Siang itu cuaca di Jakarta terasa cukup terik. Area bangunan yang berada di pinggir jalan utama tampak ramai oleh para kontraktor, pemilik rumah, hingga pasangan muda yang sedang memilih material untuk hunian mereka. Deretan showroom keramik, toko cat, plafon PVC, hingga perlengkapan interior berjajar di sepanjang kawasan tersebut.
Nadya berjalan lebih dulu memasuki salah satu showroom keramik. Tangannya membawa beberapa lembar katalog yang sejak tadi diberikan oleh staf toko.
"Aku suka yang ini deh." Ia menunjuk keramik berwarna krem muda dengan motif marmer tipis.
Gilang yang berdiri di sampingnya hanya melirik sekilas. "Kalau buat ruang keluarga, oke."
"Kalau buat kamar Mama?"
"Jangan."
"Kenapa?"
"Terlalu licin."
Awalnya Nadya hanya meminta bantuan Magna Land untuk mengurus renovasi rumah orang tuanya. Proyek kecil seperti itu sebenarnya bukan ranah yang langsung ditangani Gilang. Sudah ada divisi khusus renovasi dan interior yang mengurus kebutuhan klien perorangan. Namun, karena ia sudah berjanji akan membantu Nadya, akhirnya Gilang ikut turun tangan. Masalahnya, Nadya ternyata tidak mau menyerahkan semuanya kepada tim. Ia ingin memilih sendiri. Dan entah bagaimana Gilang akhirnya terseret mengikuti semua proses itu.
Mereka berpindah ke showroom cat di sebelah. Nadya kembali sibuk membandingkan puluhan sampel warna yang ditempel di dinding. "Kalau warna ini gimana?"
Gilang melirik. "Terlalu dingin. Kalau Tante suka rumah yang terang, ini paling aman." Gilang menunjuk salah satu keramik yang lebih simpel.
"Bagus juga ya." Jika sudah menyangkut bangunan, rumah, atau properti, laki-laki itu bisa menjadi sangat detail.
Mereka kemudian berpindah ke area plafon. Seorang staf toko sedang menjelaskan beberapa pilihan material ketika ponsel Gilang tiba-tiba bergetar. Nama yang muncul di layar membuat langkahnya berhenti. Heksa. Alis Gilang sedikit berkerut. Jarang sekali Heksa menelepon di jam kerja seperti ini.
Nadya mengangguk. Gilang langsung mengangkat telepon. "Kenapa, Sa?"
Di seberang sana terdengar suara Heksa. "Cuma ngabarin. An udah pulang." Hanya tiga kata terakhir yang membuat ekspresi Gilang berubah seketika.
"Serius?" Suara Gilang bahkan terdengar lebih hidup dibanding beberapa jam terakhir.
"Iya."
"Gimana kondisinya?"
"Udah jauh lebih baik. Dia udah di apartemen sekarang. Baru sampai tadi."
Gilang menunduk pelan. Mengusap wajahnya sebentar. Entah kenapa dadanya terasa sedikit lebih ringan. Seolah ada beban yang akhirnya terangkat. "Syukurlah." Kalimat itu keluar begitu saja.
Heksa yang berada di ujung telepon bahkan hanya diam beberapa detik. Karena ia tahu, betapa kacaunya Gilang selama beberapa hari terakhir. "Gue cuma mau ngabarin itu."
"Thanks ya."
"Jangan bikin masalah lagi."
Gilang tertawa hambar. "Iya." Telepon berakhir. Namun Gilang masih memandangi layar ponselnya selama beberapa saat.
Sampai Nadya akhirnya mendekat. "Kenapa?"
Gilang mengangkat kepala. "Nggak ada."
"Kamu langsung berubah gitu."
Gilang tersenyum tipis. Berusaha terlihat biasa. "Nggak ada apa-apa."
Nadya menatapnya beberapa detik. Nadya bukan tidak tahu, tapi dia sudah menebaknya. Ekspresi ini selalu dia tangkap sejak lama. Ekspresi yang tidak pernah Gilang tunjukkan pada siapapun, termasuk Nadya sendiri.
Nadya tersenyum kecil. Bahkan sejak mereka bertemu pagi ini. Gilang memang berada di sampingnya. Tapi pikirannya tidak pernah benar-benar berada di sini. Sebuah kenyataan yang entah kenapa terasa jauh lebih menyakitkan daripada yang ia bayangkan.
***
Ruang meeting perlahan mulai kosong. Satu per satu peserta rapat meninggalkan ruangan sambil membawa laptop dan catatan masing-masing. Beberapa masih membahas hasil diskusi barusan di luar pintu. Sementara itu, di dalam ruangan yang kini jauh lebih sepi, hanya tersisa dua orang.
Jehan dan Laura. Jehan sedang membereskan dokumen agar menjadi satu. Sedangkan Laura masih duduk di kursinya. Wajahnya terlihat sedikit kesal. Sedikit? Mungkin lebih tepatnya cukup kesal. "Emangnya Gilang sibuk apa sih, Mas?" tanyanya sambil memutar pulpen di tangan. "Tumben banget nggak bisa ikut meeting dadakan begini."
Jehan yang sudah hafal arah pertanyaan itu langsung pura-pura fokus merapikan dokumen. "Ya ada gue juga sama aja kan?"
Laura langsung mendecih. "Mas Jehan tuh pura-pura nggak ngerti."