Ruangan kerja Heksa sore itu terasa jauh lebih penuh dari biasanya. Bukan karena jumlah orang yang hadir terlalu banyak. Melainkan karena suasananya. Hari itu semuanya duduk dengan ekspresi yang hampir sama. Heksa duduk di kursi sambil membaca beberapa berkas yang baru saja dikirimkan An melalui surel rumah sakit. Di sebelahnya, Jehan menyandarkan tubuh ke sofa dengan kedua tangan terlipat di dada. Gilang duduk tepat di samping An yang sejak tadi lebih banyak diam. Sedangkan Melody memilih duduk di kursi paling ujung sambil sesekali memeriksa perkembangan berita di ponselnya.
Beberapa detik berlalu tanpa suara. Hingga akhirnya Melody yang lebih dulu memecah keheningan. "Ini naiknya cepet banget." Semua langsung menoleh. Melody menggeser layar ponselnya ke tengah meja. "Empat jam lalu masih akun lokal. Sekarang udah masuk akun-akun berita nasional."
Jehan langsung mendecak pelan. “Gue yakin mereka udah nyiapin ini. Terorganisir.”
“Menurut gue juga.” Melody mengangguk. “Kalau organik nggak mungkin secepat ini.”
An menatap layar itu sebentar lalu memalingkan wajahnya. Ia bahkan sudah tidak ingin membaca komentar-komentar yang muncul di bawah berita tersebut.
Heksa yang sejak tadi diam akhirnya meletakkan berkas di tangannya. Heksa menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Berarti masalahnya bukan di tindakan medis. Tapi di narasi.”
Semua langsung memperhatikan Heksa. "Mereka bukan marah karena tindakan An. Mereka marah karena cerita yang mereka dengar." Heksa mengambil ponselnya lalu membuka salah satu artikel. "Coba lihat." Ia memutar layar ke arah mereka. "Di sini nggak ada satu kalimat pun yang menjelaskan kondisi pasien lain di IGD."
Jehan langsung mengangguk. "Jadi mereka cuma jual emosi."
“Yes.” Heksa menunjuk ke layar. “Makanya orang awam pun gampang terpengaruh.”
Melody menghela napas panjang. "Yang bikin gue kesel, mereka udah mulai nyerang akun pribadi An.”
Jehan langsung menggeleng. “Netizen emang kadang nggak punya kerjaan, sih.”
An tertawa kecil. Mendengar kalimat itu justru membuatnya sedikit lebih tenang. Meski jutaan orang menghujatnya, dia masih memiliki empat orang di ruangan ini yang berani bercanda di tengah situasi seperti ini.
Gilang yang sejak tadi diam akhirnya bicara. "Jadi sekarang apa?" Semua menoleh kepadanya. "Apa yang harus kita lakuin?"
Heksa tidak langsung menjawab. Ia menatap An lebih dulu. “Lo mau lawan atau nggak?”
Pertanyaan itu membuat ruangan kembali sunyi. An menatap Heksa sebelum menunduk sebentar. Gadis itu berusaha mencari jawabannya sendiri. Beberapa detik kemudian ia mengangkat kepalanya lagi. Tatapannya jauh lebih tegas dibanding saat pertama datang tadi.
“Gue nggak mau minta maaf.” Kalimat itu keluar tanpa ragu. “Gue nggak akan minta maaf untuk sesuatu yang nggak gue lakukan.”
Tidak ada satupun orang di ruangan itu yang terlihat terkejut. Karena mereka sudah mengenal An terlalu lama. Mereka tahu mungkin An adalah orang pemaaf, tapi untuk urusan prinsip, An jauh lebih keras kepala dibandingkan siapapun.
Senyum tipis akhirnya muncul di wajah Heksa. Senyum yang membuat Jehan tahu bahwa sahabatnya itu sudah mulai menyusun sesuatu di kepalanya. “Bagus.” Heksa menutup map di depannya.
Heksa tidak langsung melanjutkan pembicaraan. Ia justru mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Semua orang mengira ia sedang membalas pesan atau memeriksa sesuatu. Namun, laki-laki itu malah menekan sebuah nomor lalu mengangkat ponselnya ke telinga. "Bawa berkasnya ke ruangan saya sekarang." Telepon langsung ditutup.