The Last Destination

Firsty Elsa
Chapter #28

Azel vs Melody

Pintu apartemen terbuka setelah Gilang memasukkan kode yang masih ia hafal di luar kepala. Begitu peta bergeser pelan, suasana hangat langsung menyambut mereka. Di atas karpet lantai ruang tengah, An dan Azel sedang duduk berhadapan di atas karpet sambil merakit Lego. Potongan warna-warni berserakan di sekitar mereka. Sesekali Azel mengomel karena bentuk yang ia susun tidak sesuai keinginannya, sementara An hanya tertawa dan membantu membetulkan. 

Di sofa, Gavin dan Alya sedang menonton televisi dengan santai. Sedangkan dari dapur terdengar suara beberapa plastik belanja yang sedang dirapikan. Rizka memang sengaja ingin membersihkan dapur An karena dia membawakan banyak oleh-oleh dari Surabaya. 

“Assalamualaikum semuanya!” Suara Jehan menggema begitu pintu terbuka. Beberapa kepala langsung menoleh bersamaan. 

“Waalaikumsalam.” Gavin langsung tertawa. “Nah kan, akhirnya datang juga tuh anak.”

Dari arah dapur, suara Rizka langsung menyusul. “Punya anak bungsu satu aja susah banget dihubungin. Rasanya kayak menghubungi artis nasional.” 

Gilang langsung meringis. Jehan yang di sampingnya malah tertawa puas. “Tuh gue bilang juga apa.”

“Diem deh.” Gilang langsung melepas sepatunya lalu berjalan ke arah dapur tanpa banyak bicara. Begitu melihat ibunya sedang menyusun minuman ke dalam kulkas An, ekspresinya langsung berubah menjadi jauh lebih lembut. “Mama…”

Rizka menoleh. Belum sempat bicara, Gilang sudah lebih dulu memeluknya. “Maaf ya, Ma.” 

Rizka yang awalnya masih ingin mengomel akhirnya menghela napas pasrah, “kamu tuh ya.” 

Gilang hanya tertawa kecil sambil tetap memeluk ibunya. “Maaf ya…”

“Chat nggak dibalas, telepon nggak diangkat. Kamu pikir Mama ini fans kamu?”

Gilang tertawa pelan. “Enggak gitu, Ma. Ketumpuk chat-nya.”

“Ada aja alasannya.” Meski begitu, tangan Rizka tetap mengusap punggung anaknya pelan. Sudah lama mereka tidak bertemu. Dan bagaimanapun juga, Gilang tetap anak bungsunya. 

Sementara itu, Jehan dengan sengaja memberikan ruang untuk keduanya. Ia berjalan menuju ruang tengah, menghampiri Gavin dan Alya lebih dulu. Setelah menyapa singkat, dia melirik ke arah karpet. Azel terlihat masih fokus memilih Lego. Sepertinya belum sadar siapa yang baru datang. Namun, beberapa detik kemudian gadis kecil itu mendengar suara Jehan. 

“Hai cantik!”

Azel mendongak, mata bulatnya membesar. “OM JEJEEEE!” Suara itu nyaris membuat satu ruangan menoleh. Azel langsung berdiri dengan kedua tangannya direntangkan lebar. “Aku kangeeennn!” 

Jehan tertawa keras. “Ya ampun!” Ia langsung mengangkat tubuh mungil itu begitu Azel menghampirinya. “Om juga kangen banget sama Acil!” Jehan menggendongnya tinggi-tinggi. “Kok kamu udah gede aja sih?” 

Azel langsung terkikik. “Aku udah kelas satu, loh! Udah gede kan ya?!” 

“Belum sih, kan angka satu masih dikit.”

Azel langsung manyun. “Kok gitu? Padahal, kata Mama, aku udah gede. Udah nggak boleh nangis lagi karena udah masuk sekolah SD.”

“Tetap aja, masih kecil kok.” Jehan mulai menjahilinya.

“Enggak! Aku udah gede.”

“Masih mini gini kok.”

“Aku gedeee!” 

Jehan tertawa sambil mencubit gemas pipinya. Ia sangat suka berdebat dengan Azel. “Iya deh iyaa, kamu udah gede. Udah nggak nangisan kan?”

“Enggak kok, kan aku pintar.”

“Bohong tuh, Om, tadi aja nangis karena kesandung meja,” adu An mengingat kejadian yang belum lama terjadi. 

“Ihh enggaa, tadi itu aku terharu aja tau!” Azel mencoba mengeles, seperti ketahuan salah bicara. 

“Hayoloo! Berarti masih kecil nih, kan masih nangis.”

Lihat selengkapnya