The Last Destination

Firsty Elsa
Chapter #35

Jakarta dan Kesedihannya

Pukul satu pagi, dini hari. Lampu ruang kerja di rumah Gilang masih menyala ketika ponselnya bergetar berkali-kali. Awalnya ia tidak terlalu memperhatikan. Ia sedang menyelesaikan revisi laporan proyek Bali yang harus dikirim malam itu. Sampai nama Melody muncul untuk ketiga kalinya. Gilang akhirnya mengangkat telepon itu.

"Kenapa, Mel?"

Suara di seberang terdengar jauh lebih panik dari biasanya. "Mas, An nggak bisa dihubungin."

Tangan Gilang yang sedang memegang mouse langsung berhenti bergerak. "Maksudnya?"

"Gue nggak tahu dia di mana." Melody menjelaskan semuanya dengan cepat. Sejak siang An tidak kembali ke apartemen. Bahkan rumah sakit juga mengatakan An sudah pulang sejak sore.

"Gue sama Heksa udah muter beberapa tempat."

"Udah cek rumah sakit?"

"Udah. Nggak ada."

Untuk beberapa saat, Gilang tidak menjawab. Entah kenapa, dadanya langsung terasa tidak nyaman. An memang tipe orang yang suka menyendiri ketika sedang banyak pikiran. Tapi An tidak pernah menghilang tanpa kabar selama ini. Apalagi setelah kondisi kesehatannya sempat memburuk beberapa bulan terakhir.

"Gue coba hubungin."

"Nggak diangkat." 

Telepon diakhiri oleh Gilang. Dia langsung menekan nomor An. Tidak ada jawaban. Yang terdengar hanya nada sambung panjang yang membuat perasaannya semakin buruk. Ia membuka aplikasi chat. Pesan terakhir yang dikirimnya pagi tadi bahkan belum dibaca. Gilang mulai berdiri dari kursinya. Pikiran-pikiran buruk perlahan muncul satu per satu.

Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri. Sampai tiba-tiba sebuah ingatan muncul. Gilang pernah menghubungkan fitur lokasi ponsel mereka berdua. Awalnya hanya untuk keadaan darurat. Dan setelah itu tidak pernah benar-benar digunakan lagi. Jantung Gilang berdetak lebih cepat. Ia segera membuka aplikasi peta. Lalu mencari nama An. Beberapa detik berlalu. Kemudian sebuah titik hijau muncul di layar.

Dan Gilang langsung membeku. "An..." Titik itu berada jauh di pinggiran Jakarta. Di sebuah area yang bahkan hampir tidak pernah mereka datangi. Jam menunjukkan pukul 01.47 An berada di sana sendirian. Tanpa berpikir panjang, Gilang langsung meraih kunci mobilnya. Bahkan laptopnya masih menyala di atas meja. Yang ada di kepalanya hanya satu. Menemukan Anasera sebelum terjadi sesuatu yang lebih buruk.

***

Malam itu akhirnya mereka meninggalkan kafe kecil di pinggiran Jakarta itu. Mobil Gilang dititipkan di sana. Untung saja barista yang sejak tadi memperhatikan kondisi An cukup baik hati untuk membantu.

"Mas tenang aja. Mobilnya aman di sini. Besok atau kapan pun bisa diambil." 

Gilang mengucapkan terima kasih sebelum akhirnya membawa An menuju mobil milik gadis itu. Udara dini hari terasa dingin. Jalanan nyaris kosong. Lampu-lampu jalan memantul di aspal yang sedikit basah karena gerimis beberapa jam sebelumnya.

An masuk ke kursi penumpang tanpa banyak bicara. Begitu sabuk pengaman terpasang, ia langsung memalingkan wajah ke arah jendela. "Gue nggak mau pulang."  Suara An terdengar pelan.

Gilang tidak langsung menyalakan mobil. Tangannya masih berada di atas setir. "Lo mau ke mana?"

An menggeleng pelan. "Nggak tahu."

Lihat selengkapnya