The Last Destination

Firsty Elsa
Chapter #36

Everything will be okay, right?

Pagi itu dimulai jauh lebih cepat dari biasanya. Tepat pukul lima pagi, Gilang dan Jehan sudah keluar dari apartemen An. Langit Jakarta bahkan belum benar-benar terang ketika keduanya turun menuju basement. Tidak ada yang banyak bicara. Jehan masih mengantuk dan melanjutkan tidurnya. Sedangkan Gilang yang sedang menyetir terlihat jauh lebih diam dari biasanya. Malam tadi masih terus berputar di kepalanya.

Pukul delapan pagi.

Ruang rapat di lantai dua puluh dua Magna Land & Development sudah dipenuhi oleh beberapa kepala divisi. Hari itu mereka sedang membahas progres proyek mixed-use development di Bali yang selama dua bulan terakhir menyita hampir seluruh perhatian manajemen. Presentasi berjalan hampir dua jam. Gilang duduk di kursi utama dengan laptop terbuka di depannya. Sesekali memberikan koreksi. Sesekali menanyakan detail yang terlewat. Dan seperti biasa, seluruh ruangan mengikuti ritme yang ia buat.

"Batas pengiriman material tahap tiga kapan?" tanya Gilang.

"Minggu depan, Pak."

"Pastikan tidak ada keterlambatan lagi. Investor udah mulai nanya progres mingguan."

"Baik, Pak." 

Beberapa catatan kembali ditulis. Beberapa keputusan dibuat. Dan ketika rapat selesai hampir pukul sepuluh pagi, satu per satu peserta mulai meninggalkan ruangan. Gilang baru saja menutup laptopnya ketika Jehan menjatuhkan tubuh ke kursi sebelahnya.

“Bentar lagi meeting lanjutan sama Laura. Lo nggak lupa kan?” Jehan membuka ponselnya untuk memberi kabar kepada Laura. 

Sebelum Gilang sempat membalas, pintu ruang rapat kembali terbuka. Laura masuk sambil membawa tablet dan beberapa map proyek. Penampilannya masih sama seperti biasanya.

"Halo."

"Pagi," jawab Gilang.

Laura duduk di kursi seberang mereka. "Gue ganggu istirahat kalian ya?"

"Banget sih, La," jawab Jehan cepat. "Kayaknya kalau bisa skip, mending hari ini gue skip."

Laura tertawa kecil. "Sebelum lo skip, gue kasih kerjaan dulu deh."

"Capek anjay."

Laura tertawa. Dia masih sibuk menata berkasnya. "Mau nggak mau, lo harus profesional."

"Berat banget sih hidup gue."

Laura menggeleng geli. Sudah terbiasa dengan Jehan yang selalu punya komentar untuk segala hal. Berbeda dengan Gilang yang langsung fokus pada map yang dibawanya. Laura membuka tabletnya. "Kemarin tim arsitek ngirim revisi konsep untuk area retail di Bali."

"Yang promenade?"

Laura mengangguk. "Iya. Mereka minta approval sebelum minggu depan."

Gilang langsung mulai membaca dokumen yang diberikan. Sedangkan Jehan menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil memperhatikan keduanya bergantian. "Kalian aja deh yang urus, kepala gue masih pusing ngatur jadwal kalian. Bisa nggak, La, semua jadwal minggu depan dipadatin aja biar nggak kerja dua kali. "

“Meninggal yang ada gue, Je!” protes Laura. “Gue udah usahain bisa virtual meeting sama investor Singapura, tapi kayaknya beliau minta ketemu langsung sama Mas Gilang.”

“Repot banget sih. Emangnya apa yang beliau pengin banget ketemu sama Gilang?” Jehan heran sendiri kenapa hampir seluruh investor asing selalu semangat bertemu dengan Gilang. 

“Dan informasinya sih, beliau yang mengundang kalian ke sana.”

Lailahailallah…” Jehan sampai nyebut saking terkejutnya. "Niat banget, dah."

Sudah lama suasana seperti ini terasa jauh lebih ringan dibanding beberapa bulan lalu. Entah karena proyek mulai stabil. Entah karena mereka semua mulai terbiasa satu sama lain. Atau mungkin karena sekarang Laura juga tidak lagi berusaha terlalu dekat dengan Gilang seperti dulu. Hubungan mereka kembali menjadi apa yang seharusnya sejak awal.

"By the way," kata Laura sambil membuka file berikutnya. “Minggu depan ke Bali hari apa?"

“Rabu sampai Jumat kayaknya," sahut Jehan.

Laura langsung membuka kalender di tabletnya. “Kalau begitu gue harus geser beberapa agenda dulu. Soalnya hari Kamis tim gue juga ada presentasi campaign untuk proyek Bali.”

“Lah, masih ada presentasi lagi?” Jehan langsung memegangi kepalanya. “Bukannya kemarin udah meeting hampir tiga jam?”

“Itu meeting sama Rudihasmo. Yang ini beda lagi,” jawab Laura santai. “Tim marketing gue harus sinkron sama timeline pembangunan kalian. Masa nanti proyeknya launching, tapi strategi komunikasinya belum siap?”

Lihat selengkapnya