The Last Destination

Firsty Elsa
Chapter #34

Runtuh—Feby Putri ft. Fiersa Besari

Ruangan praktik itu mendadak terasa jauh lebih sunyi. Citra masih memegang hasil pemeriksaan di tangannya. Sesekali matanya berpindah dari layar komputer ke berkas yang baru saja dicetak. Sedangkan An duduk di seberang meja sambil menunggu. Sebagai dokter, ia sudah terbiasa berada di posisi yang memberi penjelasan kepada pasien. Tapi hari ini berbeda. Hari ini ia yang menunggu penjelasan.

"An." Suara Citra akhirnya memecah keheningan. An mengangkat kepala. Citra menghela napas pelan sebelum memulai. "Pertama, aku mau bilang dulu kalau ini bukan kondisi yang mengancam nyawa. Jadi jangan langsung panik."

Kalimat pembuka itu justru membuat An semakin tegang. Karena Citra jarang sekali berbicara berputar-putar. "Kamu lihat ini?" Citra memutar layar monitor sedikit ke arah An. An memperhatikan hasil USG yang ditunjukkan. "Ada beberapa folikel kecil di ovarium kamu."

An diam. Citra melanjutkan. "Ditambah dengan riwayat menstruasi kamu yang nggak teratur, siklus yang makin panjang, dan beberapa gejala lain yang tadi kamu ceritakan..." Kalimat Citra menggantung beberapa detik. "Kondisi mengarah ke PCOS."

An tidak langsung bereaksi. Ia hanya menatap layar di depannya. PCOS (Polycystic Ovary Syndrome) adalah istilah yang sangat ia kenal. Namun, mendengarnya diarahkan kepada dirinya sendiri terasa berbeda. "Ringan?" tanya An akhirnya.

Citra mengangguk. "Iya." Jawaban itu membuat An sedikit mengembuskan napas yang bahkan tidak ia sadari sejak tadi ditahan.

"Masih ringan. Belum sampai pada kondisi yang berat. Dan masih bisa ditangani."

An kembali menunduk. Entah kenapa ia tetap tidak merasa lebih lega. "Kalau penyebabnya?" tanyanya lagi.

Citra menyandarkan tubuh ke kursi. "Kombinasi banyak hal."

"Lifestyle. Stres, pola tidur berantakan, makan nggak teratur, dan kelelahan kronis." Citra menatapnya tajam. "Yang mana semuanya ada di hidup kamu." An hanya bisa tersenyum tipis. Karena tidak ada satu pun yang salah. "An, jujur aja. Kamu terakhir tidur delapan jam itu kapan?"

An terdiam. Citra mengangkat alis. Diamnya seorang Anasera adalah jawaban pasti untuk Citra. An tertawa kecil meski terdengar hambar. 

Citra ikut tersenyum.  Lalu ekspresinya kembali serius. "Ini bukan vonis. Aku nggak mau kamu pulang dari sini terus berpikir hidup kamu selesai."

An mengangguk pelan. Namun, sebagai dokter, ia tahu ada satu pertanyaan yang belum terjawab. Dan sejak tadi pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. An menunduk sebentar sebelum akhirnya bertanya dengan suara jauh lebih pelan. "Kalau... soal punya anak?"

Ruangan kembali sunyi. Citra tidak langsung menjawab. Bukan karena tidak tahu jawabannya. Tetapi karena ia tahu pertanyaan itu yang sebenarnya paling ditakuti An. "Banyak perempuan dengan PCOS yang tetap bisa hamil."

An mengangguk pelan. "Tapi..."

Citra memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Tiap orang beda, An. Kondisi kamu masih ringan. Itu kabar baik. Makanya aku mau kita tangani dari sekarang sebelum berkembang lebih jauh."

Lihat selengkapnya