The Last Destination

Firsty Elsa
Chapter #25

Ketenangan

Sore itu, langit Jakarta terlihat sedikit mendung. Cahaya matahari yang biasanya menyengat mulai berubah menjadi semburat keemasan yang masuk melalui jendela besar apartemen Anasera. Kali ini, suasana apartemen terasa cukup hidup. Bukan karena adanya Melody dan Kak Selvi yang akhirnya memutuskan untuk tinggal bersama An selama masa pemulihan, melainkan karena An yang sudah terlihat seperti dirinya sendiri lagi. Sudah 2 hari ini dia masih belum masuk kerja. Masa pemulihan, katanya. Sebenarnya, An sudah rindu untuk kembali bekerja. Apalagi saat kemarin teman-teman kerjanya datang menjenguk.

Hari ini An tidak sendiri. Ada Radit yang menemaninya. Entahlah, semenjak kejadian An jatuh sakit, laki-laki itu banyak menghabiskan waktu bersama An. Seperti saat ini, selesai shift bukannya kembali ke rumah, dia malah datang untuk menemani An sementara Melody dan Kak Selvi di luar. 

By the way…” Suara Radit terdengar dari arah dapur menuju ruang tengah, sambil membawa secangkir susu hangat untuk An. “Anak-anak koas lo lagi bikin sejarah lagi tuh.”

An langsung menghentikan aktivitasnya, menoleh ke sumber suara. “Yang mana dulu nih?”

“Yang lima itu, pengikut setia lo.”

An langsung tertawa. “Oh nggak usah ditanya. Itu anak memang spesialis masalah.”

Radit menggeleng sambil tertawa sendiri seolah mengingat sesuatu. “Sumpah ya, An. Gue beneran ketawa banget pas mereka keceplosan asbun di depan Dokter Haris.”

An langsung meletakkan garpunya. “Waduh, siapa yang mulai?”

“Menurut lo?”

“Dirga ya?” tebak An, yang pasti tepat sasaran.

Radit mengangguk cepat, dia masih tersenyum geli. “Jadi ceritanya gini, tadi pagi Dokter Haris lagi visit sama gue dan bareng mereka. Terus pasiennya nanya sesuatu. Nah, si Dirga ini niatnya mau bantu jawab.” Radit menjeda sejenak, mencoba menahan tawanya. 

An sudah bisa menebak akhir ceritanya. “Kalau kayak gini, udah curiga sih gue.”

“Terus dia jawab kan, kecil sebenarnya suaranya.” Radit menirukan gaya Dirga. “Tenang aja, Pak, biasanya kondisi kayak gini dua hari juga udah baikan.” 

“Ya ampun…” An langsung menutup wajahnya.

“Masalahnya… pasiennya belum diperiksa. Dokter Haris langsung nengok dan beliau bilang, ‘Kamu cenayang ya?’ Di situ semua teman-temannya ketawa, termasuk pasiennya.” Radit tertawa lepas setelah mengatakan itu. Membayangkan muka merah Dirga saat ditegur oleh Dokter Haris sangatlah lucu.

An yang masih tertawa berusaha meredamnya. Dia kasihan, tapi juga merasa lucu mendengar ceritanya. “Aduh, kasihan banget, Dirga.”

“Masih ada lagi, tahu, An,” kata Radit, sengaja tidak membiarkan An berhenti tertawa.

“Oh iya? Dia bilang apa?” 

“Maaf, Dok, saya cuma mencoba berpikir positif.” Radit menirukan gaya bicara Dirga yang setengah gagap itu.

“Terus Dokter Haris bilang apa?”

“Aamiin… gitu katanya Dokter Haris,” kata Radit pelan. “Lucu banget sih, kalau diingat muka malu Dirga itu.” 

An langsung tertawa sampai matanya berair. “Fix, itu anak pasti pulang sambil nangis.” 

“Baru Dirga An, masih ada cerita Rian yang mendadak buffering pas presentasi. Padahal itu kasus udah gue bahas semalam sebelum dia presentasi, loh,” cerita Radit mengingat kejadian sebelum dia pulang hari ini. 

“Kenapa lagi? Aduh, kayaknya gue ketinggalan banyak cerita deh.”

“Biasa, An, anak-anak kalau gugup kan suka nge-blank dan mendadak amnesia. Tapi nggak tahu gimana ceritanya, kok bisa yang ada di otak dia malah dikeluarin unek-uneknya.” 

Lihat selengkapnya