The Last Destination

Firsty Elsa
Chapter #41

Perang Dimulai

Tiga hari kemudian, yang rasanya sudah seperti tiga minggu bagi Anasera. Dalam tiga hari itu, hidupnya berubah jauh lebih cepat dibanding yang pernah ia bayangkan. Naanya masih terus menjadi trending topic di media sosial. Kolom komentar di akun media sosialnya juga semakin ramai. Berita yang awalnya hanya muncul di satu akun kini sudah menyebar ke mana-mana. Potongan video, tangkapan layar, opini, hingga asumsi publik berkembang tanpa kendali. Semakin banyak orang yang ikut berbicara meskipun tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. 

An tidak bisa melakukan apa pun. Pihak rumah sakit melarangnya memberikan pernyataan pribadi selama proses internal berlangsung. Sementara An sendiri memang tidak berniat membuat klarifikasi. Baginya, menjelaskan sesuatu kepada orang yang ingin memahami adalah hal yang berbeda dengan membela diri kepada orang yang sejak awal ingin menghukummu.  Pagi itu, An sedang duduk sendirian di meja makan apartemennya. Secangkir teh hangat mulai mendingin di hadapannya. Ponselnya yang tergeletak di atas meja tiba-tiba bergetar. 

Power Ranger

Heksa: Laporannya udah naik

Melody: Kamu serius sayang?

Jehan: Maksudnya naik gimana, Sa?

Gilang: Statusnya apa sekarang?

Melody: Sayang jelasin dulu, aku bangun tidur. Nggak paham.

Heksa: Rudi beneran masukin laporan ke hukum. Nomor registrasinya juga udah keluar

Jehan: Terus gimana, Sa?

Heksa tidak langsung membalas. Kemungkinan sedang sibuk atau sengaja membuat semua orang penasaran. Anasera sebenarnya orang paling penasaran itu. Tak lama, balasan berikutnya muncul. 

Heksa: Gue nggak bisa cerita detail di grup. 

Heksa: Tapi intinya sekarang posisi kita nggak cuma bertahan

Heksa: Kita juga mulai nyerang balik, An. @Anasera 

An menatap layar ponselnya beberapa detik. Kalimat Heksa terasa aneh setelah dibaca berkali-kali. Seumur hidupnya, An bukan orang yang suka melawan. Ia lebih sering mengalah dan diam. Lebih sering memilih mundur daripada memperpanjang konflik. Tapi kali ini, ia juga harus mempertahankan posisinya untuk kebenaran. Ia tidak boleh lemah. Ponselnya kembali bergetar. Kali ini panggilan dari Melody. 

“Sore lo di apart nggak, An?” tanya Melody di seberang sana. An bisa mendengar nada serak dari Melody khas bangun tidur. “Pengacara gue mau ketemu sore ini.”

“Mel…” An mengeryit mendengar pernyataan terakhir dari Melody. “Serius banget ya?”

“An, nama lo lagi dibahas satu negara. Gue cuma mau lo aman dari segala sisi, oke?”

An hanya bisa menghela napas panjang. Kadang ia lupa bahwa sahabatnya itu adalah seorang aktris yang hidup di tengah dunia publik. Melody mungkin jauh lebih memahami bagaimana opini publik bekerja dibanding siapa pun di antara mereka.

***

Sore itu, setelah semua pekerjaannya selesai, Heksa tidak langsung meninggalkan kantor.  Sebagian besar pegawai sudah mulai meninggalkan ruangan masing-masing. Lorong yang biasanya ramai kini jauh lebih tenang. Hanya beberapa orang yang masih bertahan di depan layar komputer atau membawa setumpuk berkas menuju ruang arsip.

Di tangan Heksa masih ada map cokelat yang sejak tadi belum sempat ia buka. Langkahnya berhenti di depan sebuah ruangan. Tanpa mengetuk, ia langsung masuk.

"Gue kira siapa anjir, main masuk aja," gumam seseorang dari dalam.

Heksa terkekeh kecil. Di balik meja kerja yang penuh berkas itu, duduk seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun. Jaksa senior yang sudah cukup lama bekerja dengannya. Arga Pratama. Orang yang sejak beberapa hari terakhir membantu Heksa menggali informasi mengenai Rudi Ardiansyah.

Lihat selengkapnya