The Last Destination

Firsty Elsa
Chapter #30

Pagi yang Berantakan

Langit Jakarta masih gelap ketika suara azan subuh mulai terdengar samar dari kejauhan. Anasera termasuk orang yang mudah terbangun saat mendengar azan. Apalagi, beberapa hari terakhir pola tidurnya masih berantakan setelah keluar dari rumah sakit. Perlahan ia membuka mata. Beberapa detik pertama ia hanya menatap langit-langit ruang tengah apartemennya. Di sofa sebelah, selimut tebal tergeletak asal, An berpikir bahwa pemiliknya sudah lebih dulu bangun. 

Sedangkan di bawah sofa, Jehan dan Gilang masih terlelap di atas karpet. Jehan tidur dengan posisi yang sudah tidak manusiawi. Satu kaki menindih selimut. Satu tangan berada di atas wajahnya sendiri. Sedangkan Gilang tidur jauh lebih rapi di sampingnya. An tersenyum kecil. Pemandangan yang sangat aneh. Apartemennya yang biasanya sunyi sekarang malah terasa seperti tempat pengungsian. Pelan-pelan An berdiri. Ia berniat mengambil mukena yang masih berada di kamarnya.

Dengan langkah pelan, An berjalan menuju kamar. Pintunya memang tidak tertutup rapat. An mendorongnya perlahan. Lalu—An membeku. Otaknya mendadak berhenti bekerja. Di atas kasurnya. Terlihat Melody tidur di sisi kanan. Sedangkan di sisi kiri, ada Heksa yang juga tidur dan hanya mengenakan celana training hitam. Keduanya memakai selimut yang sama. Dan karena posisi tidur mereka saling membelakangi, dari sudut pandang An, mereka terlihat seperti dua orang yang tidur di satu kasur semalaman.

Mata An membulat. Rahangnya perlahan turun. "O—" Belum sempat suara itu keluar. Sebuah tangan mendadak menutup mulutnya dari belakang. "Mmmphh!!" An refleks kaget. Namun, ketika mencium aroma parfum yang familiar, ia langsung tahu siapa pelakunya. Gilang.

“Shut…” Suara laki-laki itu terdengar pelan di dekat telinganya. An masih melotot ke arah kamar. Gilang langsung menariknya mundur beberapa langkah menjauh dari pintu. "Tenang."

An menunjuk ke arah kamar dengan ekspresi syok. Gilang berusaha menahan tawanya. “Biarin Melody tidur, semalam dia nggak bisa tidur. Kayaknya baru dua jam yang lalu dia pindah ke kamar lo.” Penjelasan Gilang membuat An sedikit tenang. “Ada Azel di sana, kalau lo lupa.”

An berkedip, lalu menatap lagi ke arah kamar. Baru sekarang dia melihat lebih teliti. Di tengah-tengah dua manusia dewasa itu ternyata ada gadis kecil yang hanya kelihatan tangannya aja karena tubuh kecilnya tertutup selimut dan guling. “Ya Allah.” An memukul lengan Gilang pelan. “Sumpah gue lupa ada Azel. Lagian kenapa Heksa nggak pakai baju? Kan gue kaget.”

“Ya memang sebenarnya lebih enak tidur nggak pakai baju, kan?” 

“Dasar, semua cowok sama aja!” Lalu keduanya sama-sama tertawa tanpa suara. 

***

Suara minyak yang mulai mendesis pelan terdengar dari dapur. An sedang memasak untuk sarapan pagi ini. Mengingat pagi ini juga akan banyak orang yang ikut sarapan dengannya, dia harus masak di tengah subuh-subuh begini. Sedangkan Gilang, setelah menjalankan ibadahnya tadi, dia adalah orang pertama yang mandi. Jehan sendiri baru menyelesaikan rakaat terakhirnya. Suasana terasa damai sampai akhirnya…

“AAAAAAA!” 

Terdengar suara teriakan keras dari arah kamar. Lalu disusul…

“HUAAAAAA!” 

Tangisan anak kecil yang langsung menggema di satu apartemen. 

Semua orang membeku. An yang sedang memegang spatula langsung menoleh. Jehan yang masih memegang sajadah sampai refleks berdiri. Di kamar mandi. Gilang yang sedang keramas bahkan hampir memasukkan sampo ke matanya sendiri. "Apa anjir?!"

An langsung mematikan kompor. "Lah?!"

Jehan melempar sajadahnya begitu saja. "Azel!" 

Keduanya berlari bersamaan menuju kamar. Saat pintu kamar langsung dibuka, pemandangan yang mereka lihat membuat keduanya diam. Heksa dan Melody sedang duduk tegak di atas kasur. Dengan ekspresi keduanya yang sama-sama syok dan wajah pucatnya. 

Lalu tiba-tiba muncul seorang gadis kecil dari balik selimut di bawah ujung kasur. 

“Huaaaa!” Azel keluar dari selimut bawah dengan baju tidurnya yang berantakan itu. Rambutnya yang kusut menutupi wajah mungilnya yang masih terus menangis. “Kepala aku sakit, Aunty!” Jehan yang melihat itu langsung mengangkat Azel ke dalam gendongannya. 

“Anjir kayaknya ketendang kaki gue,” kata Heksa pelan, dia baru sadar bahwa saat terkejut melihat Melody di depannya tadi dia sempat menendang sesuatu tapi tidak sadar bahwa itu adalah Azel. 

Jehan menghela napas panjang. “Beneran kacau lo berdua!” kata Jehan. “Gue berasa grebek selingkuhan, njir!” 

Lihat selengkapnya