Satu minggu setelah pertemuannya dengan dr. Citra, kehidupan Anasera perlahan berubah. Perlahan dia mulai membuang kebiasaan buruknya. Meski pelan, cukup membuat orang-orang di sekitarnya mulai menyadarinya. Mulai hari ini, setiap jam enam pagi dia sudah berada di jogging track kompleks apartemennya. Langit Jakarta masih berwarna abu kebiruan ketika ia mulai berjalan pelan.
Selain itu, perubahan ini terlihat di tempat dia bekerja. Setiap jam istirahat, dia akan langsung menghentikan pekerjaannya dan melakukan istirahat seperti yang seharusnya dia lakukan sejak kemarin. Dia juga mulai membawa bekal makanan yang sehat. Tidak sedikit yang mulai senang melihat perubahan ini. Perawat yang biasanya malas mengajaknya makan siang, kini ikut bersemangat saat An mulai mengajak ke kantin lebih dulu.
“Kenapa sih nggak dari dulu aja lo bawa bekal, An?” Bahkan Salsa sendiri juga terkejut dengan perubahan itu. “Kalau tahu lo bisa masak seenak ini mah gue juga mau tiap hari dimasakin sama lo.”
An tertawa mendengarnya. “Itu sih enak di lo doang, Sal!”
Mereka tertawa bersama. Saat ini mereka berada di kantin umum. Bukan hanya para tenaga kesehatan yang berada di sana, melainkan juga anak-anak koas dan pengunjung lainnya.
“Boleh nggak sih, gue langganan katering di lo aja, An?” pinta Salsa yang masih ketagihan dengan menu makanan yang dibawa An hari ini.
“Apa sih pake segala catering. Gue bawain aja dah tiap hari nggak apa-apa,” jawab An yang baru menutup tumbler-nya. “Tapi lo juga harus tiap temenin gue makan di sini. Gimana?”
“Sounds good, An!” Salsa terlihat tertarik. Apoteker itu merasa bahwa hidupnya untuk ke depannya akan terjamin dengan MBG yang diberikan oleh Anasera. “Deal!”
“Dasar.” An menggeleng geli.
“Bakat masak lo harus dipertahankan sih, An. Itu investasi jangka panjang.” Percakapan mereka terhenti ketika beberapa anak koas yang sedang makan di meja sebelah mulai menyapa An.
“Siang, Dok!”
“Siang.” An membalas dengan ramah.
“Dok, makasih ya kemarin udah bantuin saya pas jaga.”
“Oh iya, yang pasien sesak napas itu?”
“Iya, Dok.”
An mengangguk pelan. “Nggak apa-apa. Kalian juga udah kerja bagus kok.”
Setelah beberapa menit berbincang, anak-anak koas itu kembali ke meja mereka masing-masing. Salsa yang memperhatikan dari tadi hanya tersenyum.
“Btw, gue baru sadar deh An. Akhir-akhir ini lo lagi deket ya sama Dokter Radit?” tanya Salsa pelan, akhirnya. Sebenarnya dia sudah menahan diri untuk menanyakan ini sejak lama.
An yang sedang membuka tutup botol minumnya langsung berhenti. “Hah?” Ekspresinya terlihat benar-benar bingung.
“Jangan hah doang. Jawab pertanyaan gue.”
“Deket gimana?”
“Ya dekat.” Salsa mengangkat kedua alisnya. “Masa harus gue jelasin lebih detail dulu?”
An langsung tertawa kecil. “Nggak ada yang dekat.”