Malam itu hujan turun tipis di Jakarta. Lampu-lampu kota memantul samar di kaca besar sebuah coffee bar yang masih buka hampir tengah malam. Tempat itu tidak terlalu ramai. Hanya beberapa pekerja kantoran dan mahasiswa yang masih duduk dengan laptop mereka masing-masing. Sedangkan di area mini bar dekat rak kopi, Jehan duduk lebih dulu sambil memutar pelan gelas americano dinginnya.
Tak lama kemudian, Heksa datang. Masih memakai kemeja yang lengan bajunya digulung sampai siku. Wajahnya juga terlihat lelah setelah bolak-balik rumah sakit dan kantor.
“Anjir… capek banget muka lo,” komentar Jehan begitu Heksa duduk di sebelahnya.
Heksa tertawa kecil. “Lo juga.”
Barista datang mengantarkan americano pesanan Heksa. Dan setelah itu, suasana langsung hening beberapa detik. Karena keduanya sama-sama tahu topik apa yang akan dibahas malam ini.
“Gilang masih kacau?” tanya Heksa akhirnya sambil menyeruput kopinya.
Jehan langsung menghela napas panjang. “Kacau.”
“Separah itu?”
“Meeting tadi aja ngelamun mulu.”
Heksa mengangguk kecil seolah tidak terkejut. “Padahal biasanya tuh orang paling nggak bisa kerja berantakan.”
Jehan bersandar ke kursinya. “Dia tuh kayak… pikirannya nggak di kantor sama sekali.”
Heksa diam mendengarkan. Lalu laki-laki itu tertawa kecil hambar. “Jujur ya Je… gue bingung.”
“Karena Melody?”
“Karena semuanya.” Heksa mengusap tengkuknya pelan. “Gue nggak bisa bantu Gilang banyak sekarang.”
“Karena Melody nggak suka?”
“Bukan cuma itu,” jawab Heksa cepat. “Melody percaya sama gue buat jagain keadaan An sekarang.” Dan Heksa tidak mau merusak kepercayaan itu. Jehan mengangguk paham. “Kalau gue bocorin semuanya ke Gilang terus dia bikin keadaan makin ribet, Melody pasti kecewa banget sama gue.”
“Ya wajar.”
“Tapi di sisi lain…” Heksa menatap kopinya sebentar. “Gue juga nggak tega liat Gilang kayak orang ilang arah gitu.” Jehan tertawa kecil. “Padahal dulu pas putus sama Nadya aja dia nggak sampe segininya.”
“Nah itu.”
Keduanya langsung sama-sama diam. Karena mereka sadar ini bukan lagi sekadar hubungan sahabat biasa. Hanya saja, Gilang sendiri mungkin belum berani mengakuinya.
“Ngomong-ngomong…” Heksa melirik Jehan. “Dia masih deket sama Nadya?”
Jehan terkekeh kecil mendengar itu. “Ya lo tau sendiri Gilang masih gamon sama dia.”
“Anjir.”
“Tapi bukan berarti dia nggak peduli sama An,” tambah Jehan cepat.
“Justru itu masalahnya,” gumam Heksa pelan. Karena Gilang seperti tidak bisa melepaskan keduanya.
“Kadang gue bingung isi kepala dia tuh apa,” lanjut Jehan sambil tertawa kecil frustrasi. “Dia sayang sama An. Tapi Nadya juga nggak selesai.”
“Makanya gue kesel sama dia.”
“Tapi lo tetep bantuin dia.”
“Ya, karena dia sahabat gue juga, bego.” Jehan langsung tertawa kecil. Suasana jadi sedikit lebih ringan.
Heksa ikut terkekeh sambil menggeleng. “Tapi Je,” katanya kemudian. “Kalau dia terus kayak gini… yang paling sakit nanti tetep An.” Jehan terdiam. Karena itu memang benar.
“Apalagi…” Jehan menghela napas panjang sebelum melanjutkan lirih, “ada Laura sekarang.”
Heksa langsung menoleh. “Yang partner marketing dia?”
“Hm.”