An datang tepat waktu ke rumah sakit. Mengenakan jas putihnya seperti hari-hari sebelumnya. Menyapa perawat yang berpapasan di koridor. Mengecek daftar pasien VIP yang harus ia kunjungi pagi itu. Semuanya tampak normal. Setidaknya sampai ia mulai merasa ada yang berbeda. Beberapa orang menoleh terlalu lama saat melihatnya. Dua perawat yang sedang berbincang mendadak diam ketika An lewat. Bahkan salah satu koas yang biasanya selalu ceria menyapanya hari itu hanya mengangguk canggung. Awalnya An mengira dirinya terlalu sensitif.
Sampai ketika ia memasuki nurse station VIP Raflesia. Suasana di sana terasa aneh. Dan saat An datang, percakapan mereka langsung berhenti. An mengernyit bingung. "Ada apa?"
Tidak ada yang langsung menjawab. Malah salah satu perawat senior terlihat ragu-ragu sebelum akhirnya mengalihkan pandangan. Perasaan tidak enak mulai muncul. Tepat saat itu suara langkah kaki terdengar cepat dari ujung koridor. Radit datang masih mengenakan kemeja tanpa jas dokternya. Dokter bedah itu berjalan cukup tergesa hingga membuat An refleks menoleh.
"An. Apapun yang lo lihat hari ini…” An mulai merasa tidak nyaman. “Lo nggak boleh panik. Oke?"
Kalimat itu justru membuat An semakin bingung. "Ada apa sih, Dok?"
Radit menghela napas panjang. Tangannya menggenggam ponsel cukup erat. "Sekarang jangan buka media sosial dulu."
An langsung mengernyit. “Kenapa?” An mengambil ponselnya dari saku jasnya. Larangan adalah perintah bagi An. Radit sendiri tampak hendak menghentikan aksi An. Tapi dia juga tidak berhak melarangnya. Akan lebih baik gadis itu mengetahuinya sekarang daripada terlambat.
Tangan An langsung membeku. Matanya membaca cepat isi berita itu. "Ini..." Suara An bahkan nyaris tidak keluar.
“Gue tahu lo nggak salah, oke?” Radit mencoba untuk menenangkan An. Dia melihat perubahan ekspresi An yang sangat terkejut. Radit akhirnya menjelaskan pada An untuk tetap profesional dan tidak perlu mendengarkan opini publik.
An sudah tahu ini arahnya ke mana. Bahkan dia sudah menebak kalau hari ini akan terjadi. Keputusannya menolak untuk meminta maaf kepada pasien karena merasa dirinya tidak salah memang akan menjadi kasus panjang seperti ini. Tapi An sudah siap. Setidaknya dia sudah menyiapkan mentalnya.
"Gue nggak apa-apa kok, Dok."
***
Radit dan Rizky berdiri di depan meja kerja Dokter Djono dengan wajah yang sulit disembunyikan kekesalannya. Rizky masih menggenggam sebuah tablet yang menampilkan berita yang sejak subuh tadi sudah beredar ke mana-mana. Dokter Djono sendiri masih duduk di kursinya. Berusaha terlihat tenang meskipun sejak pagi teleponnya tidak berhenti berdering.
"Jadi kita mau diam aja?" tanya Radit akhirnya.
Djono menghela napas pelan. "Kita masih mengumpulkan informasi."
"Kita sudah punya informasinya dari kemarin, Dok."
"Tapi kita tetap harus hati-hati."
"Hati-hati sampai kapan?"