Sore itu cuaca Jakarta cukup bersahabat. Matahari mulai turun perlahan, meninggalkan langit berwarna jingga pucat yang membuat suasana taman bermain terasa hangat. Teriakan anak-anak bercampur dengan suara ayunan dan gelak tawa para orang tua yang menemani mereka. Di salah satu area playground, Azel sedang berlari kecil sambil membawa balon berbentuk kelinci yang dibelikan Melody.
Seharian ini gadis kecil itu memang tidak berhenti bergerak. Pagi diajak belanja bulanan. Siang diajak makan. Setelah itu, ia membeli banyak mainan di toko mainan. Lalu sekarang berakhir di playground terbesar yang kebetulan berada di sisi kota. Melody sendiri sudah menyerah mengikuti energi Azel sejak satu jam yang lalu. Perempuan itu memilih duduk di bangku dekat area bermain sambil menikmati semangkuk mie hangat yang baru dibelinya.
"Capek juga ya jadi orang tua." Dia bergumam sendiri sebelum menyeruput kuah mienya.
Tak jauh dari sana, An baru saja datang bersama Radit. Begitu melihat keduanya, Azel langsung berteriak dari atas perosotan. "AUNTYYY ANNNN!"
An tertawa dan melambaikan tangan. "Awas jatuh, Cil!"
"Nggak jatuh kok!" Lima detik kemudian, Azel nyaris jatuh.
Radit yang melihat langsung tertawa. "Baru aja dibilangin."
"Aku cuma jatuh dikit, nggak sakit kok!" Azel malah berlari turun menghampiri mereka. Begitu sampai, gadis kecil itu langsung memeluk kaki An. "Aunty, lihat! Aku main tinggi banget!"
"Iya, hebat."
"Terus aku juga menang lomba lari sama anak tadi."
"Lomba lari dari mana?"
"Ada pokoknya." An tertawa.
Radit ikut menggeleng pelan. "Kreatif ya dia."
“Ini namanya Om siapa? Kok Aunty sama dia?” tanya Azel penasaran. Belum pernah dia melihat orang lain bisa dekat dengan orang-orang terdekatnya. Baru semalam dia mengenal Melody yang termasuk orang baru di hidupnya, sekarang ada orang baru lagi. Ditambah, dia datang bersama An.
“Haii, nama aku Radit. Kamu siapa?” tanya Radit dengan ramah.
“Aku Azel.” Gadis mungil itu tersenyum, mulai tertarik pada Radit. Bahkan An bisa melihat bahwa pipinya merah.
“Azel ya, namanya cantik. Sama kayak kamu yang juga cantik.”
Mendengar ucapan Radit barusan, Azel mendadak salah tingkah. Dia bahkan langsung memeluk An dengan erat. An sendiri tertawa melihat kelakuan anak kecil itu. “Bisa salting juga nih bocah,” gumam An sambil mengusap pelan punggung kecil Azel.
“Azel mau main sama Om nggak?” tawar Radit sambil mencolek lengan kecilnya. Gadis itu masih terdiam, seperti menimbang sesuatu.
“Tuh, diajakin Om Radit main. Mau nggak?” tanya An lagi.
“Emang boleh ya?” Azel masih bingung. Dia baru mengenal Radit, tapi dia terlihat tertarik dengan tawaran Radit.
“Boleh-boleh aja sih. Memangnya kamu nggak mau?” An mencoba menggoda gadis itu.
“Aku sih mau, tapi nanti Om Heksa marah nggak ya sama aku?”
Pertanyaan Azel membuat An mengerut bingung. “Nggak deh kayaknya. Kenapa harus marah?” tanya An penasaran.
“Soalnya kata Om Heksa tadi, aku nggak boleh dekat-dekat sama orang baru. Apalagi laki-laki,” jawabnya dengan polos.
An tertawa, tidak menyangka atas jawaban polos gadis itu. “Tapi Om Radit bukan orang baru buat Aunty An. Jadi, Azel nggak perlu takut ya? Ada Aunty An di sini yang jagain juga.” Penjelasan An membuat Azel semakin bersemangat dan langsung mau mendekat ke arah Radit.
“Yaudah, ayo main, Om!” ajak Azel, menarik tangan Radit yang sejak tadi sudah siap untuk bermain dengannya. “Tapi Om Radit nggak boleh suka sama aku ya? Soalnya aku sukanya cuma sama Om Heksa. Aku setia kok sama Om Heksa.”
Radit yang sudah berdiri langsung terdiam. An yang mendengar itu refleks menutup wajahnya dengan kedua tangan. Sedangkan Melody yang masih duduk di bangku taman sampai tersedak makanannya sendiri.
"Hah?" Radit berkedip beberapa kali. "Loh, kok sampai situ pembahasannya?"
"Azel!" tegur An sambil menahan tawa. "Itu ngomong apa sih?"
"Tapi bener kan?" Azel menatap An dengan polos. "Aku udah bilang sama Om Heksa kalau aku suka sama dia."