The Last Destination

Firsty Elsa
Chapter #27

Makan Malam Menegangkan

Tak jauh berbeda, suasana di tempat tinggal Nadya malam ini terlihat lebih ramai dari biasanya. Ruang makan yang biasanya hanya digunakan sendiri, hari ini terlihat beberapa orang yang datang. Meja makan panjang berwarna putih itu sudah dipenuhi berbagai masakan rumahan yang jarang ditemui oleh Gilang dalam beberapa bulan terakhir. Ada sop buntut, ayam bakar madu, tumis kangkung, ikan goreng, sambal terasi, hingga beberapa lauk sederhana yang dulu sering menjadi menu favorit mereka saat makan bersama.

Bagas Kusuma, ayah dari Nadya, duduk di ujung meja dengan istrinya, Ratih, di sebelahnya. Nadya sendiri duduk berhadapan dengan Gilang. Sementara Jehan berada di sebelah Gilang dengan senyum ramahnya itu. 

“Nak Gilang, proyek yang di Bekasi itu udah jalan ya?” tanya Bagas sambil mengambil segelas air. 

“Sudah, Om. Tahap pembangunan pertama malah hampir selesai.” Gilang membalas dengan sopan.

“Bagus. Dulu waktu kamu baru mulai perusahaan, Om nggak nyangka perkembangannya bisa secepat ini.”

Gilang tersenyum kecil. “Masih banyak yang harus dikejar, Om.”

“Kalau nak, Jehan, sudah lama ya kenal sama Gilang?” Kali ini Ratih yang bertanya. Dia sebenarnya sudah penasaran dengan laki-laki itu semenjak kedatangannya yang menghebohkan. Bahkan Nadya juga terkejut karena Gilang datang bersama Jehan.

“Wah, kalau kenal aja kayaknya udah lama banget deh, Tan,” jawab Jehan sebelum meminum air di gelasnya. “Dari zaman Gilang masih jamet juga saya udah kenal, Tan. Makanya kita tuh sering ya disebut anak kembar gitu deh, Tan.” 

“Jadi kalian teman kuliah?” tanya Bagas, memastikan kembali. 

“Jauh, Om. Kita udah kenal dari SD,” jawab Jehan dengan tenang. “Kalau soal berantem juga udah kenyang. Dulu saya pernah nangis gara-gara dia, Om.”

Gilang yang sedang mengambil jus langsung menoleh. “Fitnah. Itu lo nangis karena jatuh dari sepedanya Heksa,” balas Gilang terpengaruh. 

Ratih tanpa sadar tertawa kecil. “Berarti memang dekat sekali ya?”

“Dekat banget, Tan.” Jehan mengangguk dengan mantap. “Kalau soal aibnya Gilang mah saya udah khatam.”

“Jangan didengerin, Tante,” sela Gilang cepat.

Nadya yang duduk di seberang meja hanya menghela napas pelan. Sejujurnya, sejak awal ia tidak menyangka Jehan akan ikut datang. Awalnya ia membayangkan makan malam ini hanya akan dihadiri oleh Gilang agar bisa bertemu dengan kedua orang tuanya lagi. Tapi yang datang justru Jehan. 

“Kalau soal bisnis juga sama?” tanya Bagas lagi, lebih tepatnya, penasaran dengan siapa sosok Jehan itu, kenapa laki-laki itu datang bersama Gilang di acara personal seperti ini.

“Nggak juga sih, Om. Sebenarnya saya bukan anak bisnis. Saya kuliah di jurusan teknik sipil. Terus ikut Gilang pas awal-awal Magna berdiri,” cerita Jehan. “Dulu saya sampai mikir ini perusahaan bakal bertahan nggak ya. Soalnya klien nggak ada, uang nggak ada, tapi bosnya pede banget. Bahkan Gilang ini sudah saya tawarkan untuk dibantu sama perusahaan Papa, tetap aja nggak mau.”

Bagas tampak tertarik. “Perusahaan keluarga kamu juga di bidang konstruksi?” 

“Iya, Om”

“Terus kenapa nggak diterima?”

Jehan melirik Gilang sekilas sebelum tersenyum kecil. “Biasa. Dia keras kepala, Om.”

Lihat selengkapnya