The Last Destination

Firsty Elsa
Chapter #22

Kabar Bahagia

An yang sedang duduk di atas ranjang langsung tersenyum melihat lima anak koasnya masuk bergerombol membawa buah, makanan, dan entah apalagi di dalam kantong-kantong besar.

"Dok!"

"Dokterrr!"

"Dok, kita datang!"

An menggeleng pelan. "Kalian ini mau jenguk orang sakit atau buka bazar?"

"Loh dok, kan nggak enak datang tangan kosong."

"Iya, dok."

"Ini buah pilihan loh."

"Yang milih siapa?" tanya An penasaran. Dia terlihat sangat senang melihat lima orang anak didiknya yang biasanya selalu membuntutinya di rumah sakit. Ah, ternyata rasa rindu itu ada ya.

"Kita dong, Dok."

"Nah itu yang bikin saya makin takut."

Satu ruangan langsung tertawa. Livy yang paling dekat langsung menyerahkan satu kantong buah ke An. "Pokoknya cepat sembuh ya, Dok."

"Iya, makasih."

Mereka berlima langsung mencari tempat duduk masing-masing. Ada yang di sofa, ada yang di kursi, bahkan Dirga sudah santai lesehan di karpet. 

“Wih, ramai nih!” Heksa yang baru keluar kamar mandi lumayan terkejut melihat mereka. “Siapa aja nih, An?” tanya Heksa.

“Kenalin, Mas. Ini anak-anak koas di rumah sakit,” kata An memperkenalkan. “Guys, ini namanya Pak Heksa ya, beliau yang biasanya muncul di beberapa berita televisi. Jaksa muda yang pernah trending topik itu.” 

“Oalah… pantesan kaya pernah liat tapi dimana yaa.” 

“Cakep juga ya aslinya,” lirih Naya sambil berdiri dari duduknya. “Haii Pak, aku Naya, anak didiknya Dokter An.” Naya mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. 

Heksa menyambutnya dan mengangguk mengerti. Hal itu jelas diikuti oleh teman-teman lainnya. Baru beberapa menit ngobrol, pintu kembali terbuka. Melody masuk sambil membawa dua paper bag makanan. 

Livy yang pertama kali sadar. Ia langsung mencubit lengan Revin di sebelahnya. "Rev, Rev..." bisiknya.

"Hm?" Revin menoleh.

"Itu Kak Melody nggak sih?"

Revin mengikuti arah pandang Livy. Lalu membeku. "Anjir?!"

"Apa?" tanya Dirga penasaran.

"Gue nggak lagi ngelindur kan?"

Dirga ikut menoleh. Dua detik kemudian… "Ya Allah!"

Naya refleks menoleh juga. Dan langsung menepuk bahu Dirga. "Jangan teriak bego."

"Cakep banget anjir..." gumam Dirga tanpa dosa.

"Dirga ih!" tegur Livy.

Melody yang mendengar itu hanya tertawa kecil. Ia menghampiri Heksa yang sedang duduk di sofa. "Sorry telat."

"Nggak kok," jawab Heksa santai. Melody kemudian duduk di sebelah laki-laki itu. Kesalahan terbesar mereka adalah duduk terlalu dekat. Heksa juga membantu Melody melepas topinya lalu mengacak puncak rambutnya pelan. 

Rian langsung menyenggol bahu Revin. "Oh my God. Pak Heksa ternyata pacarnya ya?"

"Anjir..." Revin ikut melirik.

Dirga memegangi dada dramatis. "Aduduhh… Gue nih tim jomblo kayaknya sedih banget lihat orang mesra-mesraan di depan muka gue."

"Padahal mereka nggak ngapa-ngapain," sahut Naya.

"Lo buta apa gimana sih, Nay? Jelas banget itu Pak Heksa act of service sama Kak Melody. Pusing gue liatnya." Dirga mulai dramatis.

"Apa lagilah anak ini?” tanya An penasaran. 

"Gue beneran baru aja ngabisin seporsi kekalahan." Satu ruangan langsung tertawa.

An menggeleng. "Dasar."

Livy yang sejak tadi menahan diri akhirnya mengangkat tangan. "Dokter An..."

"Hm?"

"Boleh nggak minta foto sama Kak Melody?"

An langsung tertawa. "Loh, tanya sendiri dong sama orangnya. Kalian belum kenalan, kan?"

Mata Livy langsung berbinar. "Oh boleh?!"

Lihat selengkapnya