The Last Destination

Firsty Elsa
Chapter #17

Dokter Juga Manusia

Malam itu ruang diskusi koas di lantai empat rumah sakit masih cukup ramai meski jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Beberapa mahasiswa koas masih duduk mengelilingi meja panjang sambil membuka laptop dan jurnal masing-masing. Sedangkan di depan whiteboard, Anasera berdiri sambil menjelaskan hasil evaluasi kasus pasien sore tadi.

“Okay,” ucapnya pelan sambil menuliskan beberapa poin terakhir. “Kalau pasien dengan acute decompensated heart failure kayak tadi, jangan cuma fokus ke simptom sesaknya aja. Cari underlying problem-nya juga. Understand?”

“Iya, Dok,” jawab mereka hampir bersamaan.

An mengangguk kecil. “Terus untuk terapi farmakonya…” ia kembali membuka tablet di tangannya. “Kalian jangan cuma hafal dosis. Kalian harus ngerti kenapa obat itu dipilih.” Nada suaranya tetap tenang dan profesional seperti biasa. Namun malam itu An terlihat jauh lebih lelah. Wajahnya pucat. Bibirnya sedikit kehilangan warna. Dan beberapa kali ia harus menahan diri untuk tetap fokus membaca layar tabletnya.

“Dok, kalau pasien dengan diabetes dan gagal jantung lebih diprioritaskan yang mana stabilisasinya?” tanya Revin.

An mengangkat kepala pelan. “Depends on the condition,” jawabnya lirih. “Kalau hemodinamiknya udah nggak stabil, obviously kita stabilisasi jantung dulu…” Kalimatnya sempat terhenti sepersekian detik. An memegang pinggir meja sebentar sebelum kembali melanjutkan dengan senyum tipis. “Tapi gula darahnya juga tetap harus terkontrol ya.”

Beberapa anak koas langsung saling melirik kecil. Karena mereka sadar dokter pembimbing mereka malam ini terlihat tidak seperti biasanya. “Udah ya…” kata An akhirnya sambil menutup tablet. “Sisanya kalian pelajari lagi malam ini. Besok kita bahas sebelum visit pagi.”

“Siap, Dok.” An mengangguk kecil lalu mulai membereskan barang-barangnya.

“Dokter,” panggil Livy pelan. “Dokter nggak apa-apa?”

An menoleh sambil tersenyum kecil. “Hm?”

“Pucat banget…”

“Capek aja kayaknya.”

An hanya mengangguk pelan. “Iya aman. Saya cukupkan sampai sini ya, besok kita lanjut.” Sekitar lima belas menit kemudian, An akhirnya benar-benar pulang. Sendirian. Dengan hoodie abu oversized dan ransel hitam di pundaknya, ia berjalan pelan keluar rumah sakit menuju titik jemput ojek online.

Sedangkan di ruang diskusi koas, anak-anak masih belum bubar sepenuhnya. Sampai pintu ruangan terbuka. Dokter Radit masuk sambil membawa beberapa lembar berkas.

“Dokter An di sini?”

Revin langsung menoleh. “Loh, udah pulang dok. Baru aja lima menit lalu.”

Radit mengernyit kecil. “Pulang?”

“Iya dok.”

Radit terlihat berpikir sebentar sebelum akhirnya bertanya lagi, “Ada nitip sesuatu nggak?”

“Nggak ada sih, Dok,” jawab Livy.

Namun beberapa detik kemudian Dirga tiba-tiba berkata, “Dok…”

“Hm?”

“Tadi Dokter An keliatan pucet banget deh.”

Radit langsung menoleh penuh perhatian. “Pucat?”

“Iya dok,” lanjut Dirga. “Pas jelasin juga kayak kurang semangat gitu.”

“Nah iya,” sahut Rian cepat. “Kayaknya lagi sakit deh. Udah saya tanyain tapi nggak mau ngaku.”

“Iya dok,” tambah Livy pelan. “Saya jadi ikut khawatir…”

Ruangan itu mendadak sedikit lebih sunyi. Sedangkan Radit perlahan mulai merasa tidak tenang. Karena ia tahu persis Anasera adalah tipe orang yang akan tetap bilang baik-baik saja, bahkan saat tubuhnya sebenarnya sudah hampir tumbang. Radit langsung mengambil ponselnya. Namun panggilannya tidak diangkat. Dan entah kenapa, perasaan tidak enak mulai muncul di kepalanya. Tanpa banyak bicara lagi, Radit langsung meraih kunci mobilnya.

“Dok?” panggil Revin bingung.

Lihat selengkapnya