The Last Destination

Firsty Elsa
Chapter #18

Batas Penolakan

Kantin executive Magna Land pagi itu masih cukup ramai meski belum ada pukul 10 siang. Beberapa pegawai masih duduk sambil membawa laptop dan dokumen proyek masing-masing. Sedangkan di sudut dekat jendela kaca besar, Gilang duduk berhadapan dengan Laura. Proyek gabungan itu membuat keduanya hampir setiap hari bertemu. Di meja mereka terbuka blueprint proyek kawasan mixed-use terbaru Magna Land yang sedang masuk tahap pembangunan awal.

“Kalau untuk area commercial-nya, gue rasa tenant F&B masih paling kuat,” ujar Laura sambil menunjuk salah satu bagian layout. “Apalagi lokasi kita strategis buat anak muda dan keluarga.”

Gilang mengangguk pelan. “Masuk akal.”

“Cuma akses parkirnya harus diperbesar.”

“Jehan juga ngomong hal yang sama tadi siang.”

Laura tersenyum kecil. “Gue suka cara kerja lo sih. Detail.”

“Karena kalau nggak detail, bisa habis dibunuh investor.”

Laura terkekeh pelan mendengar itu. Malam itu obrolan mereka terasa ringan. Laura memang tipe perempuan yang cepat menangkap arah berpikir Gilang. Itu membuat diskusi mereka jarang terasa membosankan. Bahkan Jehan yang duduk tidak jauh dari sana sambil membuka laptop beberapa kali memperhatikan keduanya diam-diam.

Secara dunia kerja, mereka memang terlihat seimbang. Namun, beberapa detik kemudian ponsel Gilang yang tergeletak di meja tiba-tiba menyala. Nama Heksa muncul di layar. Gilang awalnya hanya melirik biasa. Sampai akhirnya matanya menangkap isi pesan itu.

Seketika ekspresi Gilang berubah. Kosong.

“Mas?” Laura langsung menyadari perubahan wajah laki-laki itu. Namun, Gilang sudah buru-buru berdiri sambil meraih ponsel dan kunci mobilnya.

Sorry. Ada urusan mendadak.” Nada suaranya cepat. 

Jehan langsung mengangkat kepala dari laptopnya begitu menyadari perubahan itu. “Pak?”

“Je,” Gilang menoleh singkat. “Tolong temenin Laura dulu.”

Jehan mengernyit kecil. “Loh, mau ke mana?” 

Namun Gilang tidak langsung menjawab. Ia bahkan sudah berjalan beberapa langkah menjauh sebelum akhirnya berkata singkat, “Emergency.” Dan setelah itu laki-laki itu benar-benar pergi begitu saja. Laura sempat terdiam beberapa detik sambil melihat arah Gilang menghilang.

***

Koridor rumah sakit pagi itu tidak terlalu ramai. Beberapa perawat berlalu-lalang membawa obat dan dokumen pasien. Aroma antiseptik memenuhi udara, membuat suasana terasa dingin dan melelahkan. Sedangkan di ujung lorong lantai rawat inap, Melody baru saja keluar dari lift sambil membawa paperbag berisi sarapan dan beberapa kebutuhan An.

Hari itu ia baru selesai reading. Rambutnya masih diikat asal. Wajahnya juga nyaris tanpa makeup. Karena sejak semalam, fokusnya hanya menjaga sahabatnya. Namun, langkahnya mendadak terhenti saat melihat sosok laki-laki tinggi berdiri tidak jauh dari nurse station.

Gilang. Jantung Melody langsung berdegup sedikit lebih cepat. Refleks pertama yang muncul di kepalanya cuma satu, jangan sampai Gilang tahu An dirawat di mana. Tanpa berpikir panjang, Melody langsung membalikkan badan dan memilih berjalan ke arah lain.

“Mel.”

Sial. Melody memejamkan mata sebentar sebelum akhirnya berhenti. Sedangkan Gilang langsung berjalan cepat menyusulnya. Wajah laki-laki itu terlihat jauh lebih berantakan dibanding biasanya.

“Mel, please,” katanya pelan namun buru-buru. “Kasih tau gue An dirawat di mana.”

Melody langsung menatapnya datar. “Lo nggak butuh itu, Mas.”

“Mel—”

“Pulang aja mas.”

Gilang menghela napas frustrasi. “Gue cuma mau liat keadaan dia.”

“Bukannya nggak penting ya?” Kalimat itu keluar dengan cepat membuat Gilang terdiam sepersekian detik. Melody tertawa kecil tanpa humor. “Kemarin-kemarin ke mana aja?”

Lihat selengkapnya