Dokter Salsa menutup pintu kamar setelah masuk bersama Radit. Di tangannya terdapat tablet berisi hasil pemeriksaan terbaru An yang baru saja keluar sore itu. Melihat ekspresi santai dokter tersebut, sebenarnya Melody sudah sedikit bisa menebak hasilnya. Namun tetap saja, ia berdiri mendekat ke sisi ranjang An. Heksa yang sejak tadi duduk di sofa ikut berdiri dan mengambil posisi di belakang Melody. Sementara Radit memilih berdiri di ujung ranjang, membiarkan dokter penanggung jawab menyampaikan semuanya.
"Dok, jangan bikin deg-degan dulu ya," ujar An sambil meletakkan sketchbook di sampingnya.
Dokter Salsa langsung tertawa. "Tenang. Kalau hasilnya jelek saya nggak mungkin datang sambil senyum begini."
Melody langsung menyilangkan tangan di depan dada. "Nah iya dok, jangan digantung. Saya dari kemarin udah stres sendiri."
"Yang sakit siapa sebenarnya?" goda Dokter Salsa.
"Ya tetap An. Tapi saya ikut capek tiap hari panik." Salsa tersenyum kecil melihat interaksi mereka sebelum akhirnya kembali fokus pada data pemeriksaan.
"Jadi begini. Dari hasil lab yang keluar hari ini, hampir semua parameter yang kemarin jadi perhatian sudah menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan. Leukosit sudah turun mendekati rentang normal, tanda-tanda infeksi sistemik juga jauh lebih baik dibanding saat pertama masuk. Demam yang muncul beberapa hari lalu kemungkinan besar memang akibat tubuh yang terlalu dipaksa bekerja dalam kondisi kelelahan."
An mengangguk pelan. Ia memang sudah menduga ke arah sana.
"Tekanan darah hari ini juga lebih stabil. Asupan makanan sudah jauh lebih baik dibanding hari pertama. Secara umum, kondisi fisik kamu sekarang jauh lebih bagus."
"Alhamdulillah..." gumam Melody pelan.
Dokter Salsa menoleh kepadanya. "Jujur saja, Melody, dua hari pertama saya cukup khawatir. Karena pasiennya terlalu keras kepala."
"Tuh dengerin, bukan gue doang yang bilang gitu loh, An." Melody langsung menunjuk sahabatnya. An mendecih pelan sementara Heksa menahan tawa.
Dokter Salsa kembali melanjutkan. "Yang paling penting sebenarnya bukan hasil lab hari ini. Yang paling penting adalah respons tubuhnya terhadap istirahat. Artinya tubuh An masih punya kemampuan pemulihan yang sangat baik. Itu kabar yang cukup melegakan."
Radit yang sejak tadi diam akhirnya ikut bicara. "Makanya saya bilang dari awal, pasien ini sebenarnya hanya perlu dipaksa berhenti bekerja."
“Makanya An, kalau gue bilang istirahat tuh nurut.” Melody mulai membahas hal-hal yang lalu. “Jangan dipaksain kalau emang nggak kuat.”
“Dokter juga manusia kali, An. Bukan Ultraman,” tambah Heksa.
"Saya merasa sedang dibully berjamaah deh, Dok,” keluh An mendengar omelan dua pasangan itu.
"Nurut An, jangan keras kepala," jawab Melody tanpa rasa bersalah.
Ruangan kembali dipenuhi tawa kecil. Namun beberapa detik kemudian, Dokter Salsa kembali membuka data di tabletnya. "Nah, karena kondisi umumnya sudah membaik, saya berani mengatakan satu hal. Besok pagi An sudah boleh pulang."
Hening sepersekian detik. Lalu…
"Serius dok?" Kali ini bukan An yang bertanya. Melody. Suaranya terdengar jauh lebih antusias.
An sendiri terlihat langsung tersenyum lega. Mungkin itu senyum paling tulus yang muncul sejak ia masuk rumah sakit. "Beneran boleh pulang?"
"Boleh."
"Nggak ditambah sehari lagi?"
"Kalau kamu tanya terus saya tambah seminggu."