak perlu dikhawatirin, Mas.”

Sunyi. Kalimat itu akhirnya keluar juga. Dan untuk pertama kalinya malam itu, Gilang terdiam. Sedangkan An memejamkan mata sebentar sebelum akhirnya berkata lebih pelan, “Gue nggak ilang, Mas.”

“Tapi lo berubah.”

An tertawa hambar. “Yang berubah tuh gue atau lo?”

“Apa sih susahnya ngabarin gue satu chat doang?”

“Apa sih susahnya lo ngerti kalau gue juga punya batas capek?!” Suara An pecah. Matanya mulai memerah. “Lo dateng ke sini marah-marah seolah hidup gue harus standby buat lo terus!”

“Gue nggak bilang gitu.”

“Tapi sikap lo begitu!” Napas An mulai bergetar. Dan semakin Gilang melihat perempuan itu marah, semakin ia sadar kalau semuanya sudah terlambat untuk ditenangkan. “Gue tuh juga manusia, Mas…” Kali ini suaranya jauh lebih kecil. Lelah. “Sumpah… gue capek banget.”

Gilang langsung ingin bicara lagi, namun An menggeleng cepat. “Nggak.” Perempuan itu mundur selangkah. “Mending lo pulang.”

“An—”

“Gue nggak mau ketemu lo kalau lo lagi emosi.” Nada suaranya bergetar. “Gue juga capek, Mas.” Matanya mulai berkaca-kaca. “Gue mau istirahat.”

“Lo ngusir gue?”

“Daripada kita makin nyakitin satu sama lain.” Sunyi. Beberapa detik terasa terlalu panjang. Lalu akhirnya An berjalan mendekat, mendorong pelan tubuh Gilang menuju pintu apartemen. “An…”

Lihat selengkapnya