The Last Destination

Firsty Elsa
Chapter #29

Azel dan Perasaannya

Balkon apartemen An memang tidak besar, namun cukup rapi. Di salah satu sudut terdapat rak tanaman bertingkat yang berisi beberapa tanaman hias kecil milik An. Ada sukulen mungil, kaktus mini, monstera kecil, dan beberapa pot bunga warna-warni yang sengaja dibeli untuk mempercantik balkon. Heksa masih menggendong Azel yang terus bersandar padanya dan merangkul lehernya dengan kuat, seolah tak ingin lepas. Setelah melewati banyak drama bujuk rayu, akhirnya Heksa berhasil membawa gadis itu dan menjauh dari orang-orang dewasa lainnya. 

“Kamu masih suka main puzzle ya?” tanya Heksa. Tangan kanannya bertumpu pada pagar balkon sementara matanya menatap lampu-lampu kota Jakarta yang terlihat berkelip dari lantai tinggi itu.

Azel mengangguk pelan. “Masih.”

“Yang seribu keping juga?”

Azel mengangguk pelan. “Aku udah bisa nyusun sendiri sekarang.”

“Serius?”

“Iya. Tapi kadang dibantu Papa dikit.”

Heksa tertawa kecil.“Nggak apa-apa, kamu tetap keren kok.”

Azel akhirnya tertawa. Suasana hatinya memang jauh lebih baik dibandingkan dengan setengah jam lalu. Tatapannya berpindah ke arah tanaman-tanaman kecil yang berada di rak. Ia menunjuk salah satu pot sukulen berbentuk seperti bunga. “Bunganya lucu deh. Aku mau punya juga.”

“Nanti tanya Aunty An ya, minta beliin juga.”

“Om Heksa nggak tahu?”

“Nggak dong. Kan yang punya bukan aku.” Azel mengangguk-angguk. Jelas sekali gadis kecil itu berusaha mengembalikan suasana hatinya. Heksa menahan senyum.

“Om Heksa.” 

“Hm?”

“Aunty Melody itu cantik ya?”

Pertanyaan itu membuat Heksa sedikit terdiam. Lalu tertawa kecil. “Iya.”

“Cantik banget ya?” tanya Azel sekali lagi. Terlihat jelas dari nadanya bahwa dia penasaran.

“Hm, iya,” balas Heksa sengaja. Dia masih ingin menggoda gadis itu. “Kenapa memangnya?”

Azel memalingkan wajahnya. “Lebih cantik aku atau Aunty Melody?”

Heksa akhirnya mengerti arah pembicaraan ini. Heksa tidak menyangka bahwa perkataan Jehan terbukti benar, bahwa Azel cemburu pada Melody. Heksa yang aslinya masih ingin menggoda Azel, mengurungkan niatnya. Dia menatap Azel dengan senyum penuh lalu mengusap pelan rambutnya yang mulai berantakan itu. 

“Kamu sama Aunty Melody sama-sama cantik kok,” kata Heksa akhirnya. “Kalian kan sama-sama perempuan. Dan perempuan pasti cantik.”

“Tapi lebih cantik Aunty Melody, kan?” Azel masih keras kepala, karena di kepalanya hanya terpikirkan bahwa Heksa menyukai Melody. “Soalnya tadi Om Heksa datang sama dia.”

Heksa tertawa pelan, tidak menyangka Azel bisa membantahnya. “Sama aja kok. Sama-sama cantik.” 

Azel langsung menyipitkan matanya. “Om bohong. Pasti Om bohong.”

“Kenapa Om bohong?”

“Soalnya kalau ada dua yang cantik, pasti ada yang lebih cantik.”

Heksa sampai tertawa mendengar logika polos gadis kecil itu. “Siapa yang ngajarin begitu?”

“Aku mikir sendiri.” Azel tampak bangga. “Aku pinter.”

Heksa menghela napas panjang. Rupanya pembahasan ini tidak akan selesai dalam waktu dekat. “Kalau menurut Om, cantiknya beda.”

“Beda gimana?”

Lihat selengkapnya