The Last Destination

Firsty Elsa
Chapter #38

Bertahan atau Melawan?

Di dalam ruangan itu, di depannya duduk Dokter Djono selaku direktur rumah sakit. Di sebelah kanan terdapat Kepala Pelayanan Medis. Sedangkan di samping An duduk Dokter Rizky yang semalam bertugas bersamanya di IGD. Suasana ruangan terasa terlalu sunyi. 

Sampai akhirnya Dokter Djono membuka map di depannya. "Dokter Anasera."

"Iya, Dok."

"Saya ingin meminta klarifikasi terkait kejadian di IGD hari Rabu malam."

An langsung mengerti. Jadi ini soal itu. Dokter Djono menggeser beberapa lembar laporan ke arah tengah meja. "Keluarga pasien atas nama Naufal Ardiansyah mengajukan komplain resmi."

An mengingat nama itu. Pasien laki-laki berusia dua puluh tahun. Datang dengan keluhan nyeri perut. Kondisi stabil, tanda vital baik. Masuk kategori tidak gawat darurat. "Baik, Dok."

"Mereka menganggap pelayanan IGD tidak profesional."

An mengernyit. "Karena?"

Dokter Djono menatapnya. "Karena pasien merasa diabaikan selama hampir dua jam."

An langsung menggeleng pelan. "Itu tidak benar, Dok."

"Kamu bisa jelaskan?"

An menarik napas dalam. Mencoba menjelaskan secara runtut. "Hari itu pasien datang pukul 18.42. Saat proses triase, kondisi pasien stabil. Kesadaran compos mentis, tekanan darah normal, saturasi baik, tidak ada tanda syok, tidak ada perdarahan, tidak ada kondisi yang mengancam nyawa." Ia membuka catatan rekam medis dari tabletnya sendiri. 

"Pada waktu yang sama terdapat pasien kejang anak, pasien sesak napas dengan penurunan saturasi, pasien hipertensi emergensi, dan korban kecelakaan lalu lintas." Ruangan kembali hening. "Jadi saya memprioritaskan pasien berdasarkan tingkat kegawatdaruratan."

Dokter Rizky mengangguk. "Itu benar, Dok. Saya juga bertugas malam itu."

An melanjutkan. "Pasien tetap diperiksa. Tetap mendapatkan evaluasi. Tetap mendapatkan terapi simptomatik. Hanya saja memang tidak menjadi prioritas utama karena ada beberapa pasien yang kondisinya lebih kritis."

Dokter Djono menyandarkan tubuhnya. "Masalahnya bukan itu." An menatap beliau dengan bingung. "Keluarga pasien merasa diperlakukan berbeda."

"Saya memperlakukan seluruh pasien sama, Dok."

"Keluarga pasien tidak merasa demikian."

An mulai merasakan sesuatu yang tidak nyaman. Karena arah pembicaraan ini terasa aneh. "Boleh saya bertanya?" katanya akhirnya.

Dokter Djono mengangguk. "Silakan."

"Apakah komplain ini muncul karena proses medis yang saya lakukan salah?" Ruangan mendadak sunyi. An melanjutkan. "Apakah ada tindakan yang tidak sesuai SOP?" Tidak ada jawaban. "Apakah ada keterlambatan terapi yang membahayakan pasien?"

Masih tidak ada jawaban. Karena memang tidak ada. Dokter Rizky bahkan ikut berbicara. "Secara medis tidak ada kesalahan, Dok."

Kepala Pelayanan Medis yang sejak tadi diam akhirnya bersuara. "Masalahnya, keluarga pasien merasa tidak dihargai."

An mengernyit. "Dalam arti?"

"Mereka menganggap pasien lain diprioritaskan."

"Tapi memang pasien lain lebih gawat."

Lihat selengkapnya