The Last Destination

Firsty Elsa
Chapter #32

Dua Bulan Kemudian

Waktu ternyata tetap berjalan seperti biasanya. Tidak peduli seberapa besar perasaan yang tertinggal di antara beberapa orang. Anasera perlahan kembali pada rutinitasnya sebagai dokter. Setelah masa cutinya berakhir, ia kembali bekerja di rumah sakit dengan jadwal yang padat seperti biasa. Tubuhnya memang belum sepenuhnya sekuat dulu, tetapi kondisinya sudah jauh lebih baik dibanding beberapa bulan sebelumnya. Meski begitu, ada satu hal yang tidak benar-benar kembali seperti semula. Hubungannya dengan Gilang. Masih ada jarak yang sengaja dipertahankan An. Jarak tipis yang mungkin tidak disadari orang lain, tetapi cukup jelas bagi Gilang. Dan Gilang menyadari itu.

Di sisi lain, kehidupan orang-orang di sekitar mereka juga terus bergerak. Melody kembali tenggelam dalam jadwal promosi serial terbarunya. Hampir setiap minggu ia berpindah kota untuk menghadiri wawancara, pemotretan, dan berbagai acara televisi maupun podcast. Heksa pun tidak jauh berbeda. Jabatan barunya membuat laki-laki itu lebih sering terlihat sibuk daripada biasanya. Jehan bahkan mulai menyebut mereka berdua sebagai "pasangan paling sibuk se-Indonesia" setiap kali bertemu. Ya, kalian tidak salah baca. Dua manusia itu akhirnya memutuskan untuk menjalin hubungan komitmen. 

Sementara itu, Magna Land sedang mengerjakan salah satu proyek terbesarnya tahun ini. Akibatnya, Gilang dan Jehan lebih sering berada di Bali dibanding Jakarta. Rutinitas yang sampai hari ini masih mereka jalankan adalah bolak-balik Jakarta–Bali hingga tiga kali dalam seminggu. Kesibukan tersebut tanpa sadar juga membuat hubungan Gilang dan Nadya berubah. Mereka masih berkomunikasi. Namun, intensitasnya jauh berkurang dibandingkan dengan sebelumnya. Gilang mulai memahami bahwa terlalu sering hadir dalam hidup mantan bukanlah hal yang baik. Karena harapan yang dibiarkan hidup terlalu lama sering kali berubah menjadi luka yang lebih besar. 

Raditya Alaksa. Dokter bedah itu tidak pernah benar-benar menyembunyikan niatnya. Jika dulu ia memilih berjalan pelan, kini ia mulai hadir lebih sering dalam kehidupan An. Radit tidak lagi berusaha terlihat biasa. Ia sedang mendekati Anasera. Dan kali ini, ia melakukannya dengan sangat serius.

***

Koridor lantai tiga rumah sakit siang itu cukup ramai. Beberapa perawat berlalu-lalang membawa berkas, suara monitor pasien terdengar samar dari balik pintu ruangan, dan aroma khas antiseptik memenuhi udara seperti biasa. Anasera baru saja keluar dari ruang rawat inap setelah menyelesaikan visit pasien bersama dokter penanggung jawab. Di tangannya masih ada beberapa lembar catatan yang harus segera ia input ke sistem.

"Dokter An!" Suara seorang perawat memanggil dari kejauhan.

An menoleh. "Iya, Ners?"

"Pasien di bed tiga belas minta ketemu dokter lagi. Katanya masih mau tanya soal obatnya."

An langsung mengangguk. "Oke, saya ke sana dulu." Baru dua langkah berjalan, sebuah gelas matcha dingin tiba-tiba muncul di depan wajahnya. An refleks berhenti.

"Apa lagi ini?" tanyanya tanpa perlu melihat siapa pemilik tangan itu.

"Sedekah."

An menghela napas panjang. Sudah hafal siapa yang selalu memberikan minuman kesukaannya setiap hari. “Dokter…”

“Biar nggak pusing-pusing banget. Lo kayaknya butuh amunisi,” kata Radit dengan senyum khasnya. 

An sebenarnya tidak mengerti kenapa laki-laki itu sangat terang-terangan dalam mendekatinya. Berulang kali dia berusaha menghindar, takut jadi bahan omongan di lingkungan kerjanya sendiri. Selain itu, An juga tidak mau memberikan harapan pada Radit yang kelewat baik untuknya. 

"Makasih, dok," ucap An akhirnya sambil menerima gelas matcha itu.

"Nah gitu. Senyum dikit kek." An hanya menggeleng pelan sebelum kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang rawat. Pekerjaannya hari itu masih panjang.

Pasien bed tiga belas yang tadi memanggilnya ternyata seorang ibu berusia sekitar lima puluh tahun yang akan pulang siang itu. Di samping tempat tidur sudah ada anak perempuannya yang sedang membereskan barang-barang. "Dokter, saya mau tanya sekali lagi soal obat yang ini." Sang ibu menunjukkan lembar obat yang baru diterimanya.

Lihat selengkapnya