The Last Destination

Firsty Elsa
Chapter #20

Entahlah, Rasanya Cukup Menyiksa

Pagi itu, koridor Lentera Medika masih sepi. Langit bahkan belum sepenuhnya terang ketika pintu kamar VIP 12 terbuka perlahan. Radit masuk sambil membawa dua paper bag dan beberapa cup minuman hangat di tangannya. Aroma bubur ayam dan kopi langsung menyebar pelan ke dalam ruangan. Pandangan pertamanya jatuh ke sofa. Melody masih tertidur di sana. Tubuhnya meringkuk di bawah selimut motif pink-kuning yang entah sejak kapan berpindah dari rumah ke rumah sakit. Hoodie hitam oversized yang ia pakai sejak semalam juga belum diganti. Radit mengenali hoodie itu. Sepertinya milik Heksa. Semalam laki-laki itu memang datang mengantar Melody sebelum akhirnya pulang dini hari. Entahlah, hubungan mereka masih belum jelas.

Radit tersenyum kecil sebelum mengalihkan pandangannya ke arah ranjang pasien. An ternyata sudah bangun. Perempuan itu sedang bersandar sambil memperhatikan dirinya yang masuk. "Lo rajin amat pagi-pagi begini."

Belum sempat Radit menjawab, Melody yang mendengar suara mereka mulai bergerak pelan di sofa. Kelopak matanya terbuka setengah. "Dok...?"

"Lanjut tidur aja, Mel," ujar Radit pelan. "Gue tau lo belum tidur lama."

Melody mengerjap beberapa kali. Baru setelah itu ia sadar akan kondisi sekitarnya. "S-sorry ya dok..." gumamnya sambil duduk. "Masih berantakan banget. Mata gue lengket banget, sumpah." Ia baru sadar mukena yang dipakai untuk salat Subuh tadi masih tergeletak sembarangan di dekat sofa. 

Radit hanya tertawa kecil. "Santai aja." Melody mengangguk lalu kembali menjatuhkan kepalanya ke sandaran sofa. Niatnya hanya memejamkan mata sebentar. Namun, lima detik kemudian sudah tertidur lagi.

An langsung terkekeh melihat itu. "Kasihan banget."

"Dia emang tidur berapa jam?"

"Nggak nyampe dua jam kayaknya." Keduanya menoleh ke arah Melody yang sudah kembali pulas.

Radit ikut menghela napas kecil. "Sebenernya gue kagum sih."

"Hm?"

"Dia capek banget tapi tetep maksa jagain lo. Padahal gue nggak perlu digantiin sama dia."

An menatap sahabatnya beberapa detik. Dadanya terasa hangat. "Mel emang gitu." Radit mengangguk setuju. Lalu mulai mengeluarkan sarapan dari paper bag yang dibawanya. "Btw," kata An tiba-tiba, "kok lo rajin banget sih jam segini udah di sini?"

Radit tersenyum tipis. "Sekalian aja sih." Ia menarik kursi dan duduk lebih dekat ke ranjang An. "Mampir sebelum masuk shift."

An langsung mendecih pelan. "Mentang-mentang jalan rumah lo ngelewatin Lentera segala, mampir dulu."

Radit tertawa. Karena sebenarnya alasannya jauh lebih sederhana dari itu. Ia hanya ingin memastikan kondisi An pagi ini. "Hahaha. Sengaja sih. Mau mastiin lo ada perbaikan dari kemarin aja."

An menggeleng kecil. Namun, senyumnya tidak hilang. "Udah lumayan baik kok."

"Bagus dong."

"Ya berkat kalian juga sih." Radit diam mendengarkan. "Jujur aja..." lanjut An sambil melihat keluar jendela. "Gue udah bosen di sini terus." 

Radit memperhatikan wajahnya sebentar. Lalu ide itu muncul begitu saja. "Mau keluar jalan-jalan nggak?"

An langsung menoleh. "Hah?"

"Mumpung masih pagi." Radit melirik jam tangannya. "Di taman belakang juga belum banyak orang."

Mata An langsung berbinar sedikit. Radit menangkap perubahan itu. Sudah berhari-hari perempuan itu terjebak di kamar rawat. Wajar kalau mulai bosan. "Boleh deh..." An tersenyum kecil. "Asal nggak ngerepotin."

"Ngerepotin apanya?"

"Nanti dokter dimarahin."

Lihat selengkapnya