The Last Destination

Firsty Elsa
Chapter #33

Takut Yang Sebenarnya

Dua hari kemudian. Sore itu, suasana poli kandungan di Rumah Sakit Handayani sudah mulai lebih sepi dibanding pagi hari. An duduk di ruang tunggu pasien sambil memandangi nomor antrean di tangannya. Entah kenapa perasaannya tidak nyaman. Padahal ia tahu betul prosedur di tempat itu. Ia juga tahu bahwa kemungkinan besar semuanya baik-baik saja. Namun, semakin lama menunggu, semakin banyak pikiran yang muncul di kepalanya.

Sampai akhirnya, pintu ruang praktik terbuka. Seorang perawat keluar. "Atas nama Ibu Anasera?"

An langsung berdiri. "Iya."

"Silakan masuk, Bu."

Begitu memasuki ruangan, suara tawa langsung terdengar. "Lama nggak ketemu, An."

An mengangkat kepala. Perempuan berjas putih di balik meja itu tersenyum lebar. Masih sama seperti yang ia ingat. "Ck. Kak Citra."

"Hai An, gimana kamu kabarnya?"

An terkekeh kecil lalu duduk di kursi depan meja. "Alhamdulillah baik, kakak gimana?"

"Baik juga." Citra menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Sebenarnya aku udah notice si pas kamu bikin janji kapan hari. Jadi, periksa ini buat persiapan nikah ya?"

"Nggak, Kak, kan aku udah bilang mau periksa aja." An berusaha menanggapi Citra dengan sopan. Dia merasa sungkan meski keduanya pernah dekat. “Aku cuma akhir-akhir ini ngerasa ada yang salah sama tubuh aku deh,” cerita An pelan. 

Citra yang sudah lama mengenalnya langsung menangkap perubahan ekspresi itu. Senyumnya perlahan menghilang. "Oke." Nada suaranya berubah menjadi lebih profesional. "Cerita pelan-pelan aja, An."

An terdiam beberapa detik. Menyusun kalimatnya. "Kayaknya ada yang nggak beres sama siklus haid aku, Kak." Citra tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk pelan. Memberi ruang agar An melanjutkan. "Sudah beberapa bulan berantakan."

"Seberapa berantakan?"

"Bahkan aku sendiri aja nggak sadar akan hal itu, Kak."

"Kamu masih ingat kapan terakhir?"

An menunduk. Berusaha mengingat. Dan justru itu yang membuat dadanya terasa semakin tidak nyaman. Karena ia sadar dirinya tidak bisa menjawab dengan pasti. "Jujur… aku lupa."

Citra mengangkat alis. "Lupa?"

An mengangguk pelan. "Awalnya aku pikir karena stres. Terus, habis rawat inap kemarin, aku juga mikir mungkin tubuhku belum pulih sepenuhnya."

"Terus?"

"Belakangan aku mulai sadar kalau ternyata udah lama." Ruangan mendadak terasa lebih sunyi.

Citra membuka berkas elektronik di komputernya. "Kamu pernah ngerasa nyeri di bagian perut bawah?" 

Pertanyaan itu membuat An menoleh. "Pernah kak, biasanya pas masuk PMS."

"Ada nyeri pinggang belakang?"

"Iya, lumayan sering."

"Mudah capek nggak, An?" An kembali mengangguk. Citra mengetukkan ujung pulpennya perlahan ke meja. Ekspresinya mulai serius. Dan itu justru membuat An semakin gugup.

"An. Kita jangan bikin kesimpulan dulu." Kalimat itu terdengar menenangkan. Namun, entah kenapa justru membuat jantung An berdebar lebih cepat. "Tapi aku mau kita cek semuanya dengan lengkap."

An diam. "USG?"

Lihat selengkapnya