The Last Destination

Firsty Elsa
Chapter #24

Weekend Tak Direncanakan

Siang itu matahari sedang cukup terik. Sebuah kawasan perumahan baru di pinggiran kota terlihat ramai oleh beberapa calon pembeli yang datang silih berganti. Rumah-rumah dua lantai berjajar rapi dengan taman kecil di depannya. Beberapa unit sudah selesai dibangun, sementara sebagian lainnya masih dalam tahap finishing.

Nadya berjalan lebih dulu menyusuri salah satu unit contoh. Sesekali ia memperhatikan detail interior yang dijelaskan oleh marketing. "Kalau kamar utama luas juga ya," gumamnya sambil membuka pintu salah satu ruangan.

"Kurang lebih dua puluh meter persegi," jawab Gilang yang ikut masuk. "Kalau cuma buat Tante sama Om yang tinggal, harusnya udah cukup nyaman."

Nadya mengangguk pelan. Ia memang sedang serius mencari rumah. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk ibunya. "Menurut kamu gimana?" tanya Nadya.

Gilang memperhatikan sekeliling ruangan sebentar. "Struktur bangunannya lumayan bagus."

"Terus?"

"Developer-nya juga cukup aman."

"Terus?"

"Tapi gue masih mau lihat saluran air belakang."

Nadya tertawa. "Kamu tuh ya."

Biasanya Gilang akan ikut menanggapi. Karena sejak pagi pikirannya memang tidak benar-benar berada di sana. Sudah hampir seminggu, dia hanya melanjutkan hidup tanpa ada tujuan yang semestinya. 

"Nad. Kalau rumah ini nanti cocok, jangan buru-buru DP dulu."

"Kenapa?"

"Gue mau cek legalitasnya dulu."

"Masih nggak percaya sama marketing ya?"

"Bukan nggak percaya." Gilang tersenyum tipis. "Gue cuma nggak suka kalau Tante sampai rugi." Kalimat itu membuat Nadya sedikit terdiam. Karena memang begitulah Gilang.

Mereka baru saja keluar dari unit contoh ketika ponsel Gilang bergetar. Nama yang muncul di layar membuatnya langsung berhenti melangkah. Heksa. Alisnya sedikit berkerut. Jarang-jarang sahabatnya itu menelepon di jam pagi.

"Sebentar ya."

Nadya mengangguk. Gilang langsung mengangkat telepon. "Kenapa, Sa?"

Di seberang sana terdengar suara Heksa. "Cuma ngabarin. An udah pulang." Hanya tiga kata terakhir yang membuat ekspresi Gilang berubah seketika.

"Serius?" Suara Gilang bahkan terdengar lebih hidup dibanding beberapa jam terakhir.

"Iya."

"Gimana kondisinya?"

"Udah jauh lebih baik. Dia udah di apartemen sekarang. Baru sampai tadi."

Gilang menunduk pelan.Mengusap wajahnya sebentar. Entah kenapa dadanya terasa sedikit lebih ringan. Seolah ada beban yang akhirnya terangkat. "Syukurlah." Kalimat itu keluar begitu saja.

Heksa yang berada di ujung telepon bahkan hanya diam beberapa detik. Karena ia tahu, betapa kacaunya Gilang selama beberapa hari terakhir. "Gue cuma mau ngabarin itu."

"Thanks ya."

"Jangan bikin masalah lagi."

Gilang tertawa hambar. "Iya." Telepon berakhir. Namun Gilang masih memandangi layar ponselnya selama beberapa saat.

Sampai Nadya akhirnya mendekat. "Kenapa?"

Gilang mengangkat kepala. "Nggak ada."

"Kamu langsung berubah gitu."

Gilang tersenyum tipis. Berusaha terlihat biasa. "Nggak ada apa-apa."

Nadya menatapnya beberapa detik. Nadya bukan tidak tahu, tapi dia sudah menebaknya. Ekspresi ini selalu dia tangkap sejak lama. Ekspresi yang tidak pernah Gilang tunjukkan pada siapapun, termasuk Nadya sendiri.  

Nadya tersenyum kecil. Bahkan sejak mereka bertemu pagi ini. Gilang memang berada di sampingnya. Tapi pikirannya tidak pernah benar-benar berada di sini. Sebuah kenyataan yang entah kenapa terasa jauh lebih menyakitkan daripada yang ia bayangkan.

***

Ruang meeting perlahan mulai kosong. Satu per satu peserta rapat meninggalkan ruangan sambil membawa laptop dan catatan masing-masing. Beberapa masih membahas hasil diskusi barusan di luar pintu. Sementara itu, di dalam ruangan yang kini jauh lebih sepi, hanya tersisa dua orang.

Lihat selengkapnya