The Last Destination

Firsty Elsa
Chapter #43

Panggung Kekuasaan

Malam itu, Rudi Ardiansyah sedang duduk di salah satu ruangan privat sebuah restoran eksklusif di Jakarta Selatan. Tempat itu cukup terkenal di kalangan pejabat, pengusaha, dan orang-orang yang lebih suka menyelesaikan urusan penting tanpa sorotan kamera. Di meja bundar tersebut duduk enam orang. Seorang pengusaha properti. Seorang pengacara senior. Dua anggota dewan. Dan seorang pria paruh baya dari lingkungan penegakan hukum yang sudah lama menjadi kenalan Rudi.

"Dokter itu gimana kabarnya sekarang?"

Rudi tersenyum kecil sambil mengaduk kopinya. "Masih ramai."

"Belum klarifikasi?"

"Belum."

"Berani juga."

Rudi justru terlihat santai. "Biarkan saja." Menurutnya, semakin lama An diam, semakin besar ruang bagi publik untuk membentuk kesimpulan sendiri.

"Rumah sakit juga nggak bergerak?" tanya salah satu anggota dewan.

Rudi menggeleng. "Direkturnya cukup pintar. Dia tahu kapan harus menyelamatkan institusi." Kalimat itu langsung dipahami oleh semua orang di meja tersebut. Skors yang diberikan kepada An sudah cukup menjadi sinyal bahwa rumah sakit memilih menjaga nama lembaga terlebih dahulu. Dan itu menguntungkan Rudi.

Namun, pria paruh baya yang sejak tadi diam justru tidak terlihat setenang yang lain. Ia meletakkan gelasnya perlahan. "Saya rasa Bapak jangan terlalu cepat puas."

Rudi menoleh. "Kenapa?"

"Berdasarkan informasi yang saya dapat…” Pria itu berhenti sebentar. "Lawan Anda bukan cuma dokter muda itu."

Rudi mengangkat alis. Suasana meja perlahan berubah menjadi lebih serius. "Maksudnya?"

"Dokter itu punya relasi yang cukup kuat."

Salah satu pengusaha langsung tertawa kecil. "Semua orang juga punya relasi."

"Bukan relasi biasa." Kali ini nada bicara pria itu terdengar lebih tegas. "Anda kenal Heksa Mahendra?"

Nama itu membuat dua orang di meja saling melirik. Sedangkan Rudi tampak berpikir beberapa saat. Seolah pernah mendengarnya. Tapi belum terlalu mengenal. "Jaksa itu?"

Pria tersebut mengangguk. "Iya."

Rudi menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Masih muda."

"Itu yang justru berbahaya." Jawaban itu membuat meja kembali hening. "Anda mungkin melihat dia hanya sebagai jaksa muda. Tapi di internal, namanya cukup diperhitungkan."

"Kenapa?" tanya salah satu anggota dewan.

"Karena dia tidak takut pada siapa pun." Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, cukup membuat beberapa orang berpikir. Pria itu melanjutkan. "Beberapa kasus besar yang dia tangani dulu sebenarnya tidak banyak orang berani sentuh. Tapi dia berani menyentuhnya sampai tuntas. Beberapa nama yang secara politik kuat pernah dia lawan."

Rudi mulai mempersempit tatapannya. Ia terlihat benar-benar tertarik. "Dia sekuat itu?"

Pria tersebut menghela napas. "Saya tidak akan bilang dia orang paling kuat. Tapi dia punya sesuatu yang lebih berbahaya."

"Apa?"

"Dia tidak punya alasan untuk takut."

Suasana kembali sunyi. Semua orang di ruangan itu paham maksudnya. Orang yang memiliki jabatan tinggi biasanya punya sesuatu yang harus dijaga. Sedangkan orang seperti Heksa, justru dikenal karena terlalu sering mengambil risiko.

"Selain itu," lanjut pria tersebut, "relasinya luas. Orang tuanya berpengaruh. Namanya cukup dikenal di pusat."

Senyum tipis di wajah Rudi perlahan memudar. Jarinya mengetuk meja pelan. "Lalu apa hubungannya dengan dokter itu?"

Pria tersebut menatap Rudi. "Menurut informasi yang saya dapat, Heksa Mahendra sedang bergerak."

"Untuk siapa?"

"Demi dokter itu."

Ruangan mendadak hening. Tidak ada yang langsung berbicara. Rudi akhirnya tersenyum kecil. Namun kali ini senyumnya berbeda. "Menarik."

Ia mengambil ponselnya perlahan. Lalu bersandar ke kursi. "Kalau begitu..." Tatapannya turun pada layar yang baru saja menyala. "Saya juga mulai penasaran."

Lihat selengkapnya