"Mulai aja, Dok," kata Alfa.
Dokter Rizky mengangguk. Ia langsung membuka laptopnya dan menyambungkannya ke layar televisi besar di depan ruangan. Beberapa detik kemudian, rekaman CCTV IGD muncul. Tidak ada seorang pun yang menyela selama video diputar. Mereka melihat sendiri bagaimana situasi sore itu. Semua pandangan fokus pada layar TV dan sesekali mereka juga mencatat bagian-bagian penting. Hampir empat puluh menit berlalu sebelum akhirnya video terakhir selesai diputar.
Alfa menutup map di hadapannya perlahan. "Kalau boleh jujur," katanya sambil melepas kacamatanya, "setelah melihat seluruh rekaman ini, saya justru heran kenapa kasus ini bisa berkembang sejauh ini."
"Karena lawannya pejabat," sahut Jehan cepat.
Alfa mengangguk. “Masyarakat hanya melihat potongan cerita di media sosial yang sengaja diperlihatkan.”
Dokter Putra ikut menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Dari sisi etik profesi, saya tidak menemukan pelanggaran yang dilakukan Dokter Anasera."
Kalimat itu membuat An yang sejak tadi diam akhirnya mengangkat kepala. Dokter Putra melanjutkan, "Kalau ada pasien datang ke IGD, prioritas diberikan berdasarkan kondisi medis. Bukan jabatan, bukan kekayaan, dan bukan siapa keluarganya."
"Artinya?" tanya Melody.
"Artinya, keputusan triase yang diambil Dokter Anasera sudah sesuai standar."
An hanya menunduk kecil. Entah kenapa, mendengar pembelaan dari orang-orang yang benar-benar memahami profesinya membuat dadanya terasa sedikit lebih ringan.
Alfa membuka catatannya lagi. "Kalau begitu, posisi kita sekarang cukup jelas."
"Gimana maksudnya, Pak?" tanya Melody.
"Masalah kita sekarang bukan lagi mencari siapa yang benar." Semua orang menatap ke arahnya. "Karena faktanya sudah jelas. Yang harus kita pikirkan sekarang adalah bagaimana menghadapi laporan yang sudah masuk."
Dokter Putra mengangguk setuju. "Perlu dipahami juga bahwa saat ini kasusnya sudah berkembang. Ini bukan lagi sekadar keluhan keluarga pasien."
"Sudah jadi opini publik," sambung Dokter Rizky.
"Betul." Dokter Putra menoleh ke arah An. "Dan yang saya khawatirkan justru itu. Karena sekarang masyarakat tidak sedang menilai fakta. Mereka sedang menilai narasi."
Alfa menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Itulah kenapa saya bilang kasus ini sudah berbeda. Kita tidak hanya berhadapan dengan laporan hukum. Kita juga sedang menghadapi pembentukan opini."
Gilang yang sejak tadi diam akhirnya ikut bersuara. "Jadi intinya, meskipun nanti kita menang di pengadilan, nama An belum tentu langsung bersih?"
"Benar." Jawaban Alfa terdengar cepat. "Bahkan bisa saja menang secara hukum, tapi masyarakat tetap percaya bahwa An bersalah."
"Halah." Jehan mengusap wajahnya kasar. "Kenapa makin ribet sih."
"Karena lawannya bukan orang biasa," jawab Heksa akhirnya.
Semua menoleh. Sejak tadi Heksa memang lebih banyak mendengarkan dibanding berbicara. Laki-laki itu masih berdiri di dekat jendela sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. "Kita harus mulai menerima satu fakta bahwa Rudi tidak sedang mencari keadilan.”
Ruangan mendadak sunyi. Karena semua orang tahu ucapan itu benar.
Melody bahkan langsung mengangguk setuju dengan ucapan kekasihnya itu. “Sebenarnya saya sudah curiga sih.”